Kamis, 23 April 2026, saya sudah meninggalkan rumah di Pamulang pukul 04.10 pagi. Jam segitu bahkan ayam pun masih mempertimbangkan untuk bangun. Dari Pondok Indah lanjut ke rumah mbak Nancy di Jeruk Purut. Lalu berangkatlah kami berempat (saya, mbak Nancy, mbak Devi, mbak Ida) menuju Bandung via tol Cipularang.
Perjalanan terasa cepat. Ngobrol, ngemil, hampir tidur, lalu bangun lagi hanya untuk ikut tertawa. Drama pagi dimulai ketika kami menyadari fasilitas cup holder mobil Alphard ternyata tidak adil. Saya di sisi kanan dapat dua tempat minum plus slot HP. Mbak Ida di kiri hanya satu. Sejak saat itu, perjalanan kami diwarnai isu kesenjangan sosial cup holder.

Absen dulu ya 13 perempuan adalah: Coach VA, dok Ayus, Ayu, mbak Puri, Ajeng, mbak Nancy, mbak Devi, mbak Ida, Rieke, Ari, Retno, Deline, saya.
Jam 08.00 kami mendarat di Two Cents Café. Perut sebenarnya masih penuh stok camilan, jadi aktivitas utama langsung jelas: foto-foto dan tiktokan. Karena kalau sudah ada mbak Ayus, tidak ada konsep “sekadar makan”. Konten harus jadi.
Stop berikutnya: Makjay Coffee. Saya yang bukan peminum kopi memilih jalur aman: antre di Primarasa beli picnic roll titipan anak lanang. Masih pagi tapi antreannya sudah seperti konser gratis. Sebelum lanjut, kami sempat mampir ke Group Home Living, toko perlengkapan rumah di seberang. Entah kenapa, ibu-ibu selalu tertarik melihat barang rumah orang lain.
Lanjut ke HGL Butik. Ukuran toko kecil, tapi daya racunnya besar. Saya keluar membawa jaket untuk anak wedok, rompi untuk bergaya. Awalnya cuma lihat-lihat. Memang semua pembelian besar selalu dimulai dari kalimat itu.

Menjelang siang, “kampung tengah” mulai demo. Kami langsung menuju RM Pandanwangi, Patuha. Untung sudah dibooking, karena energi rombongan lapar itu tidak bisa dinegosiasikan. Makan berlangsung cepat, fokus, dan penuh dedikasi.

Sementara itu mbak Ayus menjalankan peran penting sebagai Menteri Jastip Nasional. Otak-otak Merry, banana cake Tjilaki, ayam Panaitan frozen — semua sudah diatur sebelumnya. Efisiensi level emak-emak profesional.
Setelah kenyang, kami menuju Adidas Dago. Sebagai rombongan pelari, ini kunjungan wajib. Saya sendiri bukan jamaah tiga garis, jadi kontribusi saya lebih ke inspeksi fasilitas toilet.
Berikutnya Yoghurt Cisangkuy. Semua pesan yoghurt, saya pesan es lemon tea. Konsistensi adalah kunci hidup.

Rombongan lalu berpencar: ada yang berburu cuanki, ada yang menuju Haykama Eyewear, toko kacamata hits anak muda Bandung. Modelnya keren, harganya ramah, dan tiba-tiba semua merasa perlu sunglasses baru meski tujuan awal hanya “temenin”.

Inilah outlet terakhir. Secara teori.

Karena praktiknya, kami masih mampir ke apartemen mbak Ida di Ciumbuleuit, lalu tentu saja — karena ini Bandung — belum sah tanpa dessert terakhir di Bisou Patisserie.
Perjalanan pulang berlangsung damai. Hampir semua tertidur. Energi habis bukan karena olahraga, tapi karena itinerary yang lebih padat dari jadwal kunjungan menteri.
Sekitar pukul 20.30 tiba di Jeruk Purut. Tapi belum boleh pulang. Masih ada sesi makan malam. Karena ternyata perut perempuan selalu punya ruang cadangan misterius.
Hampir pukul 22.00 saya akhirnya tiba di rumah Pamulang dengan selamat, membawa banyak belanjaan, sedikit sisa tenaga, dan kenangan menyenangkan.

Kesimpulan hari itu sederhana: latihan strength ternyata bukan cuma untuk otot, tapi juga untuk survive trip tek-tok 1 hari ala Supermarket Sweep.
Dan ya… kami siap mengulanginya lagi.
