Special thanks to special persons

  1. Bapak dan ibu.
    Almarhum bapak Suwarno Markus dan alm ibu Sri Moeljarti adalah produsen dan sponsor saya lahir ke dunia. Berkat kerjasamanya membuat adonan, pada 1 Juli 1963 jam 09.00 di Yogyakarta, untuk pertama kali saya menghirup udara dunia. Walau kenangan bersama bapak hanya singkat (kurang dari 3 tahun) namun saya bangga ketika bersua dengan orang-orang mengenal bapak, dan mereka mengatakan: “kowe plek tenan karo bapakmu”. (wajah nya persis bapak, red).

    Di usianya yang masih muda, ibu harus kehilangan suami dengan meninggalkan 1 anak usia balita dan 1 masih di dalam kandungan. Ibu rumah tangga yang mendadak harus menjadi single parent. Saat terjadi banjir besar di Solo pada 1966, ibu dengan perut besarnya turut berjalan di tengah banjir untuk mengungsi. Sehingga ketika adik saya lahir,sempat dijuluki juru silem (penyelam).

    Sejak itu saya sempat nginthil ibu – yang harus bekerja – pindah dari Yogya, Salatiga dan Solo, sebelum akhirnya saya nyusul adik saya — yang sudah lebih dulu berada di asuhan eyang — ke Pare, Kediri. Kami berpisah, ibu ke Surabaya karena mendapat pekerjaan di ibukota Jawa Timur ini.
  2. Eyang Kung dan Eyang Ti,
    Bapak adalah anak sulung dari 8 bersaudara dari pasangan eyang Markus dan eyang Soepiyah. Eyang kung adalah kepala sekolah SMP Katolik di Pare, eyang ti – kepala sekolah SDN Pare 1. Selain memutuskan untuk mengasuh kami berdua di Pare, beliau juga memberikan mandat kepada putra putrinya (adik adik bapak),
    seperti ini: “Lisa menjadi tanggung jawabnya Lik (om Sudibyo Markus), Revi (adik saya) tanggung jawabnya To (om Suharto Markus)”. Begitulah titah kepala suku Markus, jadilah kami berdua menjadi anak asuh keluarga besar Markus.

    Revi diasuh eyang di Pare sejak umur 2 tahun, sementara saya menyusul ke Pare ketika masuk usia SD. Umur kami selisih 3 tahun. Eyang memang mendidik kami dengan disiplin ketat, namun beliau juga mengasuh kami dengan penuh kasih sayang.

    Beliau berdua tak rela jika kami harus tumbuh dengan minim kasih sayang. Pun, adik-adik bapak – yang tinggal di berbagai kota – juga penuh perhatian. Kala itu, ketika mendapat kiriman hadiah dari om om dan bulik selalu menjadi kesenangan tersendiri bagi kami. Eyanglah yang menjadikan hidup kami tetap terasa ‘komplit’ dan penuh cinta kasih.
Eyang Kung dan Eyang Ti
  1. Om Lik & bulik Tin
    Om Sudibyo Markus dan isterinya bulik Tin (Sapartinah) adalah pengganti orang tua saya. Eyang Pare memberi mandat kepada om Lik –begitu saya memanggilnya –untuk mengurus saya. Artinya: segala kebutuhan sekolah saya, om Lik yang bertanggung
    jawab. Kini anak-anak saya memanggilnya eyang dokter (memang beliau dokter lulusan UGM).

    Om Lik dan bulik Tin tak hanya mendukung pendidikan saya, tetapi beliau berdua juga yang menikahkan kami pada 1988. Pernikahan ala koboy, kata om Lik. Dan ketika kami kemudian memilih membeli rumah di kawasan Pamulang, om Lik pun kemudian nyusul pindah ke Pamulang.

    Bagi saya, om Lik dan bulik tak sekedar sponsor hidup, tetapi ya sudah jadi orang tua saya juga. Kebetulan saat ini, jarak tempat tinggal kami juga hanya selemparan batu – sangat dekat, 10 menit bermobil, 30 menit jika jalan cepat melalui jalan-jalan tikus. Selama masa pandemic ini, hubungan kami lebih banyak diekspresikan dengan saling kirim makanan, untuk mewakili kerindukan kami untuk bertemu.
Om Lik dan Bulik Tin
  1. Suami dan anak-anak.
    And last but not least, adalah keluarga saya, ‘rumah’ tempat saya selalu kembali. Mau sejauh apapun saya melangkah, ada tempat disebut “rumah” sebagai tempat untuk pulang. Kerap dengan segenap kegembiraan, tak jarang pula dengan membawa kelelahan dan kesesakan.

    Dan keluarga lah yang setiap saat menanti dengan segenap cinta. Siapa pun saya, mau seperti apapun saya, mereka menerima saya dengan segenap kelebihan dan kekurangan. Cinta yang mereka miliki adalah cinta yang sudah terpupuk selama berpuluh-puluh tahun. Keluarga adalah mitra perjalanan sepanjang hidup.

    Kami pasangan berbeda keyakinan yang nekad menyatukan diri dalam ikatan pernikahan. Puji Tuhan hingga saat ini, kami bisa berjalan beriringan seperti sepasang sepatu, kanan dan kiri tahu kapan melangkah dan kapan harus berhenti. Dikarunia 2 orang anak ‘istimewa’, yang kata beberapa teman: ekstrim kiri dan kanan. Yang sulung slow learner, yang bungsu fast learner. Namun, ketidak sempurnaan ini yang menjadikan kami menjadi sempurna. Setidaknya sempurna versi kami yang menjalaninya.

    Selama setahun lebih pandemic berlangsung, dengan kesibukan work from home dan study from home, kami berempat  selalu  bersama nyaris selama 24 jam. Pasti ada bosen dan jenuhnya, namun selebihnya makin ke sini, kami merasa makin menikmati berada di rumah dengan segala tetek bengeknya, makin memahami satu dengan yang lainnya.
Keluarga

Tuhan telah mengirim orang-orang istimewa dalam hidup saya,  ada yang membuka jalan, ada yang menemani bertumbuh, ada pula yang hadir untuk berjalan bersama meniti kehidupan. Terima kasih untuk cinta kasih yang tulus, terima kasih untuk tangan yang selalu ada saat saya butuh pegangan, terima kasih untuk kenangan yang akan menjadi cerita abadi sepanjang masa.

Leave A Reply

* All fields are required