My Weekend Getaway: Jogja International Heritage Walk 2025

Adventure kali ini saya jalani bersama beberapa teman eks Camino: Lala, Kiko, dan Maya, serta teman-teman dari petualangan sebelumnya: Waerebo, Gunung Penanggungan, dan Gunung Ijen, yaitu Sari Fauziah dan Nadine (putrinya Lala). Dalam perjalanan, kami juga bertemu teman-teman baru yang akhirnya menjadi kawan sepeziarahan.

Memang begitulah alam: selalu menjadi hub paling asyik untuk menjalin pertemanan dan memperluas lingkar perjalanan hidup.

Hari Pertama — Sumberharjo, Prambanan (Hill Route)

Pagi itu Jogja sendu. Gerimis turun saat kami— sekitar 2.000 orang—mulai melangkah pukul 06.15. Baru beberapa menit berjalan, langsung disambut tanjakan panjang yang nggak kaleng-kaleng, hampir sampai kilometer 5. Jalan berbatu, tanah basah, dan aroma khas kotoran ternak membuat saya terlempar ke kenangan saat menempuh Camino bulan April lalu : menantang, natural, dan suasana desa yang autentik.

Memasuki pukul 08.30, cuaca berubah total. Gerimis berganti terik, dan matahari makin menyengat. Ketika menemukan water station berisi es sari tebu di tengah sawah, rasanya seperti oase—dua gelas langsung tandas, dan masih terasa kurang.  Menjelang 5 km terakhir saya bahkan sempat mampir beli es teh di perempatan untuk tambahan tenaga. Lutut yang belakangan suka ‘ngambek’ juga sempat protes, membuat saya beberapa kali berhenti untuk menyemprotkan salonpas spray.

Syukurlah semua stempel lengkap, dan saya bisa finish jauh di bawah COT/cut of time. Hari yang melelahkan dan panas, tapi  membahagiakan.

Hari Kedua — Wukirsari, Cangkringan (Trail Route)

Lokasi petualangan berpindah ke utara, dengan jalur trail yang lebih variatif: jalan setapak, tanah basah, bebatuan, hutan kecil, hingga pematang sawah selebar 25–30 cm. Secara teknikal lebih menantang, tapi justru terasa lebih ‘manusiawi’ karena area teduhnya lebih banyak—meski panas tetap saja menyapa. ?

Water station hari kedua  lebih menggoda. Kami jadi betah beristirahat sambil menikmati lotek, gethuk, dawet, bubur sumsum, rebusan, bakpia, dan lainnya. Belum lagi semangka dan mangga segar yang terasa luar biasa di tengah udara panas. Sepanjang jalur, warga setempat juga menyuguhkan camilan dan minuman rumahan: hangat rasanya, hangat juga keramahannya.

Kami sepakat menjalaninya sebagai wisata. Yang penting finish tetap di bawah COT, kan… Kapan lagi bisa berjalan 20 km sambil menikmati kuliner desa yang begitu otentik?

Cheering warga dari anak-anak hingga simbah-simbah membuat suasana makin meriah. Ditambah rest area yang penuh jajanan tradisional, dan  hiburan kesenian lokal —perjalanan hari kedua terasa seperti piknik budaya yang menyenangkan.

40 km, Dua Hari, Penuh Rasa Syukur

Tantangan dua hari berjalan (hill & trail) sejauh total 40 km akhirnya selesai juga. Weekend getaway kali ini bukan sekadar keluar dari rutinitas, tetapi menemukan kembali rasa syukur lewat langkah-langkah kecil di alam dan desa Jogja.

Jogja memang selalu punya cara untuk membuat setiap perjalanan terasa seperti pulang. Pengalaman adventure yang penuh cerita, finish dengan bahagia, dan pulang membawa Royal Medal dari GKR Mangkubumi.

Catatan untuk Penyelenggara:

JIHW 2025 sebagai piknik budaya & kuliner memang sangat menyenangkan. Namun jika juga ingin dibingkai sebagai walking race, ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.

1. Pengambilan race pack lebih lambat dibanding standar event race, meski meja sudah dibagi beberapa.

2. Informasi via WhatsApp tidak merata—saya menerima pesan, tetapi beberapa teman tidak.

3. Kegaduhan saat start hari pertama: MC mengubah arah lining peserta, membuat 10K dan 7K harus minggir dulu. Dari awal diumumkan menghadap Selatan (?), setelah peserta berbaris dengan urutan 20 km, 10 km, 7 km, lalu harus balik arah, sehingga yang kategori 10 km dan 7 km harus minggir dulu, menunggu rombongan 20 km jalan dulu.

4. Perbedaan treatment peserta internasional dan nasional. Ini pengalaman pertama saya mengikuti event race,  yang memberikan  perlakuan berbeda  peserta berdasarkan asal negara, bukan kategori lomba. Antara lain terjadi  di desk registrasi  start line,  di check point, dan servis refreshment untuk peserta bule di area start.  Harusnya dipahami bahwa aktivitas ini memang event internasional, tapi bukan berarti peserta internasional (dari luar negeri) yang harus dinomor satukan. Peserta domestik bukanlah kanca wingking yang harus membuntut, ataupun sekedar pelangkap saja. Semua peserta punya hak dan perlakukan yang sama.

5. Signage rute kurang informatif. Hanya ada tanda “20 km / 10 km / 7 km” tanpa info jarak yang sudah ditempuh atau sisa jarak. Beberapa peserta yang menjadi guide bagi peserta internasional mengeluhkan hal ini. Para guide tidak bisa menjawab, ketika si bule bertanya: perjalanan masih berapa km lagi?.

6. Informasi dasar relawan kurang memadai. Contoh: relawan di lokasi start hari kedua saat ditanya Lokasi toilet, tidak tahu. Membekali relawan dengan info penting sangat vital—seperti yang saya lihat saat F1 perdana di Singapore (2008).  https://vlisa.com/2008/10/03/a-part-of-history/

Leave A Reply

* All fields are required