Masyarakat miskin menopang industri rokok dan seluler?

Jumat lalu, dalam sebuah seminar bertajuk “Manfaat Peningkatan Cukai Tembakau di Indonesia” “, Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan sebuah fakta yang cukup menakjubkan. Ternyata, merokok dan mengirim pesan singkat (SMS), menjadi konsumsi terbesar bagi kalangan rumah tangga kelompok miskin.

Pengeluaran rumah tangga untuk rokok lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan kesehatan dan pendidikan. Namun, “Saat ini bukan hanya rokok, tapi juga SMS (short message service). Jadi 2 hal ini menjadi konsumsi besar kelompok rumah tangga miskin,” ujar bu menteri. Sayangnya, Sri Mulyani tidak menyebutkan angka pasti berapa belanja kalangan ini untuk rokok dan sms.

Ihwal rokok yang dikonsumsi kalangan bawah, itu bukan hal baru. Tapi, info soal sms, ini memang baru terdengar kali ini. Dan memang tidaklah mengherankan. Karena di lini produk selular, setahun terakhir ini telah terjadi perubahan besar: promosi gila-gilaan oleh semua operator yang menjajikan tarif – baik untuk bicara maupun kirim pesan tertulis — makin murah (kalaupun tidak bisa disebut gratis).

Dengan total pelanggan selular yang diperkirakan mencapai 125 juta pada semester 1 tahun 2008 ini, maka penetrasi ponsel boleh dikatakan sudah mencapai 50% lebih. Sesuai dengan piramida pasar, tentunya golongan miskin ( yang berada di bawah) ini memang mewakili prosentase terbesar. Sehingga wajar juga ketika pangsa pasar seluler tumbuh dan membesar, maka golongan inilah yang disasar. Dan cara yang paling jitu tentunya dengan iming-iming tarif murah.

Saat ini perolehan SMS oleh para operator dikerkirakan sudah mencapai 30% dari total pendapatan operator. Sebuah jumlah yang tidak kecil. Itu artinya kontribusi kalangan bawah terhadap pertumbuhan industri seluler juga cukup besar.

Semua orang tahu bahwa saat ini kalangan bawah adalah lapisan yang paling terkena dampak dari naiknya berbagai harga kebutuan setelah BBM naik. Mereka bisa mengabaikan pendidikan dan kesehatan, tapi ternyata tak bisa lepas dari kecanduan rokok dan SMS. Ibaratnya, bagi kalangan ini, kebutuhan pokoknya adalah makan dan minum untuk hari ini. Selebihnya, tak ada yang direncanakan.

Bila yang diungkapkan Sri Mulyani benar, maka sungguh sangat bijak bila industri rokok dan selauler berbalas budi kepada mereka. Program-program social marketing yang berkesinambungan di bidang pendidikan dan kesehatan, tentu akan sangat berarti untuk kelak bisa memberdayakan kalangan bawah. Program promosi yang lebih menyetuh mereka seperti pernah saya tulis di sini juga sangat diperlukan. Toh bila kelak daya beli mereka tumbuh dan membaik, kembalinya juga akan ke rokok dan seluler. Bagaimana menurut Anda?

3 Responses

  1. 25 August 2008 at 12:02 am

    aku setuju mbak!

    lebih cepat diimplementasikan lebih baik… syukur-syukur kalau sifat CSR adalah pada pemberdayaan ekonomi… jadi bukan sekedar pendidikan dan kesehatan kali ya.

    ibaratnya, SMS ini kan sudah dibayar dimuka oleh si pemakai… mustinya bisa lah sedikit keuntungan itu segera ‘dibagikan kembali’ dalam bentuk CSR kepada yang memerlukan.

    bisa dibayangkan tidak, bagaimana si kecil justru menopang si besar dalam dunia industri yang lain? banyak lho… lihat saja, banyak UKM yang ikut supply ke supermarket atau hypermarket… keuntungan yang ditangguk pasti tak terlalu besar bagi UKM-UKM ini… tapi para penyelenggara supermarket dan hypermarket apa mau tahu sih… yang ada justru pembayaran kepada UKM-UKM ini tetap dikenai listing fee dll… sudah itu pembayaran mundur 1-1,5 bulan… lha apa mereka tidak mikir tho, kalau para UKM ini butuh uangnya muter biar tetap survive… ancur deh!

  2. 27 August 2008 at 7:34 am

    orang2 miskin itu kalo ndak merokok berarti bisa kaya, dong?

  3. 27 August 2008 at 3:14 pm

    Suwun mbak Mlandhing inputnya….mudah2an itu bisa memberi inspirasi inndustri rokok dan telekomunikasi ya………..Salam hijau.

Leave A Reply

* All fields are required