The Power of Blackberry

Pekan lalu adalah masa yang lumayan sibuk buatku. Sejak awal minggu, isinya hanya meeting dan meeting terus.henry.jpg

Kamis pukul 04.00 aku sudah meninggalkan rumah untuk mengejar pesawat pukul 06.10 ke Bali, untuk meeting (lagi).

Jumat, aku pulang dari Bali, dan sengaja pilih flight siang (pukul 13.00 waktu Bali) dengan pertimbangan masih sempat ke kantor, dan bisa ikutan sarasehan blogger, yang diselenggarakan Dagdigdig, sebuah free blog hosting lokal di Taman Menteng, Jakarta Pusat.

Manusia punya rencana, alam pun punya mau yang lain. Saat penerbangan sudah sekali kepak sayap sampai Jakarta (tepatnya di atas Indramayu), pimpinan penerbangan mengumumkan bahwa pesawat kami (GA 407) tidak bisa mendarat di Cengkareng. Waks!

Hujan sejak pagi mengakibatkan genangan air, kabut di bandar udara, dan jarak pandang hanya 100 meter. Padahal kata para pakar penerbangan, jarak aman setidaknya adalah 600 – 800 meter.

Selang 10 menit kemudian, pilot mengumumkan bahwa pesawat akan mendarat di Juanda, Surabaya. Itu artinya menuju arah balik. Sekitar pukul 15.15 pesawat yang aku tumpangi berhasil mendarat di bandara Juanda.

Pesawat berjalan merayap melalui runway, dan mendadak berhenti sebelum sampai di posisi parkir. Lho?

Dari pengeras suara di dalam pesawat diumumkan bahwa pesawat masih antre untuk bisa parkir karena ada 29 pesawat yang juga sedang merapat.

Alhasil, pesawat berpenumpang 160 orang ini pun berhenti dan parkir di runway. Dan belum ada kepastian apakah penumpang akan diturunkan atau bagaimana. Yang pasti kami semua harus menunggu di dalam pesawat.

Selama menunggu (dan tak pasti berapa lama), macam-macamlah perilaku penumpang. Ada yang ngerumpi, ada yang sibuk bertelepon, ada pula yang bongkar tas mencari buku bacaan.

Aku dan 2 orang kawank dari XL pun sibuk berkegiatan. Rudi mengeluarkan laptop dan data card untuk browsing email. Mayhendri yang biasa pegang Blackberry pun sibuk baca email.

Aku? Anda pasti tahu apa yang kulakukan, mencatat peristiwa tersebut, dan jepret-jepret suasana dalam pesawat. Hasilnya, Anda sudah sempat membacanya di Detikcom.

Pesawat dialihkan ke Surabaya, eh harus tunggu 29 pesawat parkir. Aku bikin laporan, foto dan mengirimkannya melalui Blackberry yang memang selalu menemaniku. Prosesnya pun cukup cepat, materi kukirim pada puku 15. 45, pada 16.19 berita sudah nongol di kanal Detiknews.

Sejujurnya ini adalah pengalamanku pertama membuat mobile reporting untuk sebuah portal berita. Sebelumnya aku memang sering kirim live report (info dan foto) untuk iseng dan kukirim ke teman-temanku. Semisal, info dan foto jalanan macet, pemandangan indah, barang bagus di mal, atau hal-hal lucu yang kutemui di jalan.

Kawanku, yang juga pengguna Blackberry, ternyata sudah memanfaatkan Blackberrynya untuk nge-blog. Lihat saja di Henry Wijayanto.

Yang pasti, aku memang sudah nggak bisa lepas dari Blackberry. Suamiku boleh saja ketinggalan di rumah, tapi tidak Blackberryku. Karena, ada lebih dari 5 account emailku (termasuk email kantor) dapat kuakses dari BB, setiap saat, melalui layanan push mail BB, dan real time connectivity.

Akoe juga bisa chatting, synchronize agenda, browsing, motret, dan tentunya layanan dasar lainnya seperti ponsel.

What a technology … what a Blackberry.

1 Response

  1. Abul
    Reply
    27 October 2008 at 9:55 pm

    Mas Erik tetap seperti dulu. Komentar dengan kalimat nyastra yang belok kiri kanan. Saya pengguna BlackBerry dan saya juga masih menyempatkan diri bercengkrama dengan buku. Bahkan dari BlackBerry saya bisa menemukan buku apa yang akan menjadi bacaan saya selanjutnya.

    Toh melek informasi dan memperdalam intelektualitas tidak melulu melalui buku secara konvensional yang fisiknya mas erik pegang selama ini.

    Blog nya makin canggih mas, semoga ndak di awang awang… hahahahaha

Leave A Reply

* All fields are required

*