Yogya, antara tari dan kuliner (1)

Menari di kraton Jogja? Ajakan untuk ikut latihan bersama – sebuah kegiatan yang rutin diselenggarakan oleh Kraton Jogja – adalah sebuah ‘tantangan’. Karena walau hanya latihan, setidaknya kami perlu menyiapkan diri agar bisa ‘tampil’ layak. Tapi kalimat ‘ke Jogja’ itu sendiri adalah ajakan yang menyenangkan. Langsung terbayang: jalan-jalannya, kulinernya, dan masih banyak lagi. Seperti lirik lagu Kla Project: Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Yogyakarta yang selalu ngangeni.

Akhirnya sampai di Yogya....yea...
Akhirnya sampai di Yogya….yea…

Singkat kata, kami tetapkan “Penari Goes Yogya” pada 5-6 Maret 2016. Dua bulan jelang hari H, kami pun telah bersibuk ria: berlatih intensive tarian Sari Tunggal  menyiapkan check list a to z nya: dari naik apa, nginep dimana, kebaya untuk menari warna apa, dress code nya apa saja, dan sebagainya. Ya bisa dibayangkan, ketika para perempuan berencana tentu kehebohan pun tak bisa dihindari. Namun kami sudah terbiasa dengan itu semua, dan ‘menikmatinya’.

Beretmu dengan mbok-mbok tenongan Trubus, sesuatu banget
Bertemu dengan mbok-mbok tenongan Trubus, sesuatu banget

Nah, saya bersama 5 orang sahabat tari memutuskan untuk berangkat Jumat 4 Maret 2016. Yogya adalah magnet, sehingga kami sepakat untuk berangkat lebih awal untuk JJJ (jalan jalan Yogya) terlebih dulu. Kami ber5 tiba di Yogya jam 10.30 — dengan pilihan dress code: bawahan wastra nusantara dipadu dengan atasan warna warni — dan yang terpikir adalah: yuk brunch di soto pak Sholeh . “Sekedar untuk icip-icip aja ya, kita pesan semangkok untuk ber2,” ujar saya. Alhasil ketika soto sudah disajikan, kami berubah pikiran: jadi masing-masing 1 mangkok. Hihihi perempuan…labil.

Jajanan yang sudah eksis (mungkin) sejak ibu kami masih kecil
Jajanan yang sudah eksis (mungkin) sejak ibu kami masih kecil

Usai ‘icip-icip’ soto, kamipun ‘check-in’ di rumah Taman Palagan 3, sebuah ‘guest house’ khusus keluarga milik Yusuf dan Wanda. Setelah sebelumnya kami mampir di toko kue Trubus, yang terkenal dengan kue-kue tenongannya yang endes…
Siang ini, sesuai rundown yang sudah kami buat, kami ingin ‘makan siang’ di warung sego abang lombok ijo di daerah Pakem Turi.  Dan kami patuh. Di situ, kami benar-benar makan seperti orang kesurupan, apalagi gudeg daun pepaya nya memang benar-benar warbiyasak. Usai makan siang, agenda jalan-jalan ke Kaliurang terpaksa kami batalkan. Selain karena kekenyangan, udara Yogya yang panas, membuat kami memilih istirahat dan ngadem.

Warung sego abang, sayur lodah yang tak terlupakan
Warung sego abang, sayur lodah yang tak terlupakan
Gudeg daun pepayanya, warbiyasak
Gudeg daun pepayanya, warbiyasak
Nyempetin melongok toko Lunar yang tutup saat jam sholat Jumat
Nyempetin melongok toko Lunar yang tutup saat jam sholat Jumat

Jelang agak sore, kami ‘turun’ untuk menjemput salah satu sahabat ke airport. Tapi on the way to go…eh mampir di dowa yang di Tugu. Interior desain toko dowa ini memang vintage dan menarik. Sangat cocok bagi kami yang gemar foto-foto. Dari mulai foto-foto di pintu masuk,hingga lantai dua yang interiornya unik, segala gaya pun terjadi.
Ketika kami sudah lengkap ber6, Ria meminta kepada driver kami, si ‘Piyu’ untuk dilewatin jalur yang ada sawahnya. Dan begitu ketemu sepetak sawah, kamipun langsung kegirangan. Cita-cita bergaya dan berfoto di sawahpun terwujud. Untunglah driver kami, cukup cekatan dan terlatih untuk meladeni kami ber-fotofoto.

Sudah lengkap ber6,  dan akhirnya bisa bergaya di sawah
Sudah lengkap ber6, dan akhirnya bisa bergaya di sawah
Tapi sebelumnya, mejeng dulu di mari....
Tapi sebelumnya, mejeng dulu di mari….
Agak lupa juga ini lagi ngapain di toko dowa
Agak lupa juga ini lagi ngapain di toko dowa

Jumat malam, merujuk pada rundown, dresscode kami adalah: kebaya encim + sarung Betawi, fine dinning di resto dan (tentu saja) foto. Jadi ketika kami sudah siap, tiba-tiba saja muncul ide untuk ‘mampir’ ke Tentrem Hotel. Di hotel milik Sidomuncul ini ada butik batik + kios jamu. Jadilah kami ke situ untuk memanjakan mata+ hati dan minum jamu.

Perempuan berkebaya encim menikmati Jumat malam
Perempuan berkebaya encim menikmati Jumat malam
Obrolan sambil minum jamu di konter Sidomuncul, yang menyenangkan
Obrolan sambil minum jamu di konter Sidomuncul, yang menyenangkan
Akhirnya ketemu juga dengan bubur gudeg
Akhirnya ketemu juga dengan bubur gudeg

Alhasil seusai ‘ngubek’ butik Sidomuncul di Tentrem, jam 21.00 kami baru menyadari bahwa kami lapar. Akhirnya pilihan kami jatuh ke gudeg di jalan Seturan. Dan saya beruntung, keinginan saya makan bubur gudeg terpenuhi. Ketika sampai di situ, masih tersisa bubur gudeg untuk 1 piring. Waks… it’s my lucky day. Kami puas, hari ke 1 berjalan lancar dan menyenangkan. Dan saatnya beristirahat, untuk mempersiapkan diri besok berlatih bersama salah satu maetro tari Bedhaya: DR Theresia Suharti. (bersambung)

Leave A Reply

* All fields are required

*