Female, Friendship, Fun (part 2)

Hari ke 2 di Jogja, tujuan utama kami hari ini adalah berlatih  dengan 2 maestro Joget Mataram, ibu Theresia Suharti (69 th) dan ibu Putri (73 th). Beruntung kami mendapatkan private class sebelum gladi beksan keesokan harinya. Berlatih bersama selama 2,5 jam, dan mendapatkan masukan bagi masing-masing kami, serta tips untuk menyiasati beragam gerakan sulit saat menari itu priceless.

2,5 jam yang gembrobyos

Continue reading “Female, Friendship, Fun (part 2)”

Female, Friendship, Fun (part 1).

Menari bagi  saya adalah seperti kembali ke masa kecil.  Ketika SD dan SMP saya rajin  berlatih menari di pendopo kawedanan Pare-Kediri. Ketika menginjak SMA, pindah ke Surabaya, kegiatan menari pun seakan terlupakan. Namun, terlupakan bukan berarti lupa sama sekali, kenangan menari Jawa selalu muncul. Sampai  saya bertemu dengan teman-teman yang memiliki minat sama (ternyata juga sama visi) di komunitas Payon Kemang-Jakarta Selatan,  dua tahun lalu.  Menari Jawa Klasik Joged Mataram dengan ritme lambat dan meditatif ini bagus  bagi ketenangan jiwa,  untuk  bekal hidup di kota metropolitan yang kerap ‘gaduh’ ini. Dan menari bagi kami juga sebagai wujud dan upaya untuk nguri uri budaya Indonesia.  Tentunya semua kami jalani dengan  kegembiraan dan keriaan, karena berkumpul dengan ‘sangha’ yang ‘sepemahaman’.

Sampai di Yogya
Sampai di Yogya

Continue reading “Female, Friendship, Fun (part 1).”

PEDI LULUS

PEDI LULUS

Pedi bukan artis atau atlet terkenal. Pedi juga bukan putra pejabat atau tokoh di tanah air, sehingga saya tulis di blog ini. Pedi adalah anak kampung belakang komplek Pamulang Permai, tempat saya tinggal. Pedi atau lengkapnya: Fredy Aji Pramana  adalah putra ke 2 Supatmi, si mbak yang bekerja paruh waktu di rumah saya, yang tahun ini lulus dari SMK.

Pedi, umurnya 3 tahun lebih tua dari anak lelaki saya. Tapi setiap kali melihat pertumbuhan anak saya, ibunya Pedi selalu berujar,” walah Pedi makin kalah besar sama kamu ya Bhin”. Ya, waktu masih balita, ia kerap dibawa maknya bekerja di rumah kami, merangkak di tangga dan bermain dengan Ebhin, anak kami. Continue reading “PEDI LULUS”

Yogya, antara tari dan kuliner (3)

Minggu, 6 April 2016…hari H. Bak  ‘ibu asrama’ sejak jam 5 pagi saya sudah bangun dan membangunkan yang lain… Tapi ya gitu deh, yang dibangunin masih nawar… Untunglah, kami bisa jalan menuju jl Gamelan Kidul tepat waktu, tempat sebagian penari menginap dan sekaligus untuk dandan.
Suasana sebelum pentas, mungkin menyerupai kisah dibalik panggung. Bagaimana para penari bersiap, berkonde, make up, makai kain, dan sebagainya. Yang paling seru memang sesi bermake up. Sebagian kami memilih mandiri, saling bantu, help..help..gimana nih pasang bulu mata, eye shadow, dan eye liner…. Seru dan guyub. Continue reading “Yogya, antara tari dan kuliner (3)”

Yogya, antara tari dan kuliner (2)

Hari ke 2 di Yogya, bakal diisi agenda yang padat. Maka kami ber6 pun bangun pagi. Aktifitas diawali dengan ber-photo photo di sport center Taman Palagan yang epic. Kebetulan cuaca juga cerah, dan matahari belum menyengat. Setelah puas jeprat jepret, kami pun meluncur menuju kota, dengan ‘pitstop’ pertama: sarapan di toko kue Trubus di daerah Prawirotaman. Dan nasgor, bihun goreng, lumpia, tahu jadi menu sarapan kami. Rasanya tak puas-puasnya mengudap makanan di situ, semuanya endes. Continue reading “Yogya, antara tari dan kuliner (2)”

Yogya, antara tari dan kuliner (1)

Menari di kraton Jogja? Ajakan untuk ikut latihan bersama – sebuah kegiatan yang rutin diselenggarakan oleh Kraton Jogja – adalah sebuah ‘tantangan’. Karena walau hanya latihan, setidaknya kami perlu menyiapkan diri agar bisa ‘tampil’ layak. Tapi kalimat ‘ke Jogja’ itu sendiri adalah ajakan yang menyenangkan. Langsung terbayang: jalan-jalannya, kulinernya, dan masih banyak lagi. Seperti lirik lagu Kla Project: Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Yogyakarta yang selalu ngangeni. Continue reading “Yogya, antara tari dan kuliner (1)”

Bertemu kembali setelah 38 tahun berpisah

Social media memang seperti magic. Mempertemukan yang sudah lama terpisah, menyambung kembali yang sudah lama tak bertemu. Begitu juga kami, alumni SMP Negeri, Pare, Kediri. Setelah kami lulus pada 1977, sebagian kami langsung ‘transmigrasi’ ke kota lain, dan tidak pernah bertemu lagi. Seperti saya, SMA di  Surabaya dan kuliah di Jogjakarta, sudah tak pernah bertemu lagi dengan kawan semasa SMP. Hingga tahun 2015.

Dan, kanal ‘magic’ whatshapp group adalah penyatu.  Pertemuan kembali kami secara virtual, bercanda online setiap saat, ternyata makin menyulut kerinduan kami untuk bertemu.  Dan jadilah kami janji untuk kopi darat di Jogjakarta, 9-11 Oktober 2015. Ya Jogja kami pilih, karena lokasinya di tengah. Sebagian kami masih banyak berdomisili di Jawa Timur dan sebagian ada di Jakarta dan luar Jawa. Pun di Jogja ada banyak lokasi wisata alam dan kuliner, tentu menyenangkan untuk reunian. Sehingga reunian ini kami kemas dalam acara JJJ (Jalan Jalan Jogja). Continue reading “Bertemu kembali setelah 38 tahun berpisah”

Ayam goreng? Never fail…

Diantara beragam jenis masakan Indonesia, ayam goreng adalah favorit keluarga kami. Sehingga, kami selalu menyiapkan  ayam matang yang sudah diungkep (dibumbui) di dalam kulkas. Praktis dan gampang. Tinggal digoreng saat dibutuhkan, dan malas masak.

Begitu juga jika kami sedang bepergian ke berbagai daerah bersama keluarga, makanan ‘kompromi’ yang kami cari pasti ayam goreng, ketimbang masakan daerah lainnya.  Alasan sederhana, anak-anak sudah familier. Continue reading “Ayam goreng? Never fail…”

Jumlah pelanggan atau EBITDA?

Awal Oktober ini masyarakat telekomunikasi di Indonesia dikejutkan oleh sebuah berita dari sebuah blog review tentang telekomunikasi. Judulnya sangat menggelitik: Indonesias rangkings shift: XL falls to 4th.

Tulisan tersebut merujuk pada data yang dirilis oleh GSMA Intelligence. Yang kemudian dibahas dalam blog tersebut tentang posisi XL axiata yang tahun lalu masih di posisi 2, telah tergusur ke posisi no 4. Setelah sempat tersalip oleh Indosat, kemudian juga 3 merangsek ke posisi no 3. Dan itu terjadi karena dalam setahun terakhir XL kehilangan 17 juta pelanggannya (sayang tak disebut penurunan tersebut dari berapa ke berapa), sehingga pangsa pasarnya turun dari 20,6% menjadi 14%. Continue reading “Jumlah pelanggan atau EBITDA?”