Punten, masih seputar narsisme

Kepalaku adalah gudang ide. Karena itu, tak jarang aku disambangi atau ditelepon kawan (bisa seprofesi atau bukan) untuk diajak diskusi.

arrow and achievement

Aku tahu, biasanya mereka sedang “looking for the idea” dan entah gimana biasanya lalu nyambung aja, dan muncullah kata, gimana kalau dibikin begini dan begitu, dan seterusnya.

Apa pun namanya, bagiku ini adalah karunia Tuhan. Contohnya, ketika melahirkan gagasan tema program CSR untuk XL “Indonesia Berprestasi” pada 2006, idenya juga muncul begitu saja.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan RI 2006, aku sempat mendengar pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau sempat menyampaikan sejumlah prestasi yang dicapai pemerintah, antara lain, keberhasilan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) asuhan Profesor Johanes Surya, yang mampu menggondol prestasi emas di APhO (Asian Physics Olympiad) VII tahun 2006 di Kazhakstan

Kebetulan aku mengenal Prof. Jo sejak 2002. Aku tahu bagaimana perjuangan dia dalam mendidik anak asuhnya di TOFI, dan susahnya mencari dana untuk keperluan tersebut.

Boleh dibilang selama itu, Prof. Jo lebih banyak didukung dan dibantu oleh para pribadi-pribadi yang peduli, dan sejumlah usaha swasta yang juga ingin mengapresiasi kiprah Prof. Jo dan tim TOFI.

Dari situ, aku sadar bahwa bangsa ini memerlukan prestasi untuk bisa dibanggakan. Sialnya, kita justru sedang paceklik prestasi. Oleh karena itulah, untuk menciptakan lebih banyak prestasi, perlu disokong banyak pihak dan pelaku usaha seperti XL.

Dukungan diperlukan untuk menstimulasi, mengapresiasi lahirnya prestasi anak-anak bangsa. Makin banyak, tentunya makin baik untuk bangsa ini.

Begitulah, embrio program Indonesia Berprestasi (IB) lahir pada September 2006, melalui sebuah seminar “Menuju Indonesia Berprestasi”. Dalam seminar tersebut Prof. Jo dan tim TOFI berbagi pengalaman tentang bagaimana menyiapkan anak-anak berprestasi di TOFI. Ibu Ratna Megawangi, sebagai pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF) memberikan inspirasi bahwa berprestasi bisa dilakukan oleh siapa saja. Beliau menekankan pentingnya pendidikan yang baik untuk anak-anak usia dini.

Seminar yang dihadiri ratusan peserta, dan mereka sangat antusias mendengarkan pengalaman para pembicara. Aku juga tak mungkin melupakan peran besar Bung Lukas Widjaya, Pemimpin Usaha Kompas, yang menyumbangkan 1/4 halaman warna gratis di harian Kompas untuk iklan pengumuman seminar tersebut.

Kemudian, IB pun dikembangkan juga melalui program apresiasi: Indonesia Berprestasi Award, yang pertama diluncurkan pada akhir Mei 2007. Baca beritanya di sini.

Dan aku ikut senang ketika melihat program IB bisa dijalankan berkesinambungan dan lebih baik tentunya. Begitu pun ketika ada perusahaan lain, yang aktif memberikan kontribusi penciptaan prestasi bagi negeri ini, aku sangat gembira.

Microsof Indonesia, misalnya, membuat program kompetisi yang dinamakan Microsoft Imagine Cup. Mereka memberikan kesempatan kepada anak-anak muda bangsa ini untuk berkreasi dan menciptakan perangkat lunak.

Tahun 2007, empat mahasiswa Teknik Informatika ITB berhasil merebut tiket final perebutan Microsoft Imagine Cup (MIC) tingkat dunia yang digelar di Korea. Mereka menciptakan software untuk penyandang buta huruf.

Ada juga program yang dilakukan Sampoerna, bertajuk Sampoerna untuk Indonesia. Tentunya masih banyak yang lainnya.

Melalui blog vlisa.com ini, aku ingin berbagi pengalaman, menyalurkan sebagian produksi ide yang selalu muncul di kepalaku. Nah, yang aku tulis tentunya yang relevan dengan kompetensi yang aku miliki.

Mungkin saja selama ini ada teman-teman yang mengirim SMS atau email ke aku, dan mengajukan usul agar menulis soal ini, itu. Sebagian bisa kupenuhi, tapi MAAF, ada juga yang tidak bisa.

Kenapa? Bisa jadi aku belum punya data/referensi yang memadai untuk bahan nulis, atau aku memang enggan untuk menulisnya, misalnya sejumlah issue yang lagi hangat di industri telekomunikasi. Atau memang aku tak memiliki kompetensi untuk membahas issue tersebut.

Rupanya, topik-topik yang aku tulis di blog juga memancing minat para mahasiswa untuk dijadikan bahan skripsi. Tak jarang aku terima email dari sejumlah mahasiswa di pelbagai perguruan tinggi, untuk konsultasi tentang rencana pembuatan skripsinya.

Dan yang tak kuduga, rupanya tulisan di blogku pun sempat nyelonong masuk dalam materi presentasi Pak Hermawan Kartajaya dalam sebuah seminar di Four Seasons Hotel beberapa minggu lalu.

Nukman Lutfie, yang menjadi peserta di seminar tersebut, langsung mengabariku melalui ponselnya. “Tulisanmu mengenai Commuters+ICT= Citizen Marketers, plus fotomu, ada di materi presentasi pak Hermawan,” begitu ujar Nukman.

Ketika kabar itu kukonfirmasi ke Pak HK via SMS, dia menjawab, “Iya, fotomu juga aku pamerin.”

Sampai saat ini, aku bersyukur, bahwa apa yang kulakukan memberi manfaat bagi khalayak. Dan cuma itulah alasanku untuk terus menulis, mengisi blog ini. Tak lebih. Punten, maapin ye, nyuwun sewu …

1 Response

  1. 25 May 2008 at 11:11 pm

    lumayan banyak juga ya pengusaha yang menggelar berbagai macam ajang lomba prestasi. It’s good but not enough. Saya masih belum ketemu nih… orang orang kreatif yang dimentori oleh para investor gila sehingga sukses. Lihatlah Steve Jobs (pendiri Apple Inc. dari garasi) , Bill Gates (pendiri Microsoft), Mark Zuckerberg (pendiri Facebook). Semuanya adalah orang pinter tapi miskin pada awalnya. Lalu ketemu orang-orang yang tak cuma ngasih piala tapi juga… menyuntikkan modal dan ide untuk mengembangkan kreativitas…. bagaimana mbak? ada kenalanan yang mau melakukan seperti mentor Bill Gates, Steve Jobs?

Leave A Reply

* All fields are required