Momentum goyang samba pasar data.

Beberapa  hari lalu, dalam sebuah diskusi internal di sebuah operator selular, tercetus sebuah pertanyaan, ”Bagaimana pasar  mobile data di tahun 2009?”  Sebuah pertanyaan yang menggelitik.

Sejatinya para pemain di industri ini sudah memiliki jawaban  pasti berikut perhitungan potensi pasarnya.  Namun, yang masih menjadi pertanyaan adalah  pada kesiapan   mereka  menggarap potensi pasar yang terus berkembang dari hari ke hari. Kalaupun jawabannya siap, maka kapan dan bagaimana, adalah issu selanjutnya yang juga mesti dijawab.

Potensi mobile internet terbuka lebar
Potensi mobile internet terbuka lebar

Ya, dengan memperhitungkan sejumlah fenomena, di tahun mendatang pasar mobile data internet akan tumbuh dan bersinar.  Jika digarap dengan cermat, sektor ini akan mampu menjadi revenue generator kedua setelah suara dan sms.

Potensi pasar
Tengok saja apa yang terjadi di pasar. Jumlah pengguna internet, menurut data APJII, jika di akhir 2007 sebesar 25 juta, maka akhir  2008 akan menjadi 40 juta. Menurut data admob, trafik mobile advertising Indonesia mengalami pertumbuhan tertinggi sejak September 2007. Kemudian fenomena jejaring sosial yang tentunya tak bisa diabaikan begitu saja potensinya.

Yang penting dicermati juga adalah: riuhnya trafik komunikasi dunia maya seperti email, mailing list, grup dan forum.  Kemudian habit baru berkomunikasi virtual melaui  IM, YM, Google Talk. Lebih jauh lagi wabah   social network yang belakangan menjangkiti jutaan orang, seperti Facebook, Friendster, Myspace, Plurk, microblogging, dan masih banyak lagi—yang  merasuk ke segala segmen dan usia. Artinya virus ‘ngenet’ sudah merasuk jauh ke pelbagai lapisan masyarakat. Bagusnya virus ini tidak menimbulkan penyakit, tapi malah melahirkan budaya baru bagi masyarakat modern. Inilah yang harus diperhitungkan sebagai potensi pasar.

Yang tak kalah penting, gerakan pemerintah yang dicanangkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, “program information access ability” tentu akan menstimulasi masyarakat untuk  membutuhkan dan memanfaatkan internet sebagai sarana mencari informasi.

Karakter pasar
Saat ini, portofolio pendapatan  operator telekomunikasi bergerak memang 70% masih berasal dari voice. Kalau dilihat karakter pasar voice dan mobile data tentu sangatlah berbeda habitatnya. Menaklukkan pasar layanan suara, sudah terbukti cukup mudah. Hanya dengan satu jurus, yaitu  tarif murah. Celakanya jurus itu gampang sekali dipelajari, akibatnya hampir semua operator berperang menggunakan taktik yang sama.  Konsekuensinya pun sama, kualitas layanan jadi buruk. Soal sambungan putus-putus, nyaris sudah menjadi tren. Bahkan secara berseloroh, konsumen pun sudah menganggap jaringan putus ditengah pembicaraan adalah sebuah fitur baru, yang diberikan gratis oleh operator kepada para pelanggan.

Boleh jadi pelanggan gemes dengan layanan suara yang seperti itu. Namun saat  telepon, kemudian terputus, toh bisa diupayakan untuk nyambung lagi. Tapi, tentu tidak demikian dengan pelanggan komunikasi data.  Jika saat lagi browsing untuk download sebuah file, tiba-tiba terputus, maka koneksipun harus diulang dari awal.

Karenanya jurus ampuh tari murah di suara bisa dipastikan tidak cukup mempan untuk menaklukkan pasar data. Karenanya, unsur keandalan jaringan menjadi sangat vital di sini.  Artinya, kapasitas yang disediakan untuk melayani pasar data — tentunya harus cukup besar dan bersifat dedicated. Dengan kata lain connectivity akan menjadi pertimbangan utama dibanding harga.

Menggarap pasar
Dengan keterbatasan bandwidth dan frekuensi yang dimiliki sejumlah operator,  situasinya menjadi dilematis.  Pasar suara masih besar, dan dari sini, dalam jangka pendek mampu menggelembungkan pendapatan perusahaan. Namun, pasar data, jika dibiarkan lewat, dan baru ditangkap 1-2 tahun mendatang, akan terlambat.

Dengan keterbatasan yang ada – dan tetap berharap akan mendapat penambahan bandwith dan frekuensi – pasar data haruslah tetap digarap. Caranya, dengan memfokuskan pada area-area yang  diidentifikasi ada dan tinggi trafik datanya. Dengan begitu usaha penambahan kapasitas jaringan bisa lebih fokus dan secara bisnis bisa diperhitungkan.  Dan yang lebih penting, ketika pasar mobile internet booming, operator tak ketinggalan kereta.

*Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 18 Desember 2008.  Ilustrasi foto diambil dari  http://www.techwatch.co.uk/wp-content/uploads/2008/06/usb-broadband.jpg

Leave A Reply

* All fields are required

*