Batik sedang booming. Di mana-mana, terutama di metropolitan, terlihat orang-orang pakai batik. Ya lelaki, perempuan, tua muda, bahkan para remaja. Tak cuma di acara-acara resmi (menghadiri perkawinan, dan lainnya), tapi juga di kantor-kantor, jalan-jalan di mal.
Tak dinyana, batik yang selama ini dianggap busana tradisional, telah melejit jadi “seragam” sehari-hari. Model dan warnanya pun makin beragam dan cute.
Pemandangan yang nampak di pameran batik Inacraft di Jakarta Convention Center, Senayan, yang berakhir Minggu kemarin, makin mengukuhkan pamor batik. Betapa tidak, pameran yang digelar selama empat hari penuh itu sesak pengunjung, apalagi pada hari Sabtu dan Minggu. Antrean kendaraan menuju lokasi pameran mengular.
Padahal untuk bisa menikmati batik-batik dan barang-barang kerajinan di di situ, pengunjung dipungut biaya masuk Rp 10.000 per orang. Tiket masuk, susahnya mencari parkir, tampaknya tak menyurutkan para pecinta batik -– yang umumnya juga berbusana batik saat mengunjungi pameran itu — untuk berjejalan di JCC. Semua tumpek bleg berburu batik.
Batik memang fenomena yang menarik. Nasib batik berubah drastis justru setelah diklaim Malaysia sebagai karya seni negeri jiran itu. Sontak setelah itu, demam batik pun melanda Indonesia. Para produsen, desainer, baik besar maupun kecil, semuanya seakan kena hipnotis, untuk “membudidayakan” batik.
Semua orang tampaknya sudah menganggap batik sebagai bagian dari miliknya. Dan masyarakat luas -– terutama kalangan menengah atas -– sudah tak canggung lagi berbusana batik di pelbagai kegiatannya, misalnya arisan, kongko di kafe, dan sebagainya.
Sense of belonging masyarakat Indonesia tampaknya memang harus dibangkitkan melalui “ancaman”, miliknya diambil bangsa lain. Barangkali di bawah sadar kita memang menyadari bahwa batik adalah milik kita, warisan leluhur kita, sehingga ketika ada stimulan dari luar, sentimen itu pun muncul.
Reaksi itu mendatangkan banyak nilai positif. Masyarakat makin bangga pakai batik. Bisnis batik pun tumbuh dan merangsang munculnya pelbagai kreativitas, baik dari sisi desain maupun motif.
Kini batik bahkan tak cuma diaplikasi untuk baju. Sebuah produsen sepatu olahraga telah memproduksi sepatu dengan motif batik.
Pemerintah memang sudah lama mencoba memasyarakatkan batik, yakni sejak jaman Orde Baru. Seragam batik Korpri bagi pegawai negeri misalnya. Bahkan pada era 1990-an sempat ada kampanye bertajuk ACI – Aku Cinta Indonesia, yang tujuannya membangun kecintaan bangsa ini kepada produk-produk lokal.
Cara-cara seperti itu tampaknya justru membuat produk nasional, termasuk batik, malah kurang populer di kalangan masyarakat umum. Harus disadari bahwa strategi “militeristik” seperti itu kurang mempan untuk membangun sebuah kesadaran dan sense of belonging masyarakat akan kekayaan budaya kita.
Karenanya, mumpung tahun ini sedang dicanangkan Visit Indonesia Year, juga satu Kebangkitan Nasional, sudah saatnya kita membangkitkan nilai-nilai positif yang kita miliki. Bukankah Indonesia dikenal sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kertaraharja, memiliki keragaman seni dan budaya, juga kaya potensi alam?
Bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah, murah senyum, bukan bangsa yang gemar bertikai, saling bunuh, bahkan sebagai sarang teroris.
Bagaimana membangkitkannya? Inilah yang perlu dipikir bersama. Banyak kasus menunjukkan jika sesuatu program di-endorse dari atas malah tak disambut oleh kalangan akar rumput.
Menyebarkan “virus” cinta Indonesia memang tak bisa dengan SK. Menyentuh emosi dengan bahasa hati, mungkin akan lebih berarti.
Bagaimana menurut Anda?



April 28th, 2008 at 5:48 pm
“Sense of belonging masyarakat Indonesia tampaknya memang harus dibangkitkan melalui “ancaman”, miliknya diambil bangsa lain”.
Saya tidak setuju dengan kalimat di atas. Terlalu absurd. Budaya Bali contohnya. Disana Kebudayaan sangat dicintai dan seluruh masyarakatnya berusaha untuk mempelajarinya. Kenapa?? Karena itulah identitas orang Bali. Padahal budaya Bali tidak mendapat ancaman pengakuan dari negara lain kok.
Sedangkan budaya yang lain, masyarakatnya jarang yang melestarikannya sendiri. Mereka lebih terkesan dengan budaya impor seperti budaya barat dan budaya timur tengah. Nah mereka seakan lupa dengan budaya adiluhung yang mereka miliki. Mudah2an masyarakat Indonesia cepat menyadari prospek dari budaya yang mereka miliki.
Salam
April 30th, 2008 at 10:44 am
batiknya bagus2, ada koleksi lainnya nggak mbak? punya koleksi batik bali nggak?
April 30th, 2008 at 3:39 pm
di surakarta, malah mau digalakkan pemakaian batik, sampai bikin karnavalnya segala. cek saja di blog-ku :p
kok mbakyu tidak liburan ke sana saat ada karnaval itu? rame, loh
April 30th, 2008 at 10:32 pm
Koleksi saya sebenatnya lumayan lengkap. maunya punya batik versi dari sabang sampai merauke.
Sehingga kalau ada pameran batik biasanya saya hunting. Tapi, kalau batik bali, belum nemu. Mbok mbulet kalau pas ke Bali, saya nitp batik Bali. pasti nanti saya ganti deh uangnya. Thanks.
May 3rd, 2008 at 9:22 pm
Mbak ku sing ayu…apa kabare? setuju banget sama artikel ini…sekarang sedang jadi trensetter ditempat baru, minimun 2 kali seminggu mbatikan
miss you…
May 4th, 2008 at 8:12 pm
Miss u too Ute…………..Sekarang aku hampir tiap hari nih pakai batik.
Gimana tempat baru…….cerita-cerita dong…….
May 8th, 2008 at 7:59 am
Lisa, thanks for this article. Saya asli Pekalongan, semua orang di rumah (ibu, kakak, adik, mertua) produsen batik sejak dulu. Adik saya punya kios online batik, namanya http://www.pasarbatik.com - silakan mampir kalau ada waktu.
May 20th, 2008 at 9:39 pm
Siip!! Setuju untuk membudayakan batik. Semarang juga lagi rame-ramenya mengacarakan batik. Maksudnya, banyak acara yang men-dress code-kan orang dengan batik.
Jadi punya ide untuk ngajakin temen2 batikan nih…
May 29th, 2008 at 7:38 pm
Hi,
Visit us at http://www.soganvillage.com!!!
ok!
June 12th, 2008 at 3:49 pm
Mbak aku minta info dong dimana bisa dapat kain batik seperti yang difoto blog ini ada motif yang aku sedang cari cari, kaloboleh bisa kontak saya di 081804077211. Terima kasih banyak asap ya mbak.
June 13th, 2008 at 7:54 pm
Mas Arie, batk itu saya beli di pameran Inacraf April lalu. saya lupa apa nama penjualnya. maklum di pameran. Tapi rasanya motif semacam itu ada di pasar kok. Tks.
June 27th, 2008 at 8:57 am
Mba, mau tanya nih
Bedanya batik buatan Yogya, Solo sama Pekalongan apa ya? dari segi kualitas gimana mba ?
Terima Kasih..
June 27th, 2008 at 1:31 pm
Wah, mungkin jawabannya kurang memuaskan ya, karena aku bukan ahli batik. Aku hanya penyuka batik.
Menurutku, kalau kualitas sih sama aja. DI pekalongan ada batik bagus, tapi ada juga yang jelek. Kualitas batik ditentukan bukan dari daerah mana, tapi karena bahannya, tehnik pembuatan (tulis, cap, mesin). Semua daerah memproduksi batik dari kualitas rendah sampai yang bagus, seperti batik tulis yang harganya memang mahal. Kalau aku, cenderung memilih apa corak nya pas untuk aku atau tidak. Setiap daerah punya khas masing-masing. Jadi itu soal selera. Tapi ada batik yang tidak aku sukai, yaitu batik bikinan Malaysia, yang jelas-jelas menjiplak, tapi ngaku asli. GItu mas Achmadi. Salam,
August 21st, 2008 at 10:11 am
kalo ada yang ingin tahu macam2 koleksi kain batik tulis madura, bisa nih main2 ke situs http://www.batikmadura.net.
ada lumayan banyak koleksi batik tulis yang kami pajang disana.
mungkin bisa buat nambah koleksi anda.
sekalian y minta masukan tentang situs nya, maklum baru rilis,hehehe
terima kasih
January 25th, 2009 at 8:28 am
Hai… salam kenal…
Kami mau menawakan kain batik tulis madura full, bukan cap bukan campuran, jenis sarung ataupun jarit, dengan kisaran harga Rp 100 rb - Rp 300 rb. Kami juga menawarkan batik gentongan Rp 800 rb - Rp 1,3 jt. Atau 1/2 gentongan dari harga Rp 500 rb - Rp 650 rb. Kalau berminat hub kami di 021 94674575 atau 081210858027
Terima kasih
February 23rd, 2009 at 2:25 am
hai……..salam kenal
aku mau menawarkan batik tanjung bumi ( madura ) asli soalnya aku asli orang madura and kebetulan batik itu di buat oleh orang tua saya sendiri termasuk juga saya,,
kualitas nya juga bagus mungkin ibu sudah kenal dengan batik tanjung bumi kami menyediakan batik tulis dan cap harga nya mulai dari 100ribu sampai 2juta…kalau berminat please contact me in ( hendys_m5vo_aneh_@ymail.com )
thank you
March 9th, 2009 at 6:22 am
halo salam kenal mbak, memang sebagai warga yg mencintai khasanah budaya bangsa hendaknya kita harus selalu mencintai seni budaya bangsa sendiri, khususnya batik, karena batik adalah suatu karya seni yang tidak semua bangsa memilikinya