
Kami berangkat jam 08.45, diwarnai hujan rintik suhu sekitar 7′. Jalanan datar? Only in my mind, hehe, jalan datar yang diwarnai tanjakan-tanjakan cantik (tipis) terkadang pendek ada juga yang panjang. Aroma terapi parfum terbuat dari makanan dan kotoran sapi masih mewarnai ketika kami melewati area peternakan.
Kota Palas De Rei pagi itu lumayan sejuk, kami sempat menikmati keindahan kota kecil di wilayah Galicia ini. Saat kami tiba, toko souvenir sudah buka, dan seperti biasa, mampirlah kami.



Tantangan ‘baru’ di hari ke 3 ini adalah: angin kencang dan turunan-turunan panjang. Ada satu lokasi yang anginnya nyaris menyeret badan saya. Turunan panjang ini yang bikin jempol dan jari manis kaki kiri saya tertekan dan berpotensi blister.
Dan pada situasi ini, saya memutuskan melepas batu. Iya di tugu petunjuk arah dimana di situ tertulis 61,719 km lagi menuju Santiago, saya merasa siap untuk melepas batu yang saya kantongi dan saya bawa dalam doa. Seusai melepas batu, saya kembali konsentrasi melanjutkan dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan.


Yang pasti malam itu kami menikmati makan malam yang enak: seafood dilengkapi sangria, minuman anggur beraroma yang biasanya dibuat dengan mencampurkan anggur merah dengan buah-buahan, sari buah, dan bahan aromatik lainnya. Sangria menjadi salah satu minuman wajib pelengkap dinner kami ketika camino.


Melide adalah sebuah kota kecil di Moldes, Spanyol yang terkenal dengan keramahan dan suasana liburan yang menyenangkan. Kota ini memiliki pesona tersendiri yang menarik wisatawan.
Keesokan harinya, kami lanjut ke perziarahan hari ke 4, bersiap untuk menghadapi tantangan yang ada di depan. Kami percaya: “Karena TUHANlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.” (Amsal 3:6).
Hari ke 4: Dari Melide ke Arzua, Selasa, 15 April 2025, 14 km
Melide itu tempat pertemuan peziarah Camino Frances dan Primitivo, rute tertua menuju santiago de compostela. Sehingga peziarahan jalur Melide ke Arzua lebih ramai.

Kami meninggalkan apartemen jam 10 an (dan seperti biasa koper-koper besar kami sudah dibawa untuk dikirim ke Arzua). Setelah sebelumnya teman teman mengikuti ibadah di gereja katolik jam 9.30. Suhu 4 derajad lumayan dingin plus gerimis, tapi setelah itu matahari muncul menggoda, diselingi dengan gerimis.


Treknya tak banyak beda dengan hari sebelumnya, ada tanjakan dan turunun, dan tanah becek sisa hujan semalam. Kali ini tantangan justru dari dalam: ujung jari kaki (terutama kaki kiri) yang tertekan saat menjalani turunan panjang di hari ke-3, terasa senut-senut dan mulai iritasi. Saya bungkus plester, pakai kaos kaki injinji untuk mengurangi gesekan antar jari. Dan untuk mengatasi/mengurangi rasa sakitnya, saya pakai easy running aja saat ada jalan turun, agar kaki tak perlu ngerem. Lumayan sih.

Surprise dari alam di hari ke 4 ini adalah hujan es. Sekitar 3 km sebelum memasuki kota Arzua, tiba tiba turun hujan es yang lumayan lebat. Ternyata begini rasanya jalan di tengah hujan es yang lumayan lama sekitar 20-30 menit. Potongan es yang jatuh ke badan ya lumayan terasa sakit.

Setiap peziarah memiliki hal khasnya masing-masing. Kiko dan Maya penggemar foto. Sehingga mereka berdua kerap berada di belakang, karena banyak ‘mampir; untuk mengabadikan pelbagai obyek foto. Rini dan suaminya: Sudin, pejalan cepat, dan selalu terdepan nemu cafe untuk makan siang. Pasangan ini juga sering jadi juru penolong bagi kami yang kesulitan ini itu. Misalnya, setiap pagi saya selalu repot memasang jas hujan ransel, pasti pasutri ini yang bersikutat merapikannya. Pak Sofyan dan Lala, type solo (berjalan sendiri) walau kadang beriringan ngobrol sejenak, kemudian mereka lanjut meditatif. Siska, yang selalu skip lunch, dengan alasan bawa bekal, juga agar tidak tertinggal jauh dari peziarah lainnya. Akibatnya dia jarang masuk dalam foto-foto grup.

Arzúa adalah sebuah kota kecil di Galicia, Spanyol, yang terkenal dengan keindahan alamnya dan keju yang berkualitas tinggi. Kota ini merupakan salah satu pemberhentian terakhir yang penting dalam perjalanan Camino de Santiago, yang terletak 36 kilometer dari Santiago de Compostela. Arzúa juga dikenal karena keju Arzúa-Ulloa, yang dianggap sebagai salah satu keju terbaik di Spanyol.

Apartemen tempat kami menginap di Arzua lumayan menyenangkan. Di lantai 2, ada 3 kamar, 2 kamar mandi dan dapur. Sehingga sore dan malam itu kami bisa leluasa bikin aneka minuman untuk teman ngemil. Dan paginya kami bisa menyiapkan sarapan yang lebih lengkap (roti, susu, kopi, coklat, sosis atau bacon).

Di hari ke 3 ini saya berganti rekan sekamar. Jika sebelumnya saya bersama Lala dan Maya. Kali ini, saya ditemani Kiko sebagai teman sekamar. Dan Kiko pun bersiap mendengar dengkuran saya saat tidur. Puji Tuhan, kami berdua terlelap, dan baru terbangun saat alarm jam berbunyi jam 05.00

Reflektif saya hari ini adalah: saat kita harus survive, ada 3 hal yang akan menolong kita: our knowledge, our experience dan terutama, our wisdom (dan ini terkait dengan our faith).
Hari ke 5: Arzua – O Pedrouzo, Rabu 16 April 2025, 19, 2 km.
Pagi hari sudah mulai hujan di Arzua, kami pun memutuskan berangkat jam 09.00. Dengan jari-jari kaki kiri blister, artinya saya harus berjalan dengan pace yang lebih lambat. Pagi ini, saya juga menggunakan jas hujan sepatu yang saya beli semalam, berharap yang ini lebih baik peformanya.


Sampai di hari ke 5 ini, setiap pagi bangun, bersiap, saya hanya membayangkan untuk menikmati keindahan rute yang akan kami lewati, dalam situasi apapun. Tak ada rencana mau berhenti makan jam berapa, pokoknya mengalir saja. Andre hanya info, hari ini kita akan berjalan sekitar xx km.
Dan kali ini, karakter jalurnya masih sama (jalan pedesaan, gunung) hanya tanjakannya lebih sopan, tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Hari ini saya lebih banyak berjalan sendiri, berdialog dengan diri sendiri, berbicara dengan Tuhan, menikmati alam yang indah dengan udara bersihnya, plus suasana kehidupan di setiap desa yang saya lewati. Sesekali berhenti ketika ada kerumunan, dan ikut antri stempel paspor.



Dan inilah yang saya impikan dan inginkan. Menikmati ciptaan Tuhan dalam keheningan. Sesekali saling menyapa saat bertemu sesama peziarah. Inilah camino de Santiago: berjalan sendiri dalam keheningan (perenungan).

Namun, ada momen perjumpaan dengan kawan baru. Antara lain: bersua dengan Jeane dari Philipina, yang menjalani camino bersama rombongan, dengan alasan spiritual. Dan tiba-tiba saya disapa dua orang pria dari Kuala Lumpur. Dia takjub dan berkata : “Kamu satu-satunya orang Indonesia yang saya temui sepanjang Camino”. Karena ketakjuban nya itu, dia langsung video call dengan kenalan nya yang ada di Surabaya. Jadilah di tengah rintik-rintik hujan kami ngobrol via video call.


Dan saya lebih kagum, karena mereka sudah berjalan dari Paris sejauh 1450 km, selama 45 hari. Amazing. Inilah perjumpaan perjumpaan kecil yang membawa sukacita. Sesuai motto camino de santiago: You will never walk alone.
O Pedrouzo atau O Pino adalah sebuah kota kecil di wilayah Galicia Spanyol, tepatnya di wilayah Arca. Ini adalah tempat terakhir bagi para peziarah sebelum tiba di tujuan mereka, Santiago de Compostela, dalam rute Camino de Santiago. Desa ini menawarkan berbagai tempat menarik seperti Gereja Santa María de Gonzar dan juga dikenal dengan keindahan alamnya.

Saya memasuki kota O Pino saat masih terang, dan cuaca juga bagus. Di kota ini kami kebagian menginap di sebuah pension23, dimana sekamar bisa diisi 4 orang, dan kamar mandi di luar. Tapi bagi saya, setiap persinggahan adalah ‘rumah’ dimana kami bisa beristirahat: mengangkat kaki setelah berjalan berjam-jam, mandi, gelar baju basah, sebelum keluar berburu souvenir. Dan seperti biasa, kawan-kawan Katolik melakukan peribadatan sebelum saat makan malam. (Bersambung)
