Camino de Santiago, Berjalan Menelusuri Hati (bagian 4)

Sebagai tambahan info, selama peziarahan ini saya membawa urine dry, semacam pembalut tapi tipis. Mengingat acapkali mau buang air kecil, tapi tidak ada toilet/cafe yang dekat, maka pembalut ini cukup membantu.

Memasuki peziarahan hari ke 6 (atau terakhir) rasanya sulit diungkapkan,  OMG saya sudah berjalan kaki sejauh hampir 100 km.  Kami meninggalkan O Pino  jam 09.00 setelah sarapan di cafe dekat pension tempat kami menginap. Online form untuk pengambilan sertifikat peziarahan ini di santiago, sudah diisi

Antusiasme antri stempel di tengah hujan

Hari ini saya  pinjam pakai  sepatu gunung milik Lala, agar jari kaki yang blister tidak tertekan, dan berjalan lebih nyaman. Dan benar, saya bisa berjalan dengan pace yang normal lagi. Rute nya cukup nyaman, ada tanjakan dan turunan yang wajar, cuaca cerah, namun selang seling dengan gerimis.  Namun, saat di suatu tikungan 7 km menjelang Santiago, dari kejauhan saya melihat tanjakan panjang. Saya berhenti sejenak untuk mengambil nafas panjang, “Duh Gusti, masih ada tanjakan lagi,”

Sepanjang perjalanan menikmati sejumlah rombongan pilgrim yang  mengekspresikan perziarahannya dalam beragam bentuk. Dan ini menjadi hiburan tersendiri bagi kami.

Ekspresi grup peziarah, bernyanyi
Peziarah dari Madrid dengan seragam khusus

Hujan deras  mulai sekitar jam 13.00, saat memasuki kota Santiago.Rasanya makin nggak  sabar, bergegas untuk sampai di pilgrim’s reception office/PRO, mengambil sertifikat. Namun, saya dan Lala harus sabar sejenak, kampung tengah minta di isi sebelum maagnya melintir. Kami mampir sejenak di sebuah café, menyantap burger sebagai menu makan siang.  

Memasuki Santiago dengan penuh suka cita
Paket hemat di saat kelaparan dan kehujanan, sambel nya bawa dari Indonesia

Usai mendapatkan sertifikat, rasanya plong. “Matur nuwun Gusti, saya diberikan kesempatan menjalani dan menyelesaikan perziarahan ini di masa pra paskah, dan merayakan tri hari suci di Santiago de compostela.” Sebuah perjalanan kontemplasi yang sungguh mengisi jiwa. Ketika kami berada di alun-alun depan cathedral, menikmati eforia, mensyukuri perziarahan yang sudah terselesakan, bersama ratusan peziarah dengan aneka ekspresi. Tak peduli hujan rintik-rintik mewarnai. Rasanya enggan untuk beranjak.

Malam jam 19.00 ada ibadah Kamis putih di Katedral Santiago, dan saya berniat mengikutinya. Sebelumnya kami check in  di hotel  tempat menginap, yang jaraknya  sekitar 700 m dari gereja Katedral. Kami akan menginap 2 malam di sini, dan saya berganti rekan sekamar, kali ini dengan Siska.

Salah satu sudut gereja Katedral, dan pintu masuk makam Rasul Yakobus

Menjelang misa Kamis putih, sejak sore telah terlihat antrian panjang masuk gereja Katedral. Dan benar, malam itu, gereja penuh sesak dengan peziarah yang mengikuti misa, banyak yang berdiri ataupun duduk di tangga, termasuk saya. Ibadah yang dilayankan dalam Bahasa Spanyol, sepenuhnya tidak bisa saya pahami. Namun, saya tetap bisa mengikuti kekhitmatannya  dan pujian-pujian yang dilantunkan di dalam gereja  yang sangat apik akustiknya.

Niat untuk mengunjungi makam rasul Yakobus yang ada di dalam gereja itupun juga tertunda, karena sudah ditutup. Baiklah kita coba ke sini besok pagi.

Santiago de Compostela

Santiago de Compostela merupakan kota yang terletak di Spanyol bagian barat, mendekati perbatasan dengan Portugal. Penduduknya berjumlah 92.298 jiwa (2004). Pada Abad Pertengahan, Kota Santiago de Compostela menjadi tempat peziarahan yang ramai. Para peziarah berdatangan untuk mengunjungi Katedral Santiago de Compostela yang menjadi tempat pemakaman sekaligus tempat penghormatan bagi rasul Yakobus.

Katedral Santiago de Compostela juga merupakan sebuah basilica (Bahasa Yunani artinya Istana Kerajaan atau tempat pertemuan raja. Basilika merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada gereja Katolik yang sangat penting secara keagamaan atau bersejarah. Katedral Santiago de Compostela memenuhi kriteria ini karena merupakan tujuan akhir dari berbagai rute Camino de Santiago, yang dilalui oleh peziarah Kristen selama berabad-abad untuk mencapai makam Santo Yakobus sang Rasul.

 Pada tahun1985 UNESCO menetapkan wilayah Santiago de Compostela (old town) bersama dengan katedralnya sebagai situs warisan dunia. Katedral beserta wilayah di sekitarnya dinilai sebagai salah satu simbol Kekristenan di Spanyol. Dengan bangunan bercorak arsitektur Romanesque, Gotik dan Barok, kota tua Santiago de Compostela merupakan salah satu kawasan perkotaan terindah di dunia.

Santiago, Jumat 18 April 2025

Kami menginap di hotel Universal, dari situ jalan santai menuju Katedral sekitar 10 menit. Jumat itu adalah Jumat Agung, kami bertiga (saya, Lala dan Kiko – sesama jemaat GKI) bangun jam 04.45 untuk mengikuti ibadah Jumat Agung secara online dari Jakarta, agar kami bisa mengikuti Perjamuan Kudus. Usai PK, kami bersiap untuk bisa sedini mungkin mengunjungi makam Rasul Yakobus di Katedral, sebelum situasi padat peziarah. Jam 09.00 kami menelusuri Lorong-lorong kota tua  Santiago  yang artistic, ghotic, di tengah gerimis menuju gereja.

Ibadah Online dari GKI Pamulang
Cookies dan anggur perjamuan

Usai mengunjungi dan berdoa di makam Rasul Yakobus, dan berkeliling sejenak menikmati keindahan Katedral. Seperti yang kami baca di jadual, siang ini semestinya ada pawai Semana Santa di Kawasan old town.  Semana Santa berarti pekan suci yang dimulai dari Minggu Palma, Rabu Pengkhianatan, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci. Dan pawai ini biasanya menampilkan dua kendaraan hias yang dihiasi dengan sangat indah, satu kendaraan Bunda Maria dan satu lagi kendaraan yang menggambarkan adegan Sengsara Kristus. Sayangnya karena hujan, prosesi yang kami tunggu sejak semalam, batal dilakukan.

Makam Rasul Yakobus

Akhirnya kami ber-empat  memutuskan untuk berburu tumbler Starbucks versi Santiago. Oh My Good, kami harus berjalan sekitar 38 menit untuk sampai Lokasi Starbucks, menyusuri jalan arah kami masuk ke Santiago kemarin. Kembali kami berjalan kaki berpayung untuk melindungi diri dari hujan. Naik taxi? No, kami masih puasa kendaraan. Sayangnya kami kurang beruntung, barang yang kami cari tidak ada. Akhirnya kami lanjut makan siang di mal tersebut.

Jagung yang diresto Meksiko yang enak banget

Kami kembali kekawasan kota tua, sekitar jam 15.00. Rekan-rekan katolik, sedang bersiap untuk mengikuti ibadah jam 17.00 sementara kami (saya dan Kiko) memilih untuk jalan-jalan melongok setiap toko souvenir yang ada di Kawasan tersebut. Sampai kami menemukan sebuah toko buku yang apik. Saya tergelitik mengambil sebuah pocket book berjudul: After The Camino, Your pockt guide to integrating the camino de Santiago into your daily life. Akhirnya buku seharga Euro 6,9 pun berpindah ke tangan saya.

Sambil menanti rekan-rekan yang sedang ibadah di Katedral, menunggu hujan, saya dan Kiko duduk nyantai di sebuah café, lumayan sekitar 2 jam. Dari situ kami langsung menuju resto Chinese, untuk makan malam. Dan luar biasa kami makan dengan lahap, setiap masakan datang, langsung tandas, begitu seterusnya.

Telor dadar yang tidak ada di menu, tapi pemilik resto bersedia menyajikannya untuk kami
Nasi goreng nya langsung tandas

Yes,  setelah Camino,  pertanyaan mendasar bagi diri sendiri: What’s next after the Camino? Apapun alasan kami ke Camino, tetap ada sebuah pertanyaan reflektif untuk dijawab. Bagi Lala, yang seorang trainer,  peziarahan ini adalah kesempatan baginya untuk re-learning. Sementara untuk Maya (yang sudah haji dan umroh ini) melihat peziarahan sebuah perjalanan spiritual yang universal, beyond religion. Common groundnya mirip umroh dan haji, ada sejarah yang bisa dipelajari, keindahan budaya, alam.” Dengan begitu Maya telah mengalami 2 perjalanan spiritual: yang berlandaskan agama dan yang bernilai universal seperti Camino ini,

Sementara Siska yang  pernah berjuang untuk bertemu Paus Franciskus di Dili (karena tidak mendapat kesempatan di GBK) pada 2024,  merasa bahwa GdS  memperdalam spiritualnya. “Ini  nazar bagi saya. Secara rohani saya punya niat, dan  saya merasakan penyertaan Tuhan selama perziarahan camino. Secara rohana/ragawi, saya orang yang jarang olah raga, dan ini dimampukan Tuhan untuk berjalan puluhan km setiap hari selama 5 hari.”

Tim Camino dari Indonesia di alun-alun Santiago Compostela

Bagi saya, selama Camino saya merasa selalu terhubung (lebih intens dari pada hari-hari sebelumnya) dengan Sang Pemilik Kehidupan. Melalui  CdS, saya seperti melihat kembali perjalanan hidup yang sudah saya lewati selama 60 tahun lebih. Tentu  gambar yang sudah tercetak, kisah yang sudah tertulis, tidak bisa digambar & ditulis ulang. Itu bekal pengalaman dan pengetahuan yang sudah terkumpul dalam diri.

Yang bisa saya lakukan ke depan adalah: merespon  setiap berkat atau kesempatan yang  Tuhan berikan dengan hikmat dan kebijaksanaan yang  berlandaskan iman kepada Tuhan, yang selama ini kadang terabaikan. Dengan selalu bertanya: apakah ini yang Tuhan inginkan untuk  saya lakukan?

Dengan Camino saya memahami lebih dalam makna surrender (berserah). Dan ketika berada di tempat baru, petualangan baru, saya meletakkan semua  nya dalam keranjang kepasrahan kepadaNya. 

Selesai CdS saya pasti akan kehilangan sapaan-sapaan yang selalu saya dengar selama peziarahan: boen camino, boen camino (artinya selamat jalan). Terima kasih untuk teman-teman luar biasa yang sudah bersama-sama dalam peziarahan ini, saling membantu dan menopang. Selamat melanjutkan perjalanan hidup di rute kita masing-masing.

Boen Camino….Boen Camino….sampai jumpa kembali di peziarahan selanjutnya.

Catatan khusus:

Yang perlu dipersiapkan dan dibawa:

  • Waktu yang tepat (bagi saya orang Indonesia) untuk ziarah ke Camino, saat usai musim dingin dan masuk ke musim semi (April)
  • Latihan fisik/jalan beberapa bulan sebelumnya, setidaknya 2x seminggu, berjalan 2 jam. Juga selang seling dengan jalan menanjak (daerah Sentul cukup ideal untuk latihan), di CFD melewati jembatan Ahok (Semanggi), atau di bukit GBK.
  • Latihan strength dan berenang
  • Persiapkan/nabung untuk kebutuhan tubuh,  asupan makanan: protein, lemak, dan karbohidrat.
  • Persiapkan untuk dibawa: obat, vitamin yang  biasa diminum. Jika biasa minum antibiotic, sebaiknya bawa dari Indonesia, karena sulit membeli antibiotic secara bebas di sana. Juga banyak banyak tensoplast, untuk blister.
  • Baju (legging, jersey  dan kaos lengan panjang), jaket water proof, jas hujan, 2 sepatu trekking, dan sebaiknya juga sepatu sandal trekking (untuk ganti jika jari kaki merasa lelah), kaos kaki berjari (injinji), sarung tangan, sepasang tongka treking, topi, sunglasses. Juga urine dry (pembalut tipis), jangan lupa payung untuk jalan-jalan di Santiago dan Madrid.
  • Saya membawa koper ukuran medium, mengingat hotel/apartemen/pension di kota yang kami lewati, space-nya  kecil.
  • Euro secukupnya untuk bekal makan di jalan, dan sebaiknya dalam bentuk pecahan (10, 20, atau 50).
  • Cek masa berlaku paspor, urus visa.
  • Power bank yang selalu terisi,  akses internet ( kita memerlukan untuk melihat peta saat di jalan). Saya pelanggan XL, dan membeli paket prio pass untuk 2 minggu.
  • Membawa rencana peziarahan ini dalam doa.

2 Responses

  1. rlol
    Reply
    1 May 2025 at 4:58 pm

    Inspiratif. Salut & bangga.
    Tetap berkarya ibu.. melalui tulisan2nya
    Blessed & be a blessing. Luv luv

    • 1 May 2025 at 8:52 pm

      thank you, GBU

Leave A Reply

* All fields are required