PEDI LULUS

PEDI LULUS

Pedi bukan artis atau atlet terkenal. Pedi juga bukan putra pejabat atau tokoh di tanah air, sehingga saya tulis di blog ini. Pedi adalah anak kampung belakang komplek Pamulang Permai, tempat saya tinggal. Pedi atau lengkapnya: Fredy Aji Pramana  adalah putra ke 2 Supatmi, si mbak yang bekerja paruh waktu di rumah saya, yang tahun ini lulus dari SMK.

Pedi, umurnya 3 tahun lebih tua dari anak lelaki saya. Tapi setiap kali melihat pertumbuhan anak saya, ibunya Pedi selalu berujar,” walah Pedi makin kalah besar sama kamu ya Bhin”. Ya, waktu masih balita, ia kerap dibawa maknya bekerja di rumah kami, merangkak di tangga dan bermain dengan Ebhin, anak kami.

Waktu berjalan, melihat perjuangan orang tua Pedi: bapaknya buruh bangunan yang jobnya tak tentu, ibunya membantu sejumlah keluarga untuk bersih-bersih rumah juga mencuci-setrika. Yang tentunya pendapatannya pas-pasan  untuk hidup di rantauan dengan beban 2 anak.

Mbak Patmi, yang sudah bersama kami sejak 20 th lalu
Mbak Patmi, yang sudah bersama kami sejak 20 th lalu

Ketika Pedi memasuki usia sekolah menengah,  kami memutuskan  menjadikannya anak asuh. Saat itu dia bersekolah di sebuah SMP tak jauh dari rumah kami. Suatu pagi, sebelum berangkat ke kantor, saya dan suami menyempatkan mampir ke sekolah Pedi untuk membayarkan SPP nya. Sebuah sekolah dengan fasilitas seadanya, dan komputer yang untuk praktek siswa masih kuno: yang sistem operasinya masih XT. Seusai membayar uang SPP nya selama setahun, saya pun sempat terperangah, karena nilainya sama dengan uang SPP sebulan anak laki laki saya.

Selepas sekolah menengah, tiga tahun lalu Pedi masuk ke SMK Dua Mei di Ciputat. Situasi dan kondisi sekolahnya kali ini lebih baik dari sekolah sebelumnya. Dan saya  meminta ke Pedi untuk selalu melaporkan hasil studinya secara berkala kepada saya, dan tentu memintanya untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Pedi memang tidak mengecewakan kami: dia bisa lulus tepat waktu, dan walau bukan termasuk murid unggulan, tapi nilainya juga tidak pernah jelek. Beberapa saat lalu, maknya Pedi sibuk mondar-mandir ke sekolah Pedi, katanya ada urusan untuk persiapan kelulusan anaknya. Dan kamipun juga lega, karena Pedi bisa merampungkan SMK nya, dan siap memasuki dunia kerja. Dan semoga dunia kerja juga memberi jalan lapang baginya.

Sekarang sembari menanti ijazahnya keluar dan kesempatan bekerja yang sesuai dengan ilmu yang ia pelajari di SMK (manajemen kantor) ia pun bekerja di sebuah usaha pembuatan roti di Pamulang. “Ini dia lagi lembur terus sampai malam, ngerjakan pesanan jelang lebaran,” ujar mak nya antusias. Bahkan, kata mak nya, si Pedi sudah bisa bikin kue-kue, seperti lemper, pastel, risoles dan lain-lainnya. Saya senang mendengarnya,  setidaknya Pedi tidak nganggur, dan dapat tambahan ketrampilan baru yang tentu berguna bagi hidupnya kelak.

Apa yang kami lakukan memang hanya sebuah upaya kecil, membantu mengentaskan pendidikan seorang anak, iya, hanya satu orang anak. Tapi, saya membayangkan, jika masing-masing sahabat dan teman juga melakukan hal yang sama: satu per satu, satu orang membantu satu anak. Saya kok yakin, ribuan, bahkan mungkin jutaan anak Indonesia terselamatkan masa depannya. Tak ada anak-anak putus sekolah. ya…cukup satu per satu, satu untuk satu anak.

 

Note: sayang Pedi tidak sempat diphoto, karena dia sudah sibuk di toko kue, berangkat jam 6 pagi dan pulangnya tengah malam. 

Leave A Reply

* All fields are required

*