Commuters + ICT = Citizen Marketers

Setiap pagi jutaan orang menyerbu Ibu Kota Jakarta. Mereka dari pinggiran (atau istilahnya: Jakarta coret), seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Mungkin saja sejak subuh mereka sudah mulai menggerakkan langkahnya menuju tempat mereka bekerja, menghabiskan waktu antara 1- 3 jam, di tengah macet dan padatnya jalanan.

Mereka kita sebut sebagai kaum penglaju (commuters), orang-orang yang pulang pergi setiap hari untuk bekerja. Yang menarik dicemati adalah apa yang mereka lakukan selama dalam perjalanan, yaitu mencari dan berbagi informasi dan berkomunikasi.

Di KA eksekutif, misalnya, penumpang umumnya menghabiskan waktu dengan mengobrol dengan sesama penumpang, membaca koran, menelpon, berkirim SMS, chatting, dan tak jarang traksaksi bisnis pun terjadi.

Di kendaraan pribadi, perilakunya juga mirip, hanya mereka memiliki keleluasan lebih. Selain membaca koran, sembari mendengar radio atau memonitor berita pagi melalui TV mobilnya, mereka juga bisa browsing email via gadget-nya. Continue reading “Commuters + ICT = Citizen Marketers”

I Love Batik, Are You?

Batik sedang booming. Di mana-mana, terutama di metropolitan, terlihat orang-orang pakai batik. Ya lelaki, perempuan, tua muda, bahkan para remaja. Tak cuma di acara-acara resmi (menghadiri perkawinan, dan lainnya), tapi juga di kantor-kantor, jalan-jalan di mal.

batik.jpg

Tak dinyana, batik yang selama ini dianggap busana tradisional, telah melejit jadi “seragam” sehari-hari. Model dan warnanya pun makin beragam dan cute. Continue reading “I Love Batik, Are You?”

Memaknai Kartini di Era Informasi Tanpa Batas

>> Kartini ternyata juga ngeblog.

Hari ini, tepat 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Raden Ajeng Kartini lahir di Jepara Jepara 21 April 1879 dan meninggal di Rembang 17 September 1904 . Dia seorang tokoh Jawa dan pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Sejak pagi, di radio-radio, sekolah-sekolah bahkan sejumlah kantor, lagu Ibu Kita Kartini dikumandangkan. Anak-anak sekolah, sudah sibuk sejak beberapa hari sebelumnya menyiapkan busana daerah untuk perayaan Kartini di sekolahnya. Tak kalah dengan anak-anak, para perempuan dan ibu-ibu pun juga sibuk. Mereka berdandan khusus, berkebaya, dan beberapa di antaranya dalam menyapa menyelipkan, ucapan, “Selamat hari Kartini, ya.”

Itulah pemandangan rutin yang muncul setiap 21 April. Kebaya, perlombaan busana nasional sesekali diwarnai dengan sejumlah dialog tentang peran ganda perempuan. Rituil yang sama terus diulang, dan lagu Ibu Kartini pun diputar, yang hanya saat perayaan itu. Tanpa upaya memaknai Kartini dan perjuangannya sesuai dengan jamannya, perayaan kelahiran Kartini rasanya jadi kehilangan nilai ketika pergolakan pemikiran Kartini tak menjadi nafas dari perayaan itu sendiri. Continue reading “Memaknai Kartini di Era Informasi Tanpa Batas”

Situs Porno Menenggelamkan UU ITE

Minggu lalu saya ditelepon petugas layanan pelanggan kartu kredit sebuah bank internasional yang saya langgani. Dia menginformasikan bahwa mulai April ini tagihan kartu kredit saya akan dikirim via email, bukan laporan tercetak yang dikirim ke alamat tagihan.

Petugas itu juga meyakinkan, kendati dikirim via surat elektronik, bank tersebut memastikan keamanannya dari pelbagai kemungkinan kejahatan di dunia maya.

Wah, kemajuan nih, pikir saya. Biasanya, kalau tagihan itu dikirim ke rumah, acapkali terlambat, dan sering kali terselip di tumpukan koran atau kertas yang menggunung di rumah. Dengan menggunakan email, sudah pasti tagihan bisa langsung ke penerima/pemilik kartu kredit, dan lebih cepat tentunya.

Inilah salah satu dampak positif Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Pengiriman dokumen elektronik — salah satunya tagihan kartu kredit via email — sudah dianggap dokumen yang sah. Continue reading “Situs Porno Menenggelamkan UU ITE”

Mengintip CSR di Indonesia

Polemik meruyak di sejumlah milis beberapa waktu lalu. Pemicunya, ada perusahaan kamera yang mendonasikan produknya ke sebuah lembaga ketahanan nasional.

Dalam press release perusahaan itu disebutkan bahwa sumbangan tersebut merupakan aktivitas Corporate Social Responsilibity (CSR). Klaim itu rupanya menuai banyak tanggapan, yang intinya mengatakan kegiatan tersebut tak layak disebut CSR atau CSR yang salah.

Berangkat dari kasus kecil di atas, sejatinya agak sulit mendiskripsikan yang namanya CSR, apalagi jika penilaiannya layak atau tidak, benar atau salah.

Jauh sebelum istilah CSR dikenal, sejumlah perusahaan memang sudah mengandalkan program sosial sebagai program komunikasinya, melalui community relations/community development program. Continue reading “Mengintip CSR di Indonesia”

Menanti Edukasi Pelanggan

Belakangan ini tuntutan untuk melakukan kegiatan edukasi pelanggan makin tinggi. Tuntutan ini seiring makin dinamisnya program-program pemasaran/promo yang dirilis para operator telekomunikasi selular.

Jika biasanya program promosi berusia tiga bulan, kini perubahan makin cepat. Hampir setiap bulan promosi baru muncul, sehingga iklan-iklan yang bermuatan tarif murah nyaris mendominasi ruang-ruang advertensi, baik di media cetak maupun elektronik.

Menyimak fenomena tersebut, regulator telekomunikasi dan lembaga konsumen meminta kepada seluruh operator telekomunikasi agar lebih transparan dalam beriklan. Regulator juga mengharap operator mengedepankan unsur edukasi publik dalam aktivitas pemasaran — iklan. Continue reading “Menanti Edukasi Pelanggan”

Bila Sinyal Petak Umpet

Di saat berselancar di dunia maya sudah mulai menjadi gaya hidup sebagian masyarakat, khususnya di kota besar, saat itu pula kebutuhan untuk bisa “nyambung terus” pun makin tinggi.

sinyal-3.jpg

Apalagi bagi mereka, kalangan pecinta gadget yang punya banyak email account, gemar bersosialisasi melalui dunia maya, atau hobi chatting.

Sebagai kalangan yang sangat haus akses Internet, mereka harus selalu connect selama 24 jam. Bila jaringan Internet putus atau lambat, maka segmen ini pulalah yang paling merasa paling terganggu, seakan kehilangan asupan oksigen bagi tubuhnya.

Belakangan mobile broadband Internet mulai marak di Indonesia. Beberapa operator yang sudah memiliki lisensi 3G seperti XL, Indosat dan Telkomsel, gencar berpromosi menawarkan layanan tersebut. Bagaimana layanannya? Continue reading “Bila Sinyal Petak Umpet”

Yang Naik dan Yang Turun

pameran-1.jpg

Minggu lalu ada dua peristiwa besar yang menarik untuk dicermati. Pertama, pernyataan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang meminta masyarakat memaklumi kondisi pasar akhir-akhir ini.

Mengutip harian Warta Kota, Mari mengakui departemennya kesulitan mengendalikan kenaikan harga berbagai barang kebutuhan pokok, meski pemerintah sudah menganggarkan Rp 500 miliar untuk program subsidi minyak goreng selama enam bulan ke depan. Continue reading “Yang Naik dan Yang Turun”

Anak Tiri Bernama Pelanggan Pasca Bayar

Beberapa hari lalu, Herry SW, pemerhati telekomunikasi dari Surabaya, meneruskan sejumlah komentar pengguna layanan selular yang diposting melalui blog-nya.

Herry menampung komentar pengguna atas tarif baru XL bebas yang Rp 0,0000….1/dtk, yang diluncurkan sejak 5 Maret lalu. Yang justru menarik disimak adalah uneg-uneg sejumlah pengguna layanan paska bayar, yang terkesan selama ini merasa dianaktirikan.

Kebetulan Sabtu malam lalu, saat kondangan pengantin anak Pak Cahjana, Direktur Jenderal Telematika Depkominfo, di Bandung, aku bersua dengan Pak Hermawan Kartajaya (HK), dan sempat ngobrol ihwal topik di atas.

Kebetulan pula, kami sama-sama melanggani layanan pasca bayar beberapa operator selular. Obrolan jadi makin seru karena kami tak cuma berdiskusi sebagai pelanggan tapi juga sesama peminat marketing. Continue reading “Anak Tiri Bernama Pelanggan Pasca Bayar”