Sarria adalah sebuah kota kecil di provinsi Lugo, Galicia, Spanyol, yang terkenal sebagai titik awal yang paling populer untuk para peziarah yang ingin menyelesaikan rute Camino de Santiago, khususnya rute French Way. Kota ini memiliki sejarah kaya, pemandangan alam yang indah, dan menjadi bagian dari Comarca (Kabupaten) Sarria

Hari ke 1, Sabtu 12 April 2025: Sarria – Portomarin, 22 km
Saya bangun jam 05.00 dan mulai bersiap. Koper-koper besar kami dibawa oleh jasa ekspedisi, dan kami cukup membawa ransel kecil untuk kebutuhan kami selama berjalan sehari saja.

Ransel saya berisi air mineral, energy gel, madu, kurma, pocari bubuk, obat-obatan termasuk salon pas spray, handuk kecil, power bank, euro receh untuk makan siang, dan tentunya buku paspor Camino untuk berburu stempel. Ransel saya bungkus dengan jas hujan khusus ransel, warna kuning – khas Camino.

Kami berangkat dari Sarria jam 07.37. Sepanjang perjalanan dari Sarria – Portomarin hujan tidak berhenti. Suhu sekitar 7’ – lumayan dingin – dan saya menggunakan baju dua lapis, plus jaket water proof, legging 2xu. Saya cukup nyaman dengan legging ini karena: teknologi kompresinya membantu meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi kelelahan otot, dan mempercepat proses pemulihan setelah olahraga. Plus nyaman, ringan dan menyerap keringat. Jas hujan saya bawa, untuk jaga-jaga apabila curah hujan makin deras.

Beberapa jalan yang kami lewati adalah tanah becek, bekas hujan. Dan ketika melalui kawasan peternakan, tentu saja aroma ‘parfum’ kotoran ternak yang terhirup.

Seperti yang sudah kami perkirakan, rute ini cukup rolling, naik turun sepanjang 17 km. Sungguh ‘ujian’ fisik dan mental hari ke satu: hujan, trek rolling, jalur lumayan padat karena banyak peziarah yang ingin merayakan Jumat Agung & Paska di Santiago de Compostela, café café untuk beristirahat dan makan siang juga penuh. Sungguh ujian kesabaran. Namun, pemandangan indah sepanjang jalur ini, membuat ‘ujian-ujian tadi jadi tak berarti.


Saya memakai sepatu khusus untuk trekking, dengan mempertimbangkan medan yang akan dilalui. Ke camino ini saya membawa 2 pasang sepatu khusus trekking. Jas hujan sepatu yang saya bawa dari Indonesia, rupanya kurang realible untuk melindungi sepatu dari hujan, dan agak mengganggu langkah kaki, sehingga saya copot pada saat break makan siang.

Seperti yang telah saya jelaskan di awal, saya juga membawa batu kecil yang saya simpan di kantong jaket, sebagai simbol pergumulan yang saya bawa dalam doa, yang nantinya akan saya lepas, ketika sudah siap.

Mendekati jam 4 sore, kami memasuki kota Portomarin. Jelang 700 m dari hotel yang kami menginap, kami melewati sungai Mino yang indah, dan itu langsung menghapus segala kelelahan kami.


Portomarín adalah kota kecil di Provinsi Lugo, Galicia, Spanyol, yang terkenal dengan arsitektur klasiknya, pemandangan indah, dan kehidupan malam yang ramai. Kota ini memiliki sejarah yang menarik, karena dulunya desa tua yang kemudian dirobohkan dan dibangun kembali di atas waduk Belesa.
Sayangnya kami tidak sempat menikmati keindahan kota ini. Selain karena hujan, kami harus membereskan perlengkapan kami yang basah karena hujan, lalu makan malam, kemudian istirahat untuk memulai perjalanan ke kota selanjutnya keesokan harinya. Sialnya, usai makan malam, toko-toko souvenir sudah tutup.
Salah satu problem kota ini adalah air. Andre menyarankan agar kami bisa tiba di hotel sebelum jam 17.00. Karena PAM setempat sering trouble di sore hari. Dan memang terjadi, namun, untungnya saat malam air mengucur kembali cukup deras.
Yang pasti malam itu kamar kami diwarnai aneka jemuran kami bertiga (bersama Lala dan Maya), heater kamar dan hair dryer difungsikan untuk mengeringkan baju.
Hari ke 2, Minggu, 13 April 2025 : Portomarin – Palas de Rei (19 km)
Setelah beristirahat semalam, kami bersiap melanjutkan perziarahan hari ke 2. Saat kami keluar hotel, ternyata toko souvenir yang semalam tutup, ternyata sudah buka. Jadilah kami mampir sejenak untuk sekedar mencari magnet kulkas khas setempat. Kami berangkat dari hotel jam 09.37, setelah lepas jembatan, kami langsung menjumpai tanjakan sepanjang 1,5 km. Lumayan bikin ngos-ngosan juga di awal.

Kemudian melewati jalur pedesaan, sempat masuk jalan raya sebelum kemudian masuk di jalur pedesaan lagi, jalan setapak. Rute kali ini melewati 2 jalan menanjak yang cukup panjang. Setelah itu jalan datar atau naik tipis. Salah satu ‘gangguan’ kecil yang saya alami adalah: kerikil kecil masuk ke sepatu. ?

Melalui rute kali ini, kami tidak melewati Cafe sebanyak jalur hari pertama. Setidaknya kami hanya menjumpai 3 cafe, dan pastinya penuh dengan peziarah yang mau ngisi perut atau sekedar ngopi atau cari stempel paspor Santiago.

Harga makanan dan minuman di sini cukup reasonable dan ramah di kantong. Sejak hari ke satu, kami terbiasa makan sharing, karena 1 porsi terlalu besar/banyak untuk kami, jadi makin ngirit. Sekali makan siang paling banyak kami habis 10 euro.
Tanda petunjuk arah Camino juga cukup jelas di sepanjang jalan, sehingga bila kami terpisah dari rombongan, tak mungkin tersesat. Cuaca cerah sepanjang perjalanan, suhu sekitar 12′, dan mataharipun turut menemani perjalanan kami.

Kamipun mulai memahami dinamika rute ini. Di hari ke-2 ini relatif tidak terlalu banyak tantangan. Saya malah mulai lebih banyak berjalan sendiri, meditatif, melakukan perenungan, berbicara dengan hati, lalu berkaca dengan cermin jiwa. Namun sesekali masih saling sapa dan istirahat makan siang bareng. Thank God.
Menjelang Palas de Rei, kami harus keluar jalur camino sekitar 5 km, karena tempat kami menginap di wilayah rural. Kami tiba di Casa Ruan, Lodoso – Lugo. Sebuah vila vintage yang cantik dan terawat dengan perapian kuno yang masih berfungsi.

Palas de Rei adalah sebuah kota yang terletak di provinsi Lugo, Galicia, Spanyol. Kota ini dikenal karena sejarahnya yang kaya dan arsitektur tradisionalnya, serta merupakan bagian penting dari wilayah Lugo. Palas de Rei memiliki berbagai tempat menarik, seperti gereja, dan rumah bersejarah.


Matahari masih bersinar, segera saya manfaatkan untuk menjemur baju dan sepatu yang masih basah. Indonesia banget. Hari ke 2 ditutup dengan makan malam yang enak di tempat yang menyenangkan dan indah. (bersambung)

