Kenangan Mandi di Pancuran Wae Rebo

Mandi malam hari di pancuran di alam terbuka? Itulah pengalaman tak terlupakan kami saat di Wae Rebo….

Tiga bulan  lalu, seorang kawan melontarkan usul di sebuah grup WA Adventure, “Ke Wae Rebo aja yuk?” Usul sekaligus tantangan, dan langsung disambut secara aklamasi oleh yang lain:  Yuk….   Begitulah demokrasi di grup yang sebagian besar adalah alumni karyawan XL, yang rata-rata sudah setengah abad umurnya dan semua perempuan.Tanggal pun ditentukan, 24 Maret – 27 Maret kami tetapkan sebagai jadual “OverlandFlores” dengan tujuan utama ke Wae Rebo.

Wae Rebo yang mempesona
Wae Rebo yang mempesona

 ‘Wae Rebo adalah sebuah kampung tradisional  terpencil, lokasinya di Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur. Terkenal dengan sebutan kampung di atas awan, Wae Rebo terletak di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut,  dikelilingi oleh perbukitan yang sangat asri. Wae Rebo dinyatakan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada Agustus 2012 menyisihkan 42 negara lain. Di situ hanya ada 7 rumah utama yang disebut Mbaru Niang,  yang menerima penghargaan dari UNESCO di Asia Pacific Heritage Awards di Bangkok.’

Membayangkan nya saja sudah sangat excited. Begitulah. Kami menuju Wae Rebo via Labuan Bajo, jalan darat sekitar 3-4 jam untuk sampai Ruteng. Kemudian dari Ruteng perlu 3 jam – melewati jalan yang berkelok —  untuk sampai Dintor sebelum Pos Denge (desa terakhir sebelum trekking ke Wae Rebo). Di Dintor  kami makan siang dan mempersiapkan perlengkapan yang akan kami bawa  menginap. Hari Sabtu tanggal 25 Maret  jelang jam 3 siang kami pun sudah siap untuk mendaki.

Bersiap trekking
Bersiap trekking
Pasukan Ojek Wae Rebo
Pasukan Ojek Wae Rebo

Jarak Denge ke Wae rebo sekitar 9 km, rata-rata ditempuh sekitar 3- 4 jam. Saat itu kami beruntung, karena pemandu kami mengabarkan bahwa, 2  km pertama jalanan aspal dan ada jasa ojek yang bisa digunakan dengan ongkos Rp 30 ribu/orang. “Baiklah, kita naik ojek, itung-itung membantu masyarakat lokal,” kami beralasan. Lalu 7 km selanjutnya mulai memasuki jalan setapak pegunungan yang memang harus ditempuh dengan jalan kaki.  Kami berharap bisa sampai di Wae Rebo sebelum magrib.

Bersama Partner setia, Sari
Bersama Partner setia, Sari

Kami ber8, dengan tas lumayan montok yang berisi  bekal menginap di Wae Rebo, dibantu  3 orang porter.  Grup pertama: Maya, Lala, putrinya: Nadine. Kemudian saya dan  partner trekking waktu naik ke kawah Ijen: Sari, serta bu Dhani. Yang terakhir: Susi dan suaminya, mas Sulaiman yang dikawal oleh tour guide kami: Eman. Kami berjalan beriringan memasuki hutan, melewati jalan setapak (di samping kanan jurang), dari pos 1 menuju pos 2 berjarak sekitar 2,5 km,  yang didominasi dengan tanjakan sedang.

‘Berkesempatan ke Wae Rebo di masa pra paska (masa kontemplatif dan perenungan) menjadi semacam perjalanan spiritual buat saya.  Tentu bukan kebetulan, walau ketika menetapkan tanggal tak terpikir tentang itu. Sepertinya semesta sudah mengaturnya, dimana semua persiapan begitu lancar. Menuju Wae Rebo melewati jalan setapak dalam keheningan, merasakan langkah kaki kiri dan kaki kanan dengan penuh kesadaran. Saya ingin merasakan dan menikmati situasi yang ada: pohon, daun, ular kecil, kerikil, tanah becek, air pancuran, sungai kecil, jurang, tebing, awan. Semuanya dalam “present moment”.  Perjalanan singkat yang meditatif ini menemui banyak hal  mengagumkan dan memberi energi positif ke dalam raga ini. Saat perdakian, sesekali kami berpapasan dengan penduduk yang memanggul hasil bumi: kayu manis. Reflek kami  berbagi senyum dan salam, saya merasakan aura positif di di wajahnya, yang bikin tentram di hati.’ 

Di Tengah Hutan
Di Tengah Hutan

 Perjalanan dari pos 2  ke pos 3 sekitar 2, 5 km dan masih didominasi dengan tanjakan sedang, dan kami jalani dengan santai. Sesekali rehat sejenak 20-30 detik untuk menghela nafas dan meneguk air untuk membasahi  tenggorokan yang mulai kering.  Secara rutin saya minum 3-4 teguk air agar tidak dehidrasi.

Massage girl
Massage girl

Ketika El dan Evan, kedua porter kami mengatakan: “Ini pos 3, dua kilo lagi kita sampai,  jalannya mendatar dan menurun.”  Dan memang 2 km terakhir adalah bonusnya, setelah sebelumnya penuh tanjakan. Tepat 2 jam 40 menit kami  sampai di sebuah saung  yang  merupakan ‘pintu gerbang’ sebelum masuk kawasan Wae Rebo.

El, salah satu porter kami
El, salah satu porter kami

Di situ sudah menunggu Lala, Nadine, Maya dan bu Dhani. Ketika rombongan  kami sudah lengkap, 8 orang plus 3 orang porter dan 1 orang pemandu, maka kentongan di saung pun kami pukul, sebagai tanda permisi, kami akan masuk. Tepat saat magrib kami memasuki  kawasan Wae Rebo.

‘Melewati jalan setapak sekitar 500 m, rombongan kami  langsung ke rumah utama (rumah gendang) dimana ketua adat menerima kami. Disambut oleh pak Alex sebagai ketua adat dalam bahasa setempat, dan setelah penyambutan itu, kami dianggap resmi menjadi anggota warga Wae Rebo dan boleh berkeliling lokasi. Usai upacara War Lu’u, salah satu porter kami menyerahkan uang Rp 20 ribu sebagai sesaji.’

Bersama pak Alex
Selfi dulu dengan pak Alex
hasil selfie
hasil selfie

Kami ber8 dibawa ke rumah tempat kami menginap. Rupanya sudah banyak tamu-tamu yang datang sebelumnya, dan rombongan kami adalah yang terakhir untuk hari itu. Dalam rumah yang bentuknya bulat, posisi tidur memutar, setiap kapling telah disediakan bantal dan selimut.

Kapling tempat tidur di Wae Rebo
Kapling tempat tidur di Wae Rebo

Malam itu, rumah tersebut diisi sekitar 30 orang, sesuai kapasitasnya. Sebagian anak-anak muda, ada kelompok dari Jakarta, Surabaya, Malang dan beberapa orang asing juga.Suasananya akrab, seperti saat kumpul keluarga besar di hari Lebaran.

‘Setelah trekking hampir 3 jam, tentu yang kami perlukan adalah mandi. Yes, di rumah itu ada 3 kamar mandi.  Tapi memang harus antri, apalagi kami datang paling akhir. Ada pancuran, kata pemandu, yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah. Dan kami memilih pancuran. Diantar porter, dan berbekal lampu senter, kami pun berjalan beriringan menuju pancuran.  Malam itu  kami ber6 begitu girang bisa mandi di pancuran, bahkan keramas. Dingin? Tentunya. Namun, rasa dingin kalah dengan kesegaran air pancuran yang mengalir tanpa henti.Orang Jakarta, mandi di pancuran di alam terbuka pada malam hari?  That’s really amazing moment. Pengalaman yang tak bakal terlupakan di sepanjang hidup.’

Sebenarnya ada 2 hal yang saya nantikan malam itu:  memotret bintang dan makan malam. Kami kelaparan, dan di dapur di belakang tempat kami menginap terlihat beberapa ibu sedang sibuk memasak. Bekal pisang yang tersisa sudah saya habiskan saat di saung.

Sekitar jam 8 malam, petugas menyiapkan tikar sebagai alas duduk di depan kapling kami masing-masing. Kemudian piring, gelas, minuman dalam ketel, nasi, ayam goreng,  sayuran,  kerupuk dan sambel disajikan.  Karena lapar saya dan Sari pun langsung ambil piring dan nasi,  xoxoxo ternyata bukan begitu prosedurnya.

Saatnya makan malam
Saatnya makan malam
Makanan Langsung tandas

_1000943

Kami diminta duduk di posisi, dan petugas pun  yang melayani kami.  Malam ini kami makan begitu lahap, dan rasanya masakan enak banget. Dan seperti sebuah keluarga besar, makan malam diwarnai dengan perkenalan dan obrolan dengan rombongan yang lain, berlanjut hingga usai makan.

Dapur Wae Rebo
Dapur Wae Rebo
Suasana dapur
Suasana dapur

Sayang, walau cuaca tidak begitu dingin (sekitar 18 derajad) malam itu agak mendung, sehingga saya batal ‘begadang’ di luar untuk menikmati langit dan mengabadikan bintang. Mungkin pesan moralnya adalah: istirahat dan tidur lebih cepat. Itulah yang kami lakukan.  Yang lain ada yang memanfaatkan waktu dengan main kartu.

Yang pasti, kami semua sibuk dengan mencas baterai ponsel masing-masing.Tempat ini menyediakan colokan yang cukup banyak, dan kesempatkan untuk isi baterei memang hanya malam itu. Karena listrik dari generator hanya hidup  dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi.

Berkat istirahat cukup, saya bisa bangun jam 5 pagi, saat di luar masih gelap. Suasana dini hari di Wae Rebo, begitu indah dengan udara yang begitu segar. Priceless moment. Berkali kali saya hanya  bisa bersyukur kepadaNya karena bisa sampai di tempat itu. Berlarian tanpa alas kaki, merasakan alam, di lapangan rumput yang dikelilingi bukit, sambil menanti sunrise.

Suasana pagi
Suasana pagi
muka muka bantal
muka muka bantal
Suasana Pagi
Mengabadikan Pagi

Situasi pagi  mulai ramai, penduduk dan tamu berbaur menanti matahari.  Yang membedakan adalah para tamu sibuk dengan kamera, mencari spot-spot cantik untuk berfoto  dan selfie. Sementara warga Wae Rebo lebih banyak duduk-duduk dan sesekali tertawa melihat ulah kami. Anak-anak kecil di situ pun mulai ikut meramaikan pagi itu dengan nyanyian  mereka.

keriangan anak-anak
keriangan anak-anak

_1000979

Anak-anak di Wae Rebo, walau sudah berusia 6 tahun, kebanyakan belum bersekolah. Sekolah terdekat ada di desa Denge, yang berjarak 9 Km dari Wae Rebo, tanpa angkutan umum. Sehingga, untuk bersekolah mereka harus tinggal di desa tersebut. Sebagian orang tua belum tega melepas anak-anaknya yang masih kecil  terpisah dari mereka.

Kiki, misalnya, umur 6 tahun, anak ke 3 dari ibu Astina, masih belum bersekolah. Anak sulung bu Astina, kelas 2 SMP, sekolah dan tinggal di Denge. Bagusnya, di desa Wae Rebo ada sebuah perpustakaan, dimana anak-anak kecil bisa beraktifitas seperti menggambar dan sebagainya.Kami sempat membawa buku-buku dan pensil gambar untuk menambah isi perpustakaan.

Ibu Astina dan putranya Kiki
Ibu Astina dan putranya Kiki

Wae Rebo adalah sebuah desa adat tradisional yang terpencil,  belum dijamah oleh aliran listrik maupun telepon. Namun, tempat itu dikelola dengan sangat baik, itu saya rasakan sejak memukul kentongan tanda bertamu. Selama kami menginap di sana, terasa bahwa warga Wae Rebo cukup terlatih dalam mengelola kebutuhan tamu yang menginap. Walau sederhana, namun semua bersih dan pelayanan cukup baik serta cekatan.Rasanya, baru kali ini saya merasakan pelayanan di sebuah desa adat yang terkelola dengan apik.

Ibu-ibu Wae Rebo yang menyiapkan memasak dan menyiapkan makanan untuk tamu
Ibu-ibu Wae Rebo yang menyiapkan memasak dan menyiapkan makanan untuk tamu

Adalah  Ary,  Direktur Eksekutif Indonesia Eco-tourism Network (Indecon), organisasi nirlaba yang bergerak dalam pengembangan dan promosi ekowisata di Indonesia, yang membantu warga desa Wae Rebo bisa seperti itu. Pada  2013-2015 Ary melakukan revolusi besar dalam pengembangan lima desa wisata di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yakni Cunca Wulang, Liang Ndara, Tado, Wae Rebo, Jerebu’u.

Revolusi  itu meliputi peningkatan kapasitas jasa pemanduan ekowisata, pengembangan produk ekowisata berkualitas di desa wisata, pengembangan strategi harga dan pemasaran bersama, pengembangan lembaga pariwisata lokal dan sistem administrasi pendukungnya di desa wisata, serta pengentasan kemiskinan di desa wisata.

‘Selain menyiapkan fisik dan segala perlengkapan yang sesuai,  tentu membuat foto-foto cantik selama perjalanan adalah tradisi kami. Karena foto adalah catatan kenangan.Dan kami ingin mencetak kenangan yang juga indah, seindah alam Wae Rebo yang kami kunjungi. Karenanya,  selain baju hangat (untuk melawan dingin), kami  juga menyiapkan dresscode khusus. “ Jangan lupa bawa baju wastra ya, untuk foto-foto cantik di Wae Rebo,” begitu saya berpesan kepada anggota rombongan. Begitulah, seusai sarapan  pagi, kami bergegas ganti baju sesuai dresscode, dan berphoto ria sesuai rencana. Barangkali ulah kami sempat bikin bingung sebagian tamu, tapi kemudian mereka pun turut larut dalam kegembiraan dengan beragam aksi  photo masing-masing.’

The dream comes true
The dream comes true

_1000998

Tepat pukul 9  kami berpamitan dan meninggalkan Wae Rebo yang penuh kenangan. Dua bungkus kopi Wae Rebo saya bawa pulang  sebagai kenang-kenangan.  Wae Rebo ini penghasil kopi, vanili dan kayu manis, dan cukup laris  sebagai barang cendera mata yang dibawa pulang oleh wisatawan dengan harga yang memuaskan.

Bye Wae Rebo
Bye Wae Rebo
Mission Accomplished
Mission Accomplished

Perjalanan turun relatif lebih cepat, walau saya memang harus berhati-hati, karena sempat beberapa kali terpeleset. Sekitar jam 11 kami sudah sampai di Denge,  mampir lagi ke Dintor untuk mandi, dan makan siang. Sembari  menanti makan siang disajikan, kami duduk-duduk di teras Wae Rebo Lodge,  sembari menikmati laut yang indah. Sungguh keindahan alam Flores ini luar biasa, dan ini adalah anugrah Tuhan bagi kita bangsa Indonesia. Hampir di sepanjang perjalanan dimana di satu sisi yang saya lihat laut, dan sisi sebaliknya gunung/bukit, itulah Flores.

Kelaparan berat di Wae Rebo Lodge
Kelaparan berat di Wae Rebo Lodge

Berkunjung ke Wae Rebo adalah salah satu wishlist saya di tahun ini.  Puji Tuhan itu terwujud di masa pra paska ini.  Dan ini menjadi perjalanan spiritual yang penuh makna: membersihkan pikiran dan batin, memberi energi baru bagi raga, dan tentu saja puluhan foto indah penuh warna yang jadi kenangan seumur hidup. Thank God.

Catatan:

  1. Perlengkapan trekking: Dry bag 20 L untuk bawa perlengkapan menginap, day bag, tongkat trekking , celana kargo, sepatu gunung + kaos kaki, jas hujan, sun block, topi, sunglasses, handuk kecil, air minum secukupnya.
  2. Suhu di Wae Rebo berkisar antara 12-18’, perlu bawa baju dan perlengkapannya untuk menahan hawa dingin, senter (watch lamp), minyak serangga, dan obat-obatan pribadi, tentu saja powerbank
  3. Bawa buku-buku untuk disumbangkan perpustakaan Wae Rebo, snack untuk anak-anak. Mereka akan sangat gembira mendapat oleh-oleh kudapan.
  4. Sebaiknya tidak mengenakan celana pendek atau baju kutung di Waerebo, untuk menghormati masyarakat di situ.
  5. Tarif porter Rp 100 ribu/orang, untuk sekali jalan. Jika pulang pergi Rp 200 ribu, plus ongkos menginap Rp 250 ribu.

 

 

1 Response

Leave A Reply

* All fields are required

*