PR di era digital

Perkembangan pesat dunia internet, telah mempengaruhi banyak hal. Contoh yang paling anyar,  adalah bahwa kemenangan Obama menjadi presiden Amerika Serikat adalah juga karena peran internet. Kepiawaiannya memanfaatnya media  jejaring sosial di dunia maya lah yang membawanya  ke Gedung Putih.

Dalam  dunia Public Relation memang intinya tetap pada 2 hal, yakni penciptaan content dan optimalisasi context. Namun,  dengan  teknologi web 2.0, memang sudah mengubah pola PR.  Kanal ini  memungkinkan interaktifitas, pesan komunikasi bisa diciptakan dan dikirim kapan saja, dengan saluran yang nyaris tanpa batas.  Sejumlah kelebihan media sosial ini adalah:  berbasis web 2.0, gratis, viral, word & mouse, word of blog, dinamis, dan on timeIt’s an opportunity and  challenge.

 jaringan media sosial di dunia maya
jaringan media sosial di dunia maya

Dunia jejaring media sosial memang tak terbatas. Dari milis, blog, facebook, friendster, MySpace, Plurk, Youtube, dan masih banyak yang lainnya.  Tidak seperti mainstream media  yang diwarnai keterbatasan, media sosial di dunia maya memang bisa meningkatkan “popularitas” citra perusahaan, produk, servis, bahkan citra individu. Jejaring media sosial  juga bisa dimanfaatkan untuk tukar menukar gagasan, ilmu pengetahuan, masukan dan lainnya.

Dalam hal ini saya meyakini, bahwa praktisi PR yang tidak melekatkan diri dalam sosial media ini,  akan susah meraih  sukses di era digital ini.  Kenapa?  1. Reputasi, relationship dan sukses korporasi bisa diciptakan atau sebaliknya dirusak melalui media sosial.  2. Nilai dasar dari PR adalah membangun dan memelihara relationship.  3. Media sosial adalah domain baru dari era modern dari relationship dan kredibilitas. 

Karenanya, memahami dan mengenali cara kerja jaringan sosial adalah kewajiban.  Untuk melihat peluang dan ancamannya.  Sehingga, pada akhirnya mampu  memanfaatkan dan mengoptimalkan kanal ini sebagai strategi komunikasi yang ditanganinya.

Apa sih peluangnya? Antara lain,  Masyarakat/audience bisa mendukung perusahaan, mereka  bisa berkolaborasi dengan perusahaan, dan masyarakat bisa menciptakan konten tentang perusahaan.  Dan kemampuan word and mouse-nya (viral) tentu saja memungkinkan pesan positif menyebar seperti Long Tail.
Nah, selain nilai positifnya, tentu saja tantanganya juga banyak. Misalnya, kritik sama dengan  viral dan akan menyebar secara cepat. Hal-hal yang tidak benar bisa cepat sekali “mengudara”,  suatu damage di jejaring sosial biasanya akan tersimpan lama,  dialog negatif bisa menjadi berita On The Record secara permanen. Dan yang pasti pesaing akan bisa melihat kelemahan perusahaan (atau produk/servis) Anda.

Saat ini, secara sporadis, sejumlah perusahaan di Indonesia sudah mulai melirik social media sebagai bagian dari PR campaign-nya. Hanya yang perlu di sadari, bahwa social network media masih belum atau bahkan tidak bisa dilepaskan dari strategi keseluruhan komunikasi perusahaan yang masih terkonsentrasi ke media tradisional.

Alat ukur  sukses strategi komunikasi di jejaring media sosial ini ada banyak cara. Seperti popularitas yang hulunya berasal dari trafik  internet  serta interaktivitas dalam umpan balik maupun komentar, dan masih banyak lagi.

Namun, yang pasti ukuran keberhasilan kampanye di media ini tentu tetap harus selaras dengan sasaran perusahaan, seperti meningkatkan penjualan produk dan jasa, meningkatkan pangsa pasar, memperkuat image perusahaan, merek dan posisi di pasar, menciptakan advokasi pelanggan,  meningkatkan kesatuan perusahaan, moral dan inovasi. Siapkah Anda?

2 Responses

  1. enwui
    Reply
    19 February 2009 at 11:31 am

    ya kadang “teriakan” orang di forum-forum bisa membuat “public opinion” yang belum tentu benar separah itupun bisa jadi separah itu 🙂

  2. 1 April 2009 at 11:42 am

    tapi dengan bertambahnya itu semakin besar mewujudkan gindonesian blogger goes to international

* All fields are required