Sebuah Perjalanan Menjaga Kebhinekaan (2)

Paduan Suara ini adalah kombinasi kerinduan kami untuk silaturahmi antar ortu murid, semangat untuk menjaga nilai-nilai keberagaman yang ada di sekolah –  suka tidak suka juga ikut terpolarisasi  oleh efek Pilkada DKI dan membuat kami risau —  dan  wujud cinta kepada keaneka ragaman budaya Indonesia. Semua itu seperti energi luar biasa yang memompa semangat kami untuk bisa perform dengan baik.

Madania  adalah sebuah lembaga pendidikan  yang didirikan almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid (cak Nur) 22 tahun lalu. Ini sekolah yang                dipercaya oleh orang tua murid sebagai sekolah kebangsaan. Di sini semua pihak menunjung tinggi toleransi, menghargai perbedaan dan merawat kebhinekaan. Seiring sedang terjadinya gejala disintegrasi yang dihembuskan sejumlah pihak di bumi nusantara ini, tentu saja, kami tak ingin hembusannya  mengalir ke  sekolah, dan sekolah terkontaminasi. Madania dengan nilai-nilai luhurnya harus terus berdiri kokoh, menjadi penyejuk di bumi Indonesia ini.”

Bila mamak-mamak berkumpul, segala kehebohan pun terjadi. Makin mendekati hari H, grup wa tambah riuh. Puluhan bahkan ratusan chat, dari soal pilihan baju daerah, sulitnya mengingat teks bungong jeumpa,  potluck yang harus dibawa, sampai ribetnya gerakan kiri dan kanan. Kami seperti kerasukan virus bungong jeumpa, dimana saja kapan saja, lagu itu kami senandungkan. Bahkan di kantor, usai makan siang, saya ambil kesempatan untuk menghafal gerakan melalui contekan video yang ada. Sampai keluarga kamipun tertular virus bungong jeumpa.

Di balik panggung

Di hari H, jumlah kami  17 orang. Jumat 12 Januari jam 7.30 kami sudah sibuk berdandan di ruang yang sudah disediakan sekolah, sambil sarapan aneka kue yang kami bawa masing-masing. Mbak Nia datang membawa asisten yang membantu bikin sanggul cepol mamak mamak, juga asisten yang memvideokan  seluruh acara hari ini. Saya pun sibuk dengan jasa sambilan: memasang bula mata… hehehe. Sekitar jam 8.30 an ketika formasi lengkap, kami  latihan lagi, konsolidasi terakhir, supaya penampilan nanti setidaknya bisa paripurna, nggak bikin malu  putra putri kami. Acara nya terbagi 2: Ibadah Natal jam 09.30 – 10.30, dilanjutkan perayaan Natal jam 10.30 – 11.45. Dan sesuai rundown kami akan tampil jam 11.30.

Suasana Gedung Budaya lantai 2, mulai riuh ketika acara perayaan dimulai. Manajemen sekolah, guru-guru dan murid-murid non Kristen/Katolik mulai memasuki ruangan. Ada juga beberapa alumni yang turut hadir. Hingga saat drama musikal “Bersatu Karena KasihNya” tampil, ruangan makin penuh sesak, agak sulit untuk berjalan menuju panggung. Banyak murid yang ingin menyaksikan drama yang dimainkan siswa lintas agama. Thank God, ini perayaan natal teramai dalam perjalanan Madania selama ini.

Drama musical Natal
Bagas (kiri), alumni yang turut merayakan Natal di sekolah, dan Gibran, klas 11  (kanan) yang selalu support kegiatan lintas agama di sekolah

Siang itu kami tampil pede, dengan aneka ragam busana daerah yang kami kenakan.  Suara sorakan anak-anak menambah percaya diri kami,  dan membuat suara kami bisa lebih ‘keluar’. Selama 9 menit penampilan kami diwarnai gemuruh tepuk tangan anak-anak. Bahkan di lagu ke 2, bungong jeumpa, terdengar anak-anak ikut membuat ketukan sesuai irama lagu tersebut. “Dari awal nyanyi sampai akhir selalu disoraki penonton — terutama murid-murid– yang tampak antusias  melihat penampilan  orang tuanya,” ungkap Deas, seusai penampilan padus kami.

Puji Tuhan. Sesuatu yang menjadi kekhawatiran kami tidak terjadi. Semula kami sempat khawatir bahwa anak-anak tidak antusias, atau bahkan ‘malu’ dengan ‘kenekatan’ orang tuanya.  Namun, yang terjadi justru sebaliknya: anak-anak mengapresiasi penampilan kami, yang menurut mereka: keren  banget. “Anak-anak bangga, kemarin aku pikir Matt akan kabur pas aku nyanyi, ternyata dia pindah ke depan biar bisa liat jelas. Dan Matt yang jarang banget muji, bisa bilang: mih bagus lo paduan suaranya,” ujar mbak Yuyun  terharu ketika mendengar pujian dari putranya.

Mbak Yusri, karena kesibukannya, tidak bisa bergabung dengan padus kali ini, dan  ini disesali oleh putrinya: Sekar. “Dia berharap emaknya ikut padus ini,” ungkapnya. Pernyataan mbak Yusri ini diamini oleh mbak Aci,” Sekar bilang ke anakku, kalau penampilan ibu-ibu keren banget,” tambah mama Kanya ini.  Anak-anakpun antusias ketika masing-masing diajak berfoto bersama ibunya yang berbaju daaerah. Ternyata anak-anak generasi Justin Bieber, Ed Sheeran ini juga bisa turut  larut menikmati lagu-lagu daerah kita. Ini adalah ‘virus’ yang baik, yang perlu dijadikan ‘wabah’.

Rasa syukur yang memenuhi batin kami. Penampilan paduan suara yang dibuat dengan spontan dan  penuh keterbatasan —  namun dijalani dengan all out —  mendapat apresiasi yang sangat baik dari stakeholder Madania. Secara khusus pak Taufiq, salah satu pengurus Yayasan yang turut hadir mengatakan, “Surprise dan keren banget, usul aja: untuk dibuat regular tampil di event-event sekolah,” pintanya.  Permintaan lain dari bu Sadrah, juga dari Yayasan, “Ajak juga yang orang tua dari primary, agar ada regenerasi.”

Awal perjalanan menjaga kebhinekaan

Ada sebuah niat dan upaya yang kuat, ada apresiasi, ada juga harapan yang mengikutinya.  Padus ini sebuah langkah kecil, yang dijalani dengan sukacita.  Semoga bisa menjadi inspirasi semua pihak untuk terus merawat keberagaman, dengan cara yang asyik, sesuai jaman now, apapun itu bentuknya. Mengutip potongan puisi yang dibacakan mbak Monica,” Aku suka bangsa berbhineka yang tunggal ika,  Aman tentram dan damai.   Itulah, keberagaman adalah  kekayaan kita yang harus kita jaga.  Karenanya, jangan pernah lelah untuk menjaga kebhinekaan ini. 

 

Special Thank:

Mama-mama keren yang sudah turut terlibat dalam Padus Kebhinekaan Madania: Acha, Rina, Nina, Aci, Yoshi, Dian, Monica, Linda, Nia, Nana, Riany, Linda K, Rani, Uchy, Yuyun, Alice. Dan Yusri yang jadi seksi repot di hari penampilan kami.  Deas, anak muda penyabar, yang membuat paduan suara ini bisa tampil mempesona.

Thank kepada jeng @RiaWulandari & Manjusha untuk kalung Acehnya yang sudah mempercantik penampilan Aceh saya.

 

 

 

Leave A Reply

* All fields are required

*