Belajar dari Perjalanan Hidup Seorang Nadiem Makarim

Nama Nadiem Makarim sedang ramai diperbincangkan. Media sosial pun terbelah: banyak yang bersimpati, ada yang mengkritik, dan tidak sedikit yang bertanya sinis: mengapa seorang pengusaha sukses memilih masuk ke dunia birokrasi yang sarat politik?

Namun ada cara lain melihatnya: bukan sekadar menilai tentang benar atau salah, melainkan membaca sebuah perjalanan hidup sebagai pelajaran bagi generasi muda Indonesia.

Ketika Viral Menjadi Hukuman Seumur Hidup

Di era media sosial, kesalahan manusia tidak lagi berumur pendek. Dulu, sebuah kekeliruan mungkin hanya menjadi bahan obrolan sesaat, lalu perlahan dilupakan. Hari ini berbeda. Satu potongan video beberapa detik dapat beredar tanpa henti, direkam ulang, disimpan, dibagikan kembali, dan muncul lagi bertahun-tahun kemudian. Internet tidak pernah benar-benar lupa.

Satu Hari, 10 Outlet

Ada yang bilang perempuan kalau jalan-jalan (baca: belanja) itu lama. Kami membuktikan sebaliknya.

Dalam satu hari, genk strength Kamis Manis coach Valas, berhasil tek-tok Jakarta–Bandung PP dan mengunjungi 10 outlet. Ya, sepuluh. Bukan typo. Dan semuanya dilakukan oleh 13 perempuan yang biasanya latihan strength — ternyata bukan cuma kuat angkat beban, tapi juga kuat jalan, makan, dan belanja.

Setia Dalam Perkara Kecil

Sering kali kita mengukur keberhasilan dari hal besar: jabatan, pencapaian, atau pengakuan orang. Namun hidup justru berkali-kali mengingatkan bahwa Tuhan bekerja melalui hal-hal yang tampak kecil dan sederhana.

Saya pernah membaca kisah Bambang Rachmadi. Banyak orang mungkin salah paham ketika melihat seorang mantan petinggi bank besar mengenakan kaos kasual dan membersihkan meja di sebuah outlet McDonald’s di Singapura. Sepintas terlihat seperti kemunduran. Padahal ia sedang menjalani on the job experience, sebuah proses belajar dari dasar untuk memperoleh lisensi usaha.
Seorang pemimpin besar bersedia kembali menjadi pelayan.

My Weekend Getaway: Jogja International Heritage Walk 2025

Akhir pekan lalu  saya memilih getaway yang berbeda: ikut Jogja International Heritage Walk 2025 tanggal 15–16 November. Sejak awal saya dan teman-teman eks Camino de Santiago  sepakat untuk menjalani program ini secara penuh—dua hari, masing-masing 20 km—menyusuri alam dan budaya Jogja di dua area berbeda, selatan dan utara. Setiap hari punya ceritanya sendiri.

Pause and Breathe

Kadang hidup terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kita terus berlari dari satu urusan ke urusan lain, mengejar tenggat, janji, dan ekspektasi — kadang sampai lupa bertanya apakah kita masih berjalan di arah yang benar atau tidak. Dalam pusaran kesibukan itu, tubuh bekerja tanpa henti, pikiran terus berputar, dan hati mulai kehilangan rasa.

Steps of Life: Between Running and Dancing

Dalam kehidupan yang sering terasa padat dan menekan, dua aktivitas sederhana — berlari dan menari — bisa menjadi cara kita untuk menemukan kembali ritme hidup yang sehat dan penuh sukacita. Di tengah rutinitas yang menuntut banyak hal dari tubuh dan pikiran, berlari dan menari mengingatkan kita untuk kembali pada esensi: bergerak, bernapas, dan menikmati kehidupan apa adanya.

Camino de Santiago, Berjalan Menelusuri Hati (bagian 4)

Hari ke 6 : O Pedrouzo – Santiago, Kamis 17 April 2025 19.2 km

Teman hidup saya selalu mengingatkan untuk minum 1 butir pil  asam mefenamet usai berjalan panjang. Hasilnya saya bisa tidur nyenyak, ketegangan kaki jauh berkurang dan bangun dengan tubuh lebih segar. Dan itulah yang saya lakukan setiap malam sepanjang hari-hari peziarahan. Dan memang untuk perziarahan ini, saya menyiapkan obat, vitamin dan aneka krim/semprotan untuk kaki yang lumayan komplit. Sehingga oleh kawan-kawan segrup saya dijuluki: ibu apotek.

emergency kit yang selalu ada di ransel
‘jampi jampi’ untuk kaki yang lelah