What Is Happening With 4.0 Era?

Beberapa saat lalu, saya terima chat whatsapp yang isinya: “Kita ketemu yuk mbak, ada bisnis 4.0 yang  perlu bantuan PR.” Istilah 4.0 memang sedang seksi. Bisnis 4.0 yang disebut relasi saya tadi mengundang minat saya untuk menerima ajakannya bertemu. Dan memang perbincangan tentang industri 4.0 atau kerap disebut revolusi industri nyaris tiada habisnya.

Internet of Things menandai kehadiran revolusi industri 4.0

Profesor Klaus Schwab, founder & executive chairman  World Economic Forum, yang  menjadi pusat urusan global selama lebih dari empat dekade ini, meyakini bahwa saat ini kita berada di awal revolusi yang secara mendasar mengubah cara kita hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Dan ini semua dibahas tuntas dalam bukunya:  The Fourth Industrial Revolution.

Indonesia pun tak mau ketinggalan. Kementerian Perindustrian, sejak beberapa saat lalu meluncurkan “Making Indonesia 4.0” yaitu diskursus tentang peta jalan revolusi industri 4.0 di Indonesia. Lalu apa sih revolusi industri 4.0, yang dimotori oleh artificial intelligence ini?

Dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution (2017), Prof Klaus menyebutkan bahwa saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang secara fundamental mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perubahan itu sangat dramatis dan terjadi pada kecepatan eksponensial.

Ini memang perubahan drastis dibanding era revolusi industri sebelumnya. Di abad ke 18,  pada revolusi Industri 1.0, tumbuhnya mekanisasi dan energi berbasis uap (mesin uap) dan air menjadi penanda. Tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Revolusi 1.0 ini bisa meningkatkan perekonomian yang luar biasa, dimana sepanjang 2 abad pendapatan perkapita negara negara di dunia meningkat enam kali lipat.

Revolusi berikutnya, industri 2.0 ditandai dengan berkembangnya energi listrik dan motor penggerak. Manufaktur dan produksi massal terjadi. Pesawat telepon, mobil, dan pesawat terbang menjadi contoh pencapaian tertinggi. Dan perubahan cukup cepat terjadi pada revolusi Industri 3.0. Ditandai dengan tumbuhnya industri berbasis elektronika, teknologi informasi, serta otomatisasi. Teknologi digital dan internet mulai dikenal pada akhir era ini.

Nah, revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya Internet of/for Things yang diikuti teknologi baru dalam data sains, artificial intelligent atau kecerdasan buatan, robotik, cloud, cetak tiga dimensi, dan teknologi nano. Kehadirannya begitu cepat. Robot cerdas, seluler supercomputer, mobil self-driving, peningkatan otak neuro-teknologi, pengeditan genetik muncul di mana-mana. Itulah bukti perubahan dramatis ada di sekitar kita dan itu terjadi dengan kecepatan eksponensial.

Media 4.0

Pernah terbayangkah jika suatu ketika reporter yang menghubungi seorang narasumber ternyata adalah robot jurnalis. Pada 9 Februari 2019 ada tulisan menarik di New York Times bertajuk: The Rise of Robot Reporter. https://www.nytimes.com/2019/02/05/business/media/artificial-intelligence-journalism-robots.html

Era jurnalis robot telah datang

Di era dimana banyak media di belahan dunia yang tutup dan wartawan di PHK, namun produk jurnalisme digital yang dihasilkan mesin terus meningkat. Sekitar sepertiga dari konten yang diterbitkan  Bloomberg News menggunakan beberapa bentuk teknologi otomatis, Cyborg (robot), dapat membantu wartawan dalam mengaduk dan meramu ribuan artikel tentang laporan pendapatan perusahaan setiap kuartal.

Kita tentu masih ingat ketika sumber informasi yang kita miliki baru koran, radio dan TV, yang sifatnya satu arah, dimana publik hanya bisa membaca, mendengarkan atau menonton. Itu kita sebut media 1.0. Ketika internet mulai muncul dan media berbasis internet lahir seperti detik.com yang diikuti media digital lainnya, itu adalah cikal bakal hadirnya media 2.0 (interactive media). Kemudian masyarakat mulai terbiasa dengan memberikan komentar atas berita yang ada melalui kolom komentar yang tersedia.

Kemajuan tehnologi informasi yang tak terbendung, dan secara cepat media pun bertransformasi dengan kemunculan jurnalisme warga (netizen journalism). Muncullah portal-portal yang memberi kesempatan masyarakat biasa untuk bisa menjadi reporter, dan melaporkan berita, seperti kompasiana, politikana, detik forum, dan masih banyak yang lainnya.

Melalui pelbagai jejaring sosial yang ada, seperti Blog, Facebook, Instagram, google+, setiap orang juga bisa menjadi produser berita.  Dan ini pertanda hadirnya media 3.0.  Di mana di era ini, lembaga-lembaga/korporasi juga bisa ‘memiliki’ kanal media sendiri (earned media).

Pada Februari 2018, sebuah situs media kurasi berbasis digital: beritagar.id memperkenalkan Robotorial, setelah melalui uji coba selama 3 tahun. https://blog.beritagar.id/article/redaksi/perkenalkan-robotorial   Beritagar.id  memberdayakan teknologi kecerdasan buatan untuk memproduksi konten secara otomatis. Selamat datang di era media 4.0  Laporan hasil pertandingan sepak bola, menjadi materi awal eksperimen ini karena datanya konsisten dan berupa pengulangan. Dari setiap pertandingan, informasi mendasar seperti gol yang tercipta, pencipta gol, dan tentu saja siapa yang memenangi pertandingan, dapat diolah secara cepat. Laporan hasil pertandingan sepak bola ini hanya langkah awal. Selanjutnya robotorial sudah mampu melaporkan perdagangan di bursa saham, bahkan gempa bumi di seluruh wilayah nusantara yang berkekuatan di atas 5 skala rihter.

Sementara yang dilakukan Cyborg dalam membantu Bloomberg untuk melawan Reuters —  saingan utamanya di bidang jurnalisme keuangan bisnis — serta memberikan kesempatan Bloomberg bertarung melawan pemain yang lebih baru dalam mempercepat informasi,  menggunakan kecerdasan buatan untuk melayani klien mereka fakta-fakta segar.

Public Relation 4.0

Media dan wartawan adalah stakeholder utama  humas. Mau tidak mau, suka tidak suka, dunia kehumasan juga harus bertransformasi agar bisa inline dengan dunia di sekitarnya. Jika industrinya sudah 4.0, medianya juga 4.0, tentu PR nya pun harus selaras.  Lalu transformasi seperti apa yang harus dilakukan PR?

  1. PR Harus kompeten

Seorang PR tidak boleh pewe (posisi wenak), tidak boleh gaptek, harus mengikuti perkembangan tren dunia. Intinya: terus belajar, memperbaharui pengetahuan, ketrampilan di bidang tehnologi informasi maupun lainnya. Humas mesti bisa memetakan media, mana yang sudah meluncur ke era media 4.0, mana media yang masih bertahan di 3.0. Dengan begitu ia bisa mengerti kebutuhan setiap media.

  1. PR Harus Ada ‘dimana mana’/berjejaring

Stakeholder PR (utamanya wartawan) era sekarang ada di mana-mana, secara fisik maupun non fisik. Wartawan tak hanya ada saat wawancara, press conference, tapi mereka juga memantau di pelbagai kanal. Saya kerap ‘bertemu’ wartawan yang sama di berbagai forum, Facebook, Twitter, Instagram, whatsapp group, Line dan lainnya. Sehingga  PR perlu cerdas ‘menempatkan’ diri di mana saja mereka harus ‘hadir dan bergaul’ secara fisik maupun non fisik. Misalnya: untuk memantau percakapan dan isue yang relevan menggunakan tools monitoring digital (yang bisa menjadi mata dan telinga selama 24 jam sehari), lalu memilah di mana saja PR  yang harus terlibat engagement langsung.

PR jaman now harus mendengar lebih banyak dan ‘bergaul’
  1. PR Harus Kreatif

Agar pesan yang ingin disampaikan dapat memberikan efek langsung kepada target, praktisi PR harus kreatif dan mampu melakukan segmentasi  pesan sesuai target audience nya. Dan di era story telling saat ini, PR juga harus piawai meramu narasi yang pas, dikolaborasikan dengan visual yang sesuai sasaran pesan. PR era 4.0  membutuhkan digital content creator, videographer, infographic, ads specialist, digital monitoring dan analisis, dan lainnya.

  1. PR Menjemput Bola

Seorang PR pantang hanya menunggu wartawan datang untuk bertanya. Ia harus datang membawa informasi yang –bila perlu— customizing   bagi media-media utama yang menjadi stake holder-nya. Kedatangannya memang tak selalu diartikan secara fisik, tapi bisa juga secara virtual.

Tidak mudah percaya hoax dan bijak dalam menyikapinya
  1. PR juga harus Bijak

Seorang humas  tak boleh mudah terpengaruh arus isu yang beredar di masyarakat. Ia tak boleh dengan mudah mepercayai isu, dari mulai hoax hingga berita palsu. Sehingga,  integritasnya sebagai humas tetap terjaga di era Industri 4.0.

Setiap era mempunyai tantangannya sendiri, begitu pula era 4.0, yang terkesan kompleks dan 360’. Namun, dengan terus belajar dan memperbaharui diri, humas di era ini akan menjadi makin vital bagi institusi, lembaga, maupun korporasi. Karena humas menjadi mata, telinga, filter, sekaligus menjadi jembatan dengan stakeholder untuk membangun reputasi lembaganya. Selamat berjejaring di era 4.0

 

 

Leave A Reply

* All fields are required

*