Upaya Sri Klaten wujudkan #cities4all

Setelah menempuh rute sepanjang 2.500 km selama sebulan lebih, pada 10 Oktober akhirnya Sri Lestari, seorang penyandang disabilitas tiba di Jakarta.  Sri, mengawali perjalanannya dari nol kilometer  Banda Aceh pada 7 September dengan sepeda motor bebek yang dimodifikasi menjadi kendaraan roda tiga.

Sri Lestari dengan motornya, mengarungi 2500 km selama sebulan
Sri Lestari dengan motornya, mengarungi 2500 km selama sebulan

Ini adalah yang kedua kali, setelah tahun lalu Sri menempuh perjalanan 1.200 km dari Jakarta ke Denpasar Bali selama 3 minggu. “Aku ingin orang lain yang hidup di kursi roda sama seperti aku, tahu bahwa mereka juga bisa bahagia. Aku berharap perjalananku ini bisa menginspirasi mereka,” ujar Sri yang rajin update kegiatannya melalui akun twitter @sriklaten.

Sabtu, 11 Oktober lalu, di hadapan sekitar 100 orang di gedung Sapta Pesona Kementrian Pariwisata dan Industri Kreatif, Sri membagi pengalamannya selama perjalanan. Dalam diskusi publik “Mendorong Implementasi Fasilitas Infrastruktur & Transportasi Publik yang Ramah Bagi Penyandang Disabilitas”.

"Aku ingin orang lain yang hidup di kursi roda sama seperti aku, tahu bahwa mereka juga bisa bahagia."
"Aku ingin orang lain yang hidup di kursi roda sama seperti aku, tahu bahwa mereka juga bisa bahagia."

Menurut Sri, kaum disabilitas umumnya mandiri dan bisa melakukan pelbagai hal. “Beri kami kesempatan, kepercayaan, dan akses. Karena kami bisa kemana-mana sendiri,” kata perempuan yang bekerja di Yayasan Roda Untuk Kemanusiaan ini.

Sejumlah kalangan yang turut mendukung kemandirian kalangan disabilitas ini, antara lain walikota Banda Aceh. Dalam paparannya untuk mempersiapkan agar kota Banda Aceh ramah bagi kaum difabel, mengaku kerap harus berbeda dengan rencana pembangunan dari pemerintah pusat. “Jika ada rencana pemerintah pusat kurang perhatikan aspek disabilitas, akan kami tegor,” kata H. Illiza Sa’aduddin Djamal.

"Beri kami kesempatan, kepercayaan, dan akses.Karena kami bisa kemana-mana sendiri,"
"Beri kami kesempatan, kepercayaan, dan akses.Karena kami bisa kemana-mana sendiri,"

Untuk mewujudkan sebagai lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas dan @cities4all memerlukan kerjasama dengan pelbagai pihak termasuk pemangku kebijakan.  Elisa Sutanudjaya, seorang urban architec, memaparkan sejumlah data, bahwa di Jakarta panjang jalan ada 7200 km, tapi trotoarnya baru ada 900 km. Artinya, kota ini sangatlah tidak ramah bagi pejalan kaki.

Bahkan seperti disampaikan oleh Sri, fasilitas publik bagi penyandang disabilitas masih minim. Salah satu contoh adalah: ketika ia akan membeli tiket KA, loket tiketnya tidak terjangkau olehnya. Dan temuan Sri ini disadari oleh Totok  Suryono VP Operation PT KAI. Dia berjanji akan memperbaiki akses bagi penyandang disabilitas ini.

Lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas memerlukan kerjasama dengan pelbagai pihak termasuk pemangku kebijakan.
Lingkungan yang ramah bagi penyandang disabilitas memerlukan kerjasama dengan pelbagai pihak termasuk pemangku kebijakan.

Memang, isu penyandang disabilitas ini termasuk belum populer. Banyak kalangan yang belum ‘kenal’ dan paham. Seperti yang diakui oleh  Eka Sari Lorena Soerbakti @lawankemacetan, Ketua Umum Organda yang juga managing director ESL Express. “Saya baru ngeh dengan isu ini saat dibahas di Eisenhower Fellowship Alumni meeting,” kata Eka. Karenanya, iapun berjanji akan membawa concern ini kepada semua anggota Organda.

Yang pasti diskusi setengah hari yang dipandu @Unilubis ini menghasilkan banyak pekerjaan rumah bagi banyak pihak, terutama pemerintah. Seperti yang disampaikan Mari Pangestu, Menparekraf saat memberikan kesimpulan dari diskusi tadi. “Target paling dekat adalah event olah raga internasional untuk para difabel yang akan dilaksanakan di Jakarta. Mau tidak mau infratruktur harus siap, ya bandara, transpotasi, hotel, dan fasilitas umum, “ujarnya.

Mendukung penyandang disabilitas adalah tugas kita semua
Mendukung penyandang disabilitas adalah tugas kita semua

Diharapkan pada Hari Nasional Penyandang Cacat pada 3 Desember 2014 yang akan datang, pelbagai pihak terkait sudah bisa memberikan usulan yang konkrit kepada pemerintah. Dan itu tinggal 2 bulan lagi lho….

Leave A Reply

* All fields are required

*