Jalan jalan ke Rangkasbitung

Menemukan Yang Dekat

Rangkasbitung — jaraknya hanya sekitar 100 kilometer dari Pamulang, atau sekitar satu jam lima belas menit dengan KRL. Tapi baru setelah lebih dari tiga puluh tahun tinggal di Pamulang, saya akhirnya sempat menjelajah kota yang ternyata menyimpan banyak cerita ini.

Pepatah lama pun terasa pas: “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” Tempat wisata di kota kota yang jauh sudah sering saya datangi, tapi yang dekat ini justru belum pernah saya singgahi.

Rangkasbitung adalah kecamatan sekaligus ibu kota Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Nama Rangkasbitung berasal dari bahasa Sunda: rangkas berarti “tanah lapang,” dan bitung adalah nama sejenis pohon yang dahulu banyak tumbuh di daerah ini. Jadi, secara harfiah berarti “tanah lapang pohon bitung.”

Berangkat Spontan

Suatu Sabtu pagi tanpa rencana khusus, saya dan suami memutuskan untuk jalan-jalan ke Rangkasbitung. Alasannya sederhana: di hari Sabtu biasanya KRL tidak terlalu padat.

Sekitar pukul delapan kami berangkat dari Stasiun Sudimara. Perjalanan kereta ke Rangkas sekitar 1 jam 15 menit terasa cukup nyaman — meski ternyata kereta tetap ramai. Untung saja, sebagai penumpang kategori lansia, kami masih mendapat tempat duduk.

Museum Multatuli: Jejak Sejarah di Kota Kecil

Tujuan pertama kami adalah Museum Multatuli, yang berjarak sekitar 1,8 km dari stasiun. Kami memilih jalan kaki santai menuju ke sana. Museum ini berada di dekat alun-alun Rangkasbitung, berdampingan dengan Perpustakaan Saidjah dan Adinda, perpustakaan daerah terbesar di Banten. Menjelang pukul sepuluh, matahari mulai terik, tetapi semangat kami belum surut.

Nama Multatuli tentu tidak asing — nama pena dari Eduard Douwes Dekker, penulis Belanda yang dikenal lewat novel Max Havelaar. Sebagai pejabat kolonial di Lebak, ia menulis kritik keras terhadap ketidakadilan dan penindasan rakyat pribumi.

Bangunan museum yang kini menjadi cagar budaya dibangun tahun 1930 dan pernah digunakan sebagai kantor kawedanan, Hansip, dan BKD Kabupaten Lebak. Setelah dipugar pada 2016, museum ini diresmikan oleh Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya, pada 2 Februari 2018.

Begitu masuk area museum, kami disambut patung besar Multatuli yang duduk tenang — spot favorit pengunjung untuk berfoto, termasuk saya. Di sebelahnya ada toko kecil yang menjual suvenir dan batik khas Lebak.

Museum ini memadukan suasana kolonial dengan sentuhan modern. Di ruang pertama terpampang kutipan terkenal: “Tugas seorang manusia adalah menjadi manusia.” — Multatuli

Beberapa ruang pameran tematik menampilkan sejarah kolonialisme, perjuangan rakyat Lebak, hingga tokoh-tokoh yang terinspirasi oleh Multatuli seperti Soekarno dan R.A. Kartini. Di bagian akhir, terdapat ruang khusus yang menampilkan tokoh-tokoh dari Rangkasbitung seperti WS Rendra dan Tan Malaka.

Batik Lebak

Batik Lebak dan Goa Maria Bukit Kanada

Selesai berkeliling museum, kami berencana melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Bukit Kanada. Sebelum itu, saya sempat bertanya pada penjaga toko suvenir tentang batik khas Lebak. Ternyata hanya berjarak sekitar 20 meter dari museum. Kami pun mampir sejenak — dan saya “mengadopsi” sepotong kain batik seharga Rp200 ribu untuk menambah koleksi wastra pribadi.

motif batik khas lebak

Dari museum ke Goa Maria jaraknya sekitar 3,6 km. Kali ini kami memilih naik taksi daring, hanya sekitar sepuluh menit perjalanan.

Damai di Bukit Kanada

Goa Maria Bukit Kanada terletak di Narimbang Dalam, Rangkasbitung. Suasananya sejuk, hijau, dan menenangkan — jauh dari kebisingan kota. Tempat ini dibangun tahun 1988 atas inisiatif umat Katolik Paroki Rangkasbitung dengan bantuan Suster Fransiskan Sukabumi.

Menariknya, nama “Bukit Kanada” adalah akronim dari Bunda Kita Kampung Narimbang Dalam. Tempat ini menjadi lokasi ziarah yang damai dan asri. Di dalam kompleks terdapat Grotto Kebangkitan, Aula Santo Yosef, serta Jalan Salib besar dan kecil dengan 14 perhentian.

Kami memilih rute jalan salib kecil yang tidak menanjak, cukup ditempuh dalam waktu 10 menit. Di sepanjang tangga berdiri patung 12 rasul Yesus, serta replika makam Yesus di ujung jalur.

Patung 12 Rasul

Menutup Hari di Warung Nasi Oyo

Selesai berkeliling ‘Kanada,’ kami memutuskan makan siang sebelum kembali ke stasiun. Sopir taksi daring kami bersedia menunggu — sebab, katanya, taksi online tidak diperbolehkan menjemput penumpang di lokasi itu oleh sopir angkot setempat.

Atas saran penjaga toko batik, kami makan di Warung Nasi Oyo, tepat di depan stasiun. Menu rumahan yang sederhana tapi menggugah selera: gepuk atau ayam khas Lebak, tahu-tempe, emping melinjo, bakwan jagung, sambal, dan lalapan segar. Entah karena lapar atau memang enak, rasanya sungguh nikmat.

Pulang dengan Hati Gembira

Setelah makan kenyang dan murah (makan kami berdua total hanya sekitar Rp70 ribu!), plus oleh-oleh gula aren, kami berjalan ke stasiun. Kereta menuju Jakarta siang itu cukup padat — rupanya banyak juga warga Rangkasbitung yang berwisata ke ibu kota di akhir pekan. Syukurlah kami masih mendapat tempat duduk.

Perjalanan pulang selama satu jam lebih terasa singkat; saya bahkan sempat tertidur dan baru terbangun saat kereta memasuki Stasiun Cisauk.

Piknik spontan setengah hari ini cukup  menyenangkan. Murah meriah, penuh cerita, dan memberi kesadaran sederhana: kadang,  keindahan dan pengalaman berharga tidak selalu ada di tempat jauh — kadang justru menunggu ditemukan di sekitar kita sendiri.

 “Terkadang perjalanan terbaik bukan yang paling jauh, tapi yang membuat kita melihat kembali apa yang selama ini kita lewatkan.”

1 Response

  1. Gradesi
    Reply
    20 October 2025 at 9:06 pm

    Keyeeen ceritanya, ngalir dgn enak, berasa ikut piknik ke Rangkasbitung

    Beda emang kl tulisan pakar yaakk…

Leave A Reply

* All fields are required