Road Trip Ke Lampung Tengah Di Jaman Now

Ke Lampung naik mobil yuk…. Jika ajakan ini dilontarkan sekian tahun lalu, jawaban saya pasti:  ogah, emoh, nggak mau. Tapi hari-hari ini jika ada ajakan yang sama, jawabnya sudah tentu: ayuklah, siapa takut. Dan pada akhirnya, bermobil  ke Lampung Tengah sudah berlangsung dengan sukses pada 5-7 Juli  lalu, saat menghadari acara pernikahan keponakan di kawasan Terusan Nyunyai, Gunung Agung.

Persiapan

Sebelum berangkat, persiapan standar:  yang pasti servis mobil CRV kesayangan. Lalu mencari info penting terkait fasilitas penyeberangan Merak – Bakauheni. Karena, selain faktor jalan tol (Bakauheni-Bandar Lampung – Terbanggi Besar) yang belum lama diresmikan presiden Jokowi, adanya fasilitas baru: kapal ferry express yang membuat kami makin bersemangat jalan darat ke Lampung. “Naik ferry express aja mbak, lebih nyaman dan lebih cepat,” ujar seorang kawan yang saat lebaran lalu pulang ke Lampung. Persiapan lain, tentu saja ya baju-baju yang akan dipakai njagong. Terutama dress code seragam sutra ecoprint yang disiapkan Dewi & mbak Yayah. Saya wanti-wanti ke Imron, penjahit langganan agar ber-hati-hati menjahitnya. Dan hasilnya memang tidak mengecewakan.

Perjalanan ke Lampung

Dress code ecoprint yang cantik

Pada hari H, Jumat 4 Juli, pada jam 05.15 kami meninggalkan Pamulang menuju ke Merak. Sengaja kami berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet di jalur Serpong saat jam berangkat kerja. Puji Tuhan, perjalanan lancar dan dalam 1 jam kami sampai di rest area km 43, menanti rombongan dari Jatibening. Sambil menanti, kami nyari sarapan ringan di supermarket yang ada… kemudian berjemur sejenak di matahari pagi. Satu setengah jam kemudian, mobil  mbak Tini & mas Imam datang, dan kami langsung lanjut ke Merak.

Perjalanan ke pelabuhan Merak juga sangat lancar, merapat ke dermaga eksekutif sekitar jam 8.30an. Karena jadual keberangkatan dari dermaga Merak adalah pada jam-jam genap (6,8,10 dan seterusnya) maka kami pun antri untuk keberangkatan jam 10. Pembayaran di dermaga ini menggunakan kartu pembayaran electronic bank-bank pemerintah (e-money, brizzi, dan lainnya). Untuk mobil dan penumpang dikenakan Rp 590 ribu. Jadi pastikan bahwa saldo kartu pembayaran elektroniknya mencukupi. Saya menggunakan waktu antri untuk observasi, moto-moto dan kagum.  Area pelabuhan yang keren: bangunan baru nan megah, bersih. Mendekati jam 9.30 mobil kami masuk ke dalam kapal. Setelah parkir, kami pun naik ke atas, ke area duduk penumpang. Kembali saya terkagum-kagum (ndeso). “Beda banget dengan bayangan saya tentang kapal penyeberangan ke Lampung 15 tahun lalu.”  Tempat duduk tersedia banyak dan nyaman.

Ferry Eksekutif

Kapal berangkat tepat jam 10.00. Saya pun tak sabar untuk eksplorasi kapal tersebut: naik ke geladak dan anjungan. Tenyata banyak juga penumpang yang sudah ada di situ – terutama anak-anak muda – menikmati angin laut dan moto moto. Agak panas sih….tapi asyiknya mengalahkan panasnya. Penyeberangan 1 jam tak terasa, tau tau sudah merapat di pelabuhan Bakauheni. Proses keluar juga cukup cepat dan lumayan tertib.

Dan kali ini dari  Bakauheni langsung masuk tol Terbanggi Besar, tak lagi melewati jalan trans Sumatera yang konon masih ada yang berlubang-lubang.  Menurut info mbah google, dari Bakauheni menuju hotel Revive, Bandar Jaya Lampung Tengah via tol sekitar 1,5 jam. Namun, siang itu kami tak langsung ke hotel, tetapi mampir dulu ke Bandar Lampung.  Dewi & keluarga yang sudah terlebih dulu mendarat di bandara Raden Inten,  ngajak menikmati duren dulu. Menjelang sore kami check-in di Revive Hotel, Bandar Jaya, sebuah hotel yang relatif baru, dan sepertinya terbaik di kawasan ini. Jumat malam itu, agenda kami, berkunjung ke rumah calon pengantin @hainisya, ke rumah kakaknya suami, kira-kira 30-45 menit bermobil.

Sabtu pagi adalah hari H, dimana diadakan akad nikah dan resepsi. Akad nikah jam 10 pagi, sehingga kami berangkat sekaligus check out dari hotel sekitar jam 08.00. Menyaksikan akad nikah Nisa dan Galih, yang keduanya konyol a.k.a gemar melucu. Alhasil, foto-foto yang tertangkap di kamera suami adalah foto-foto yang jauh dari elegan, tapi ya ala Nissa, yang selalu berpose celelekan. Sekitar jam 12.30 kami meninggalkan lokasi pernikahan menuju Bandar Lampung. Kami, 3 keluarga masih ingin menghabiskan waktu 1 malam di Bandar Lampung.

Minggu pagi, sedianya kami  berniat jogging di pantai Mutun jam 06.00. Tetapi sejak subuh hujan terus mengguyur. Akhirnya niat baru bisa dilaksanakan sekitar jam 8.30. Jalanan sudah agak macet pagi itu, dan sekitar jam 10 kami sampai di pantai, dan agak bingung mau ngapain di situ. Mau naik perahu ke pulau-pulau kecil di sekitar situ, waktunya tidak cukup. Akhirnya kami 3 hanya menyewa perahu untuk keliling selama 15 menit. Lalu bergegas kembali ke hotel untuk check out.

Pulang ke Jakarta.

Di lobi hotel Swissbell Bandar Lampung kami berpisah. Keluarga Kuncah & Dewi kembali ke Jogja dengan pesawat jam 16. Kami bersama keluarga mas Imam & mbak Tini ya konvoi naik mobil.  Tetapi sebelum meninggalkan Bandar Lampung, kami melipir dulu ke penjual duren. Hahaha, berbekal wadah yang kami beli di alfamart, saya pun mbungkus duren. “Nggak afdol kalau nggak bawa duren dari sini, untuk menemani bungkusan mpek-mpek dan baso H. Soni.”

Kami merapat di dermaga eksekutif Bakauheni sekitar jam 14.30. Jadual keberangkatan dari sini pada jam-jam ganjil: 15.00, 17.00 dan seterusnya. Namun saat itu ferry sudah penuh, sehingga kami dianjurkan untuk naik yang jam 17.00. Untuk menunggu kami memilih untuk naik ke gedung dan mencari makan siang. Lah, lagi-lagi  saya kembali takjub, ruang tunggunya  keren yang menyerupai bandara. Hanya sayang, karena masih baru, pilihan makanan masih terbatas.

Suasana dermaga eksekutif Bakauheni
Yang rukun ya…jangan bercanda melulu, ndang produksi….

Sore itu, situasi ferry lumayan penuh, mungkin karena hari Minggu.  Di dalam juga cukup penuh sesak. Namun demikian saya masih bisa menikmati angin senja di penyeberangan menuju Merak. Banyak juga penumpang yang memilih kongkow di geladak dan anjungan. Puji Tuhan kapal merapat tepat waktu, dan antrian keluar – walau lebih panjang – tapi tetap lancar.

Walau tak sempat menikmati kuliner Lampung, namun perjalanan darat ke Lampung Tengah kali ini nyaman dan menyenangkan. Semoga jalan tolnya segera nyambung ke Palembang, sehingga pada  kesempatan mendatang  bisa road trip sampai Palembang. Dan again, selamat untuk Nisa dan Galih, semoga jadi pasangan yang keren dan selalu awet. Nanti kalau sudah bisa masak telor dadar dan oseng-oseng, ngundang kami ya….

 

 

 

 

Leave A Reply

* All fields are required

*