Camino de Santiago, Berjalan Menelusuri Hati (bagian 1)

Pertemuan dengan penulis Jalan Pulang, Februari 2020 di GKI Pamulang

Doa dikabulkan Tuhan,  9 – 21 April saya berkesempatan kembali ke Spanyol untuk Camino. Sebelumnya pada Nov-Des 2024 saya  ke Spanyol untuk mengikuti Valencia Marathon 2024.

Camino de Santiago atau juga disebut Jalan St  James, Rasul Yakobus. Camino (dalam  bahasa Spanyol artinya jalan) adalah sebuah tradisi yang sangat kuno, sekitar abad 9, dan itu berasal dan berkembang di Galicia, Spanyol.

Tradisi berziarah ini sempat tenggelam beberapa dekade lalu, namun kemudian mulai muncul lagi, dan menarik banyak orang dari segala penjuru dunia, yang nota bene, tidak hanya orang Katolik/Kristen  yang menjalaninya. Bahkan orang-orang yang tak peduli dengan agama, juga menjalani, dengan berbagai motivasi. Dan mereka justru menemukan Tuhan dalam perjalanan mereka.

Di CdS ada 2 tradisi:

1. Saat berangkat kami akan membawa batu,  sebagai simbol beban/pergumulan hidup. Dalam perjalanan, kami bawa dalam doa, dan batu itu akan kami lepaskan (sesuai dengan kesiapan batin dan hati kami).

Batu sebagai simbol pergumulan yang saya bawa dalam doa

2. Kami akan mengumpulkan stempel dan setidaknya 2 stempel di setiap etape (ada 6 etape). Dan nanti paspor yg sudah berisi stempel akan ditukar dengan sertifikat yang menandai kami sudah menyelesaikan peziarahan, minimal 100 km.

Buku Paspor yang mesti kami isi dengan stempel

CdS   ada 7 rute. Untuk yang pertama ini, saya pilih  jalur terpendek (115 km) dan paling populer disebut Camino Frances, dari Sarria ke Santiago, melewati Portomarin, Palas de Rei, Melide, Arzua, O Pedrouzo.  Camino Frances ini ditempuh selama 6 hari dan rata-rata kami akan berjalan sekitar 20 km setiap harinya.  Berakhir di km 0  Santiago de Compostela, dimana  ada makam Rasul Yakobus di dalam gereja Kathedral.

Jalur Camino Frances

Tentang teman-teman sepeziarahan,  2 orang kebetulan rekan adventure : Maya adalah sesama alumni XL, Lala – kami telah beberapa kali adventure bersama, kemudian ber’jodoh’ dengan kawan-kawan baru yang seru dan kompak: Kiko, Obay – opa Bayu alias pak Sofyan, Siska, Rini dan suaminya: Sudin, serta organizer CdS ini: Andre.

meet up di GBK

Dan sekali lagi saya  bersyukur, karena bisa menjalani peziarahan  Camino di masa pra paskah: kami akan sampai di Santiago de Compostela saat Kamis Putih, lalu Jumat Agung.  Betapa luar biasa rencana Tuhan.   It’s beyond my expectation.

Persiapan:

Saya dan Lala, sebenarnya sudah mulai membicarakan  soal ke Camino pada Juni 2024. Lalu, menggumulinya lebih serius: mulai mencari siapa saja yang tertarik bergabung, siapa yang bisa bantu organize.

Obrolan sambil jalan di GBK yang berujung: Yuk jadiin ke Camino

Obrolan ringan hingga serius sambil jalan di GBK, berujung: :Yuk kita jadiin, tahun depan”. Mulailah kami sounding ke beberapa teman yang berpotensi tertarik ke Camino. Bahkan kami memulai dengan mencari informasi lebih jauh,  dari orang-orang yang sudah pernah menjalani Camino.

Kami melakukan pertemuan zoom dengan pak Is, rekan Lala yang sebelumnya telah menjalani Camino  700 km, zoom dengan mbak Maria –  yang juga sudah ‘lulus’ camino. Dari mereka berdua,  kami banyak mendapat insight dan makin meyakinkan kami, bahwa Camino is my next journey.

Kemudian kami mencari tour agent atau organizer yang bisa membantu kami untuk Camino ini, dan seorang kawan memberi nama @tourhemat, jadilah kami menghubungi Andre. Dan seterusnya, sampai kami membentuk wag khusus untuk komunikasi para calon peziarah CdS, yang akan diakan dibantu oleh Andre.

latihan jalan bareng di GBK

Tahun lalu, saya masih memiliki agenda mengikuti full marathon di Valencia Marathon Spanyol pada 1 Desember 2024, sehingga saya masih fokus latihan persiapan untuk itu. Saya baru mulai berlatih   untuk CdS sekitar Januari 2025.  

Ketika saya bersiap untuk race, jadual latihan lari 5x seminggu, plus strength. Saat mau CdS, saya tetap mengerjakan PR latihan lari, dikombinasi jalan kaki minimal 2 jam/hari, plus berlatih di tanjakan seminggu sekali.

Check list: persiapan administrasi (tiket, visa), fisik, dan sambil   mempersiapkan logistik (apa saja perlengkapan  yang sekiranya perlu dibawa selama peziarahan).

Minggu ke 2 bulan April, mestinya di Spanyol sudah lepas winter dan mulai masuk musim semi. Tapi global warming bisa saja mengacak sedemikian musim yang ada, sehingga perlu diantisipasi adanya anomali musim dan kemungkinan turun hujan. (bersambung)

1 Response

  1. rlol
    Reply
    30 April 2025 at 11:52 pm

    ?

Leave A Reply

* All fields are required