Pada suatu Minggu pagi, saya juga pernah melihat seorang CEO muda berdiri di pintu masuk Mal Kota Kasablanka. Ia bukan datang sebagai eksekutif, melainkan sebagai relawan gereja yang bertugas mengarahkan parkir jemaat. Hanya pelayanan sederhana yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Momen-momen seperti itu membawa saya kembali pada nasihat seorang senior ketika saya baru memasuki dunia kerja di industri media, puluhan tahun lalu.
“Jangan pilih-pilih tugas. Bahkan pekerjaan yang tampak remeh adalah tempat orang menilai siapa dirimu.”
Semakin bertambah usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa nasihat itu bukan sekadar prinsip profesional — tetapi juga prinsip rohani.
Tuhan sering kali membentuk kita melalui kesetiaan pada perkara kecil.
Bukan saat kita dipercaya memimpin banyak orang, tapi saat kita tetap setia ketika tidak ada yang melihat.
Bukan ketika nama kita disebut,
namun saat kita melayani tanpa dikenal.

Yesus mengajarkan prinsip ini dengan sangat jelas:
“Siapa yang setia dalam hal kecil, setia juga dalam hal besar.” — Lukas 16:10
Kesetiaan dalam hal kecil bukan sekadar soal tugas. Itu soal hati.
*Apakah kita tetap memberi yang terbaik ketika pelayanan terasa biasa saja bahkan terkesan remeh?
*Apakah kita tetap rendah hati ketika harus melakukan pekerjaan sederhana?
*Apakah kita bersedia belajar, bahkan ketika harus memulai lagi dari bawah?
Sering kali kita berdoa meminta tanggung jawab besar, tetapi Tuhan terlebih dahulu mempercayakan hal kecil. Bukan karena Ia meremehkan kita, melainkan karena Ia sedang mempersiapkan kita.
Meja yang dibersihkan.
Parkiran yang diatur.
Tugas-tugas kecil yang diselesaikan dengan baik.
Semua itu adalah ruang pembentukan.
Dalam pekerjaan, pelayanan sosial, maupun gereja, saya belajar bahwa tidak ada tugas yang sepele jika dilakukan bagi Tuhan. Yang menentukan bukan besar kecilnya pekerjaan, melainkan sikap hati saat menjalaninya.
Karena sering kali, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang besar melalui kesetiaan kecil yang hari ini hampir tidak terlihat.
