Saat Tuhan Membawa Saya ke “Restricted Area”

Namun area Majelis Jemaat terasa seperti ruang yang “bukan untuk saya”. Ada semacam batas tak tertulis yang saya rasakan sendiri. Dengan status saya dalam pernikahan campuran (suami saya: muslim), saya menganggap ranah itu seperti wilayah terlarang yang tidak mungkin saya masuki. Sampai pada triwulan ke 2 tahun 2019, dua orang penatua datang melawat ke rumah dan menyampaikan undangan untuk melayani sebagai penatua.

Saya tidak bisa langsung menjawab.

Ada pergumulan yang cukup panjang. Setidaknya tiga pertanyaan besar memenuhi pikiran saya: apakah ini waktunya tepat? Apakah saya memiliki kemampuan untuk pelayanan seperti ini? Dan yang paling penting: apakah Tuhan sungguh berkenan?

Selama kurang lebih dua minggu saya membawa hal itu dalam doa, berdiskusi dengan keluarga — terutama suami — dan mencoba mendengar suara Tuhan di tengah segala keraguan saya. Sampai akhirnya, pada momen ulang tahun saya di bulan Juli tahun itu, saya menyampaikan jawaban melalui para pelawat: saya bersedia.

Akhir Agustus 2019, saya dilantik bersama 18 rekan sepelayanan. Kami kemudian menyebut diri sebagai “angkatan 1919” — atau, dengan nada bercanda, “penatua pandemi”. Sebab tak lama kemudian, Mei 2020, wajah pelayanan gereja berubah total menjadi online karena pandemi. Di titik itulah saya sadar: pelayanan di gereja sangat berbeda dengan dunia profesional yang selama ini saya kenal.

Dalam dunia kerja, saat berpindah divisi atau pekerjaan, biasanya saya cukup tahu apa yang harus dipelajari untuk mengejar ketertinggalan. Tetapi dalam pelayanan gerejawi, saya merasa seperti benar-benar memulai dari nol.

Saya kembali bertanya kepada Tuhan: apa yang harus saya lakukan agar keberadaan saya di Majelis Jemaat bisa sungguh berdampak?

Sebab kalau bicara “modal”, rasanya saya sangat terbatas. Pemahaman teologi minim bahkan mungkin nol, pengalaman pelayanan tertentu pun tidak banyak. Namun Tuhan sering bekerja dengan cara yang sederhana dan nyaris natural. Suatu hari saya melihat brosur kursus Teologi Dasar dari STFT Jakarta. Karena saat itu pandemi, kelas diadakan secara online melalui Zoom sekali seminggu di malam hari. Saya pun mendaftar.

Dari sanalah perjalanan baru itu dimulai.

Saya mulai belajar bagaimana membaca dan menafsir Alkitab, mencoba memahami relevansinya bagi kehidupan masa kini, dan membawa pesan firman Tuhan ke dalam pergumulan nyata jemaat. Dan itu bukan proses yang mudah. Saat sore hingga malam, saya masih harus belajar lewat Zoom tentang hal-hal yang sejujurnya terasa “bukan saya banget.” Kadang terasa berat. Tetapi saya sadar, itu adalah konsekuensi dari keputusan yang sudah saya ambil sebelumnya.

Dan mungkin memang demikian cara Tuhan membentuk seseorang: bukan hanya lewat hal-hal yang kita sukai, melainkan juga lewat proses yang menuntut kita tetap bertahan, belajar, dan bertumbuh di wilayah yang tidak selalu nyaman.

Di saat yang sama, sebagai penatua Gereja Kristen Indonesia, saya juga harus memahami TaGer dan TaLak GKI, yang adalah tata gereja dan tata laksana yang menjadi dasar pengelolaan organisasi gereja. Saya mulai menyadari bahwa melayani di gereja bukan hanya soal kerohanian, tetapi juga soal tanggung jawab, kebijaksanaan, dan ketertiban dalam mengelola kehidupan bersama.

Ketika kemudian pada periode 2021–2022 saya mendapat tanggung jawab sebagai Sekretaris Umum MJ, “buku biru” TaGer itu menjadi semakin akrab dalam keseharian saya.
Tetapi memahami aturan tentu berbeda dengan menerapkannya dalam persoalan nyata di gereja. Dan di situlah saya kembali merasakan penyertaan Tuhan.

Tangan Tuhan bekerja dengan menghadirkan orang-orang yang menjadi tempat saya belajar dan bertanya. Ada Pdt. Henny Yulianti, yang saat itu melayani sebagai SekUm Sinode Wilayah Jawa Tengah; Pdt. Untari Setyowati, yang waktu itu sebagai WaSekUm Sinode GKI; serta Pdt. Em, Lazarus Purwanto, tetangga di Pamulang yang juga pengajar di STFT Jakarta. Mereka semua terlibat dalam komisi TaGer. Dari merekalah saya banyak belajar memahami pasal demi pasal, lalu menimbang bagaimana menggunakannya secara bijaksana dalam merespons persoalan gereja — tentu dengan tetap memegang etika kerahasiaan dan tanggung jawab dalam pelayanan gerejawi.

Puji Tuhan, saya telah menyelesaikan pelayanan kemajelisan 2 periode, akhir Agustus 2025 lalu. Hari ini, ketika melihat kembali perjalanan itu, saya menyadari satu hal sederhana: Tuhan tidak selalu memanggil orang yang merasa paling siap. Tetapi Tuhan mempersiapkan orang-orang yang bersedia menjawab panggilanNya.

Saya bersyukur karena lewat perjalanan ini, Tuhan perlahan membentuk keberanian dalam diri saya. Keberanian untuk menyiapkan renungan, memimpin persekutuan, membawakan firman, melayani ibadah remaja juga lanjut usia, hingga mengambil bagian dalam pelayanan yang dulu terasa jauh dari jangkauan saya.

Bahkan sampai hari ini, ketika ada komunitas di luar GKI Pamulang yang meminta saya membawakan firman dalam persekutuan mereka, saya masih merasa itu sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiran saya sebelumnya. Sebab selama ini, saya lebih sering diundang untuk berbicara karena profesi saya di bidang Public Relation, Strategic Corporate Communication atau Corporate Social Responsibility.

Dan mungkin memang begitulah salah satu cara Tuhan bekerja: membawa kita masuk ke tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, supaya kita belajar bersandar bukan pada rasa mampu, melainkan pada penyertaanNya.

Karena itu, ketika Tuhan memanggil — lewat kesempatan, pelayanan, atau tanggung jawab yang terasa terlalu besar — jangan buru-buru menolak hanya karena merasa tidak layak atau tidak siap. Bisa jadi justru di situlah Tuhan sedang membuka ruang pertumbuhan yang baru.

“Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap,…….” — Yohanes 15:16

Leave A Reply

* All fields are required