The art of relationship

Mbah Ti, begitu keluarga kami biasa memanggilnya. Dia pembantu kami, sejak nol tahun pernikahanku, yang hampir  20 tahun lalu. Dialah orang yang sempat menyaksikan kelahiran dan merawat kedua anakku  Wangi dan Ebhin.

Mbah Ti, memutuskan pensiun sejak 5 tahun lalu, “Kulo pun mboten kiyat nyambut damel  malih (red: saya sudah tidak kuat kerja lagi),” kata perempuan bernama lengkap Supartini yang sudah berumur 70 tahun lebih ini. Kami sekeluarga sempat mengantarkannya pulang sampai di rumahnya  di desa Papar, Pare, Kediri. Continue reading “The art of relationship”

Tahun 2009 adalah present

Tahun 2008 telah  menjadi sejarah, dan 2009 adalah “present” yang mesti disyukuri. Tahun 2009, yang menurut penanggalan Cina disebut tahun kerbau, banyak diramalkan sebagai tahun yang kurang cerah. Pentingkah? “Nggak juga.”

Full Circle-nya YWJ

Minggu lalu aku terima pesan dari Husin Wijaya, konsultan MarkPlus, via ym (yahoo messenger), “VE, namamu ada disebut di buku Full Circle-nya pak Junardy, di bagian awal di segmen XL, he proud of you.”  Wow, jawabku spontan, dan penasaran tentunya. Bahwa,  pak Y.W. Junardy/YWJ  mempersiapkan sebuah buku perjalanan karir profesional, sejak beberapa bulan silam, aku […]

Tentang akurasi.

Saat menerima undangan (apapun), di kolom nama dan alamat yang diundang kerap dijumpai tulisan, ”mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama maupun jabatan”. Mungkin itu hanya masalah kecil, namun, itu disadari betul bahwa kesalahan penulisan nama – semisal dari Ventura menjadi Fentura atau jabatan General Manager di tulis hanya Manager saja  – bisa jadi […]

Jadual pesta blogger mundur

Talkshow e-lifestyle di Metro TV dengan nara sumber Kuncoro dan aku, hari minggu kemarin, tentang blogging, ternyata menarik minat banyak kawan. Aku mendapat banyak respon via sms, chatting di ym, bahkan via facebook, dari para blogger yang berniat hadir di acara Pesta Blogger 2008. (Thanks to Ferly Junandar -host e-lifestyle, dan mas Deddy -Metro TV)

Mahal? Nggak masalah….

Minggu siang kemarin aku sempat berbelanja ke kawasan pasar Mayestik. Ini kali pertama setelah berbulan-bulan aku absen “jalan-jalan” ke pasar tradisional di kawasan Jakarta Selatan ini. Hiruk pikuknya, jajanan tradisionalnya, dan sapaan para penjualnya, yang kerap membuatku kangen untuk mampir ke situ.