Marketing Produk Sehat

Suatu hari di Garuda Executive Lounge di Bandar Udara Soekarno-Hatta. Ketika hendak mengambil minuman, saya lihat kebanyakan tamu mengambil gula rendah kalori. Begitu juga saya.

Seorang tamu di sebelah saya lantas menyeletuk, “Kayaknya sekarang orang lebih suka gula rendah kalori ya. Padahal isinya juga mungkin sama aja. Kesuksesan marketing nih.” Setelah ngomong begitu, si tamu tadi juga mencomot gula rendah kalori untuk pemanis minumannya.

Asumsinya tidak salah. Setidaknya di tempat tersebut, stok gula rendah kalori lebih banyak, tiga kali lipat ketimbang gula biasa. Menurut cerita pelayan di sana, pengunjung memang lebih suka diet sugar. Continue reading “Marketing Produk Sehat”

Healthy Life with Green Lifestyle

Jumat lalu ada pengumuman tentang pemadaman listrik di sejumlah wilayah di Jabodetabek. Kantorku di wilayah Mega Kuningan, Jakarta, juga kebagian giliran padam listrik. Untuk menghemat listrik, alasannya.

Aha, krisis listrik sudah dimulai. Dan krisis daya ini seakan melengkapi krisis-krisis yang lain di negeri ini, yang sebelumnya sudah akrab dengan kita. Sebut saja krisis ekonomi moneter, krisis air dan udara bersih, krisis moral, krisis BBM, dan masih banyak lagi.

Akhir tahun lalu, di Bali, digelar konferensi dunia yang membahas tentang pemanasan global dan dampaknya bagi bumi ini. Betapa mengerikan melihat dampak pemanasan global akibat pelbagai pembangunan yang tidak mengindahkan alam. Tak heran jika alam pun memberontak dan yang kita rasakan adalah bencana alam yang tak kunjung usai, musim dan cuaca yang mulai sulit diprediksi. Itu semua merupakan potret dari dampak dari pemanasan global. Continue reading “Healthy Life with Green Lifestyle”

Media Baru Beriklan

Jumlah pengguna telepon mobile di dunia ada sekitar 3,3 miliar, sementara pengguna internet 1,1 miliar. Di Indonesia, sampai akhir 2007 lalu tercatat ada 100 juta pelanggan selular (termasuk FWA). Sementara, menurut data APJII, pengguna internet di Indonesia pada 2007 mencapai 25 juta, naik 39 persen dari 2006 yang 18 juta.

Di Indonesia, jumlah pelanggan selular yang 100 juta, atau naik sekitar 20 persen dari akhir 2006 yang mencapai 70 juta, adalah potensi yang sangat besar bagi pemasar. Apalagi dengan gaya hidup mobile di metropolitan, mengakibatkan ponsel nyaris tak pernah lepas dari tangan pemiliknya.

Istilah lebih baik ketinggalan dompet ketimbang ketinggalan ponsel memang tak berlebihan. Saat ini, masyarakat jauh lebih sering membuka ponsel ketimbang dompet, ya untuk telepon, atau sekadar berkirim SMS, membaca pesan. Bahkan, dengan kemajuan teknologi seperti 3G dan 3,5G memungkinkan kita mengakses Internet melalui ponsel, seperti email, video call, chatting, browsing, bahkan blogging. Belum lagi menjamurnya kegiatan blogging di tanah, yang diyakini sebagai cikal bakal citizen journalism, juga meningkatkan akses via mobile. Continue reading “Media Baru Beriklan”

Candu Baru Bernama Sepeda Lipat

sepeda-1.jpgLaptop, Smartphone, iPod, PDA, Blackberry, sudah jamak ditenteng kalangan profesional muda di metropolitan. Peranti yang mencitrakan technology savvy bagi penggunanya itu memang terkesan plug in bagi para eksekutif “meltek” (melek teknologi).

Tapi, selalu ada yang kurang, instrumen teknologi itu tidak bisa mewakili simbol sporty, meski pemakainya rajin ke fitness center.

Lalu, pencarian kaum takut matahari –- berangkat kerja saat matahari belum terbit dan pulang kantor saat matahari sudah tenggelam — ini bertemu dengan sepeda lipat, alias folding bike. Continue reading “Candu Baru Bernama Sepeda Lipat”

The Power of Blackberry

Pekan lalu adalah masa yang lumayan sibuk buatku. Sejak awal minggu, isinya hanya meeting dan meeting terus.henry.jpg

Kamis pukul 04.00 aku sudah meninggalkan rumah untuk mengejar pesawat pukul 06.10 ke Bali, untuk meeting (lagi).

Jumat, aku pulang dari Bali, dan sengaja pilih flight siang (pukul 13.00 waktu Bali) dengan pertimbangan masih sempat ke kantor, dan bisa ikutan sarasehan blogger, yang diselenggarakan Dagdigdig, sebuah free blog hosting lokal di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

Manusia punya rencana, alam pun punya mau yang lain. Saat penerbangan sudah sekali kepak sayap sampai Jakarta (tepatnya di atas Indramayu), pimpinan penerbangan mengumumkan bahwa pesawat kami (GA 407) tidak bisa mendarat di Cengkareng. Waks! Continue reading “The Power of Blackberry”

Mikul Dhuwur, Mendhem Jero

Beberapa minggu lalu, di milis Forum Pembaca Kompas( FPK) sempat ada kuis iseng-iseng yang dilontarkan oleh salah seorang anggota. “Apa yang kita ingat tentang Soeharto?” begitu pertanyaannya.

Jawabannya banyak dan beragam, ada yang positif ada pula yang negatif. Kebetulan mantan orang nomor 1 di Indonesia memang sedang dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, sejak 4 Januari, karena penumpukan cairan di paru-paru.

Belakangan disebut Pak Harto mengalami kegagalan multiorgan. Bahasa sederhananya, sakit tua. Ia bahkan sempat dikabarkan sudah meninggal pada Ahad lalu.

Hari Minggu, 27 Januari, pukul 13.30 WIB, saat berbelanja di Carrefour, saya dapat SMS dari seorang kawan yang mengabarkan Pak Harto telah wafat. Tiba-tiba rekaman ingatan saya tentang Pak Harto muncul dalam benak saya, seperti ketika saya mencoba menjawab pertanyaan di milis FPK. Continue reading “Mikul Dhuwur, Mendhem Jero”

Positioning Kampanye Wisata Indonesia

Hingga minggu ketiga Januari 2008, saya masih belum mampu memahami betul arti kampanye “Visit Indonesia Year 2008” yang diluncurkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia Jero Wacik pada akhir 2007.

Mungkin karena untuk urusan ini saya agak kurang cerdas atau masih kaget karena sebelumnya membaca berita peluncuran website resmi Visit Indonesia Year 2008, yang kabarnya menelan biaya Rp 17,5 miliar.

Tahun kunjungan wisara tahun ini — kalau melihat tagline yang menyertai logonya — terkait dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Pemanfaatkan momentum memang tidak salah, tapi apa maknanya bagi target pasar yang ingin digaet, yaitu wisatawan asing maupun nusantara?

“So what gitu lho?” begitu komentar sejumlah kawan yang saya tanya tentang arti “Celebrating 100 Years of National Awakening” yang menyertai logo Visit Indonesia Year 2008. Continue reading “Positioning Kampanye Wisata Indonesia”

Mengapa Bank Mandiri Ganti Logo

Begitulah berita yang seda marak ditulis di pelbagai media beberapa hari belakangan ini. Rencana ganti logo bank terbesar di Indonesia ini sempat jadi bahan perbincangan di sejumlah milis, terutama, karena biayanya yang kabarnya mencapai Rp 40 miliar. Cukup spektakuler, dan “mengguncang” apalagi berita ini menggema di tengah pelbagai bencana sedang melanda negeri ini.

Pertanyaan mendasarnya: ngapain ganti logo lagi?

Kebetulan dalam satu kesempatan minggu lalu, saya sempat berbincang dengan salah satu petinggi Bank Mandiri tentang penggantian logo tersebut. Dari petinggi itulah saya mendapatkan penjelasan tentang alasan penggantian logo.

Pertama-tama, menurut petinggi itu, setelah hampir 10 tahun beroperasi menggunakan nama Bank Mandiri dan logonya, manajemen Bank Mandiri merasa persepsi masyarakat tentang bank tersebut adalah bank untuk segmen korporat, bukan untuk retail market.

Continue reading “Mengapa Bank Mandiri Ganti Logo”

Hot Spot Gratis Juga Perlu Strategi Pemasaran

Ratusan hotspot tak mampu pikat pengguna internet Jatim. Judul tulisan di detiknet Jumat lalu sangat menggelitik. Bayangkan, dalam kurun enam bulan Telkom berhasil memasang hot spot atau jaringan internet nirkabel ini di 38 alun-alun di kota dan kabupaten serta di 300 titik kota Surabaya yang tersebar di mal, sekolah dan tempat-tempat umum. Sebuah usaha yang layak diacungi jempol. Namun, hasil evaluasinya dianggap mengecewakan.

Mengapa? Communication Manager Telkom Jawa Timur Djadi Soegiarto mengatakan dari pertengahan hingga akhir tahun 2007, peningkatan penetrasi internet di Jawa Timur tidak sampai 1 persen.

“Peningkatannya tidak signifikan, padahal gratis,” ujarnya. Continue reading “Hot Spot Gratis Juga Perlu Strategi Pemasaran”

Resolusi 2008? Apa ya …

terompet-lisa Resolusi. Menjelang akhir tahun, kata itu menjadi sering diucap orang. Di televisi kerap ditayangkan resolusi si artis ini dan artis itu, atau resolusi si pejabat anu, dan masih banyak lagi. Bahkan, kerap juga kawan-kawan bertanya padaku, “Apa sih resolusimu di tahun 2008?”

Pertanyaan yang singkat, tapi tak mudah untuk dijawab secara singkat dan cepat. Setidaknya itu buatku. Apa ya…? Biasanya begitu reaksiku, lalu berpikir lama sebelum menjawab.

Tidak seperti target perusahaan tahun depan, yang biasanya sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum bulan memasuki angka ke-12, misalnya penjualan ditargetkan naik 30 persen, pencapaian pribadi tahun depan lebih banyak dibiarkan mengalir seperti air. Karena itu, sejujurnya aku kagum pada orang-orang yang mampu dengan lantang dan cepat menjelaskan apa saja resolusinya tahun depan. Continue reading “Resolusi 2008? Apa ya …”