“Bunda itu Patron Bagi Anaknya

Suatu malam sepulang kantor, anak lanang menyambut dengan menawarkan segelas coklat.  “Minum susu atau coklat jelang tidur akan membuat tidur kita nyenyak,” katanya. Lho? Itu kan kata-kata saya ketika mulai biasakannya minum susu sebelum tidur, yang rupanya sudah di kopasnya.  Senjata makan tuan deh.

Kopas, gaya ortu-nya
Kopas, gaya ortu-nya

Begitulah, tanpa disadari anak-anak mengkopas (copy paste) apa yang dilakukan, dikatakan orang tuanya, terutama bundanya.  Jika bunda gemar baca sambil tidur, maka tak bisa dihindari anakpun akan lakukan hal yang sama. Bila bunda gemar makan sayur, maka diharapkan anak-anakpun akan mengikuti. So, bunda menerapkan hidup sehat, dan keluargapun akan turut hidup sehat. Karena, ibaratnya bunda adalah patron bagi anak-anaknya.

Mudah ya mengatakannya, tapi jujur,  tak mudah menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi di era digital ini dimana peran bunda tak hanya sebagai ibu rumah tangga, yang diam di rumah, memasak, sambil menunggu suami dan anak-anaknya. Bunda, kini, juga turut membantu mencari nafkah bagi keluarga, yang harus beraktifitas di luar rumah.

Bagaimana bunda di era sekarang ini tetap bisa menjadi patron bagi keluarganya? Tentu lebih susah dan perlu komitmen. Banyak buku, majalah atau tautan di internet yang membahas tentang hidup sehat, yang bisa kita jadikan referensi. Bagi saya, sehat itu jika saya bisa menyeimbangkan sejumlah aspek penting dalam hidup saya, yakni sebagai perempuan, memutuskan berkarier, menikah punya anak, dan hidup di kota metropolitan seperti Jakarta.

Mengajak anak berbagi, untuk asah kepedulian
Mengajak anak berbagi, untuk asah kepedulian

Pertama, menetapkan standar sehat yang masuk akal dan bisa dijangkau oleh kami. Sehat fisik tentu bersumber dari asupan gizi dan olah raga yang cukup.  Jika saya ingin anak-anak suka makan ikan, maka secara regular memasukkan dalam menu makan keluarga, dan sayapun akan lahap menikmatinya. sambil memperkenalkan manfaat dari makanan ini. Demikian pula memperkenalkan dan mengajaknya untuk berbagi, peduli sesama. Olah ragapun tak perlu yang susah, cukup ajak  bersepeda di saat akhir pekan. Atau  sekedar olah raga bareng dengan alat-alat olah raga yang tersedia di rumah. Have fun bersama, sekaligus memberi contoh, tanpa harus memaksa.

Situasi  di atas memang ideal jika kita punya banyak waktu untuk menemani anak-anak beraktifitas. Sayangnya, kondisi bunda saat ini tidak demikian. Maka, hal kedua, adalah penting kita memiliki seseorang atau asisten atau apapun namanya, di rumah, yang bisa kita andalkan. Memastikan ada makanan sehat tersedia, dan mengawasi penerapan aturan-aturan yang ada di rumah itu.

Sejumlah pengaturan juga kami lakukan, dan disepakati bersama. Seperti, anak-anak hanya boleh bermain internet saat akhir pekan saja. Kecuali, jika anak harus mencari bahan untuk mengerjakan homework-nya. Untuk hal semacam ini, biasanya mereka akan menginformasikan ke kami bahwa akan akses internet untuk keperluan sekolah.

Untuk menjaga komunikasi, beruntung, saat ini, fasilitas komunikasi sudah cukup maju. Kita bisa menjadualkan komunikasi rutin, katakanlah 3 kali sehari. Jika kita pelupa – seperti saya– bisa dibuat “reminder” di hape atau blackberry kita. Mudah? Tidak juga, saat saya sedang sangat sibuk, alarm reminder berbunyi, terpaksa diabaikan. Namun, sebagai gantinya, sebelum jalan pulang, biasanya saya nelepon anak-anak: Hei bunda lagi mau jalan pulang, mau dibawain apa? Untuk menebus rasa bersalah.

Seperti bercermin, saat liat gaya dan kebiasaanya.
Seperti bercermin, saat liat gaya dan kebiasaanya.

Yang pasti, pengalaman saya menjadi bunda 2 orang anak, memang seperti menjadi patron.  Anak anak meng-kopas gaya, perilaku, kebiasaan saya, kerap tanpa saya sadari. Tak jarang, saya terkaget-kaget melihat ulah dan tingkahnya, dan baru sadar bahwa itu ‘potret’ saya, ketika seseorang mengingatkannya, “that’s you”.

Leave A Reply

* All fields are required

*