Yogya, antara tari dan kuliner (1)

Menari di kraton Jogja? Ajakan untuk ikut latihan bersama – sebuah kegiatan yang rutin diselenggarakan oleh Kraton Jogja – adalah sebuah ‘tantangan’. Karena walau hanya latihan, setidaknya kami perlu menyiapkan diri agar bisa ‘tampil’ layak. Tapi kalimat ‘ke Jogja’ itu sendiri adalah ajakan yang menyenangkan. Langsung terbayang: jalan-jalannya, kulinernya, dan masih banyak lagi. Seperti lirik lagu Kla Project: Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Yogyakarta yang selalu ngangeni. Continue reading “Yogya, antara tari dan kuliner (1)”

Bertemu kembali setelah 38 tahun berpisah

Social media memang seperti magic. Mempertemukan yang sudah lama terpisah, menyambung kembali yang sudah lama tak bertemu. Begitu juga kami, alumni SMP Negeri, Pare, Kediri. Setelah kami lulus pada 1977, sebagian kami langsung ‘transmigrasi’ ke kota lain, dan tidak pernah bertemu lagi. Seperti saya, SMA di  Surabaya dan kuliah di Jogjakarta, sudah tak pernah bertemu lagi dengan kawan semasa SMP. Hingga tahun 2015.

Dan, kanal ‘magic’ whatshapp group adalah penyatu.  Pertemuan kembali kami secara virtual, bercanda online setiap saat, ternyata makin menyulut kerinduan kami untuk bertemu.  Dan jadilah kami janji untuk kopi darat di Jogjakarta, 9-11 Oktober 2015. Ya Jogja kami pilih, karena lokasinya di tengah. Sebagian kami masih banyak berdomisili di Jawa Timur dan sebagian ada di Jakarta dan luar Jawa. Pun di Jogja ada banyak lokasi wisata alam dan kuliner, tentu menyenangkan untuk reunian. Sehingga reunian ini kami kemas dalam acara JJJ (Jalan Jalan Jogja). Continue reading “Bertemu kembali setelah 38 tahun berpisah”

Ayam goreng? Never fail…

Diantara beragam jenis masakan Indonesia, ayam goreng adalah favorit keluarga kami. Sehingga, kami selalu menyiapkan  ayam matang yang sudah diungkep (dibumbui) di dalam kulkas. Praktis dan gampang. Tinggal digoreng saat dibutuhkan, dan malas masak.

Begitu juga jika kami sedang bepergian ke berbagai daerah bersama keluarga, makanan ‘kompromi’ yang kami cari pasti ayam goreng, ketimbang masakan daerah lainnya.  Alasan sederhana, anak-anak sudah familier. Continue reading “Ayam goreng? Never fail…”

Jumlah pelanggan atau EBITDA?

Awal Oktober ini masyarakat telekomunikasi di Indonesia dikejutkan oleh sebuah berita dari sebuah blog review tentang telekomunikasi. Judulnya sangat menggelitik: Indonesias rangkings shift: XL falls to 4th.

Tulisan tersebut merujuk pada data yang dirilis oleh GSMA Intelligence. Yang kemudian dibahas dalam blog tersebut tentang posisi XL axiata yang tahun lalu masih di posisi 2, telah tergusur ke posisi no 4. Setelah sempat tersalip oleh Indosat, kemudian juga 3 merangsek ke posisi no 3. Dan itu terjadi karena dalam setahun terakhir XL kehilangan 17 juta pelanggannya (sayang tak disebut penurunan tersebut dari berapa ke berapa), sehingga pangsa pasarnya turun dari 20,6% menjadi 14%. Continue reading “Jumlah pelanggan atau EBITDA?”

XLers, 19 Years Bonds of Friendship

Tak terasa pada 8 Oktober tahun ini, XL telah 19 tahun melayani di industri telekomunikasi di Indonesia. Dari kantornya yang kecil di kawasan Pancamarga, Pejompongan, kemudian di Wisma GKBI, lalu ke Menara Rajawali, Grha XL dan kini juga berada di Menara Prima di kawasan Mega Kuningan.  Dari merek GSM-XL langsung kring, proXL, kemudian sempat ‘beranak’ Xplor, bebas dan jempol, kemudian kembali ke 1 brand: XL.

Undangan ke Cirebon
Ini dia undangan ke Cirebon yang dikirim Nurul

Continue reading “XLers, 19 Years Bonds of Friendship”

Ketika cinta abadi mengalahkan hasrat kekuasaan.

Pada 20 Juni, tiba-tiba saya di tag oleh @inggita banner sebuah pagelaran tari “Abathi”, pada 1 Juli 2015 di Candi Ratu Boko. Karena penasaran saya cari info di website mereka. Sinopsisnya cukup memikat, dimana pada hari itu akan ada “Star Betlehem” saat Yupiter dan Venus segaris dan memancarkan sinar yang terang, bertepatan dengan bulan purnama. Dan pada tanggal itu bertepatan dengan ulang tahun saya, akan menjadi momen berharga jika saya bisa merayakannya di sana. Reflek saya ingat Susi Ivvaty yang juga lahir 1 Juli, saya kontak dia, untuk bersama-sama nonton Abhati pada 1 Juli. Gayung pun bersambut. Continue reading “Ketika cinta abadi mengalahkan hasrat kekuasaan.”

#CeritaRamadhan Dalam Perbedaan

Ketika saya memutuskan menikah secara catatan sipil 26 tahun lalu, saya sadar bahwa saya harus menghadapi perbedaan ini (mungkin) sepanjang hidup saya. Suami saya (Yusro M Santoso) muslim, lahir dari keluarga Muhamadiyah, saya Kristen sejak lahir. Dan kami sepakat untuk tetap menganut keyakinan kami masing-masing. Egois? Mungkin sebagian orang akan mengatakan seperti itu. Tapi bagi kami soal memilih agama adalah hal pribadi. Continue reading “#CeritaRamadhan Dalam Perbedaan”

Tiga hari 2 malam jelajah kuliner Solo

Libur “kecepit” imlek enaknya kemana? Nama Solo tiba-tiba muncul setelah melihat beberapa promo event Solo yang cukup gencar di social media (Facebook dan twitter). Ide plesiran Solo ini disambut heboh ama teman-teman moms genk grup vokal Eklesia. “Kita pelayanan di gereja Solo sekaligus kulineran di sana yuk,” ujar salah satu mom bersemangat. Continue reading “Tiga hari 2 malam jelajah kuliner Solo”

Upaya Sri Klaten wujudkan #cities4all

Setelah menempuh rute sepanjang 2.500 km selama sebulan lebih, pada 10 Oktober akhirnya Sri Lestari, seorang penyandang disabilitas tiba di Jakarta.  Sri, mengawali perjalanannya dari nol kilometer  Banda Aceh pada 7 September dengan sepeda motor bebek yang dimodifikasi menjadi kendaraan roda tiga. Continue reading “Upaya Sri Klaten wujudkan #cities4all”

13 hari yang menyenangkan (bagian 2)

Walau santai, tapi kami selalu berupaya tertib jadual. Sesuai rencana yang telah kami buat, Sabtu 26 Juli kami kembali ke Jogja. Kami meninggalkan Surabaya jam 10.00, berharap perjalanan masih lancar. Ternyata di H-2 ini sejumlah titik sudah mulai tersendat. Yang paling parah adalah di Nganjuk, dimana kami harus bersabar antri kemacetan selama 3 jam. Alhasil kami tiba di Jogja pun sudah jelang tengah malam lagi, jam 22.30 seperti waktu kami baru tiba dari Jakarta. Rupanya angka 22.30 itu berulang… Continue reading “13 hari yang menyenangkan (bagian 2)”