Saat ini jika kita googling kata Maut, yang muncul di halaman 1 adalah artikel kecelakaan di Tugu Tani akhir minggu lalu yang tewaskan 9 orang, dimana penabrak mengendarai mobil Xenia. Sebaliknya bila kita klik kata kunci Xenia, berita serupa juga yang akan muncul di halaman 1 google. Maknanya kedua kata tersebut sudah menjadi sebuah kesatuan, Xenia ya Maut, begitu sebaliknya. Dan kata Maut sudah menjadi atribut bagi merek Xenia.
Jika dilacak, lahirnya kata Xenia Maut dari judul-judul berita media mainstream. Mungkin media mencari ‘cantolan’ berita. Ketika berita-berita itu kemudian ditwit oleh akun media tersebut di social media, itu jadi bahan percakapan para netizen. Makin kerap disebut dan dipercakapkan, kata kunci itu makin sering di cari. Dan seperti biasa google akan mencatat dan dokumentasikan.
Menguntungkankah buat Xenia? Tentu tidak. Karena sejatinya kecelakaan tersebut tidak disebabkan masalah tehnis merek tersebut. Sehingga pihak Xenia beberapa kali menjelaskan tentang produk tersebut kepada media. Namun, berita-berita tersebut kalah popular dan tidak teramplifikasi secara luas dibanding berita lanjutan kecelakaan dan sopirnya. Sehingga jika di googling tidak akan muncul dengan mudah. 
Prestasi Xenia seperti kita lihat, pada semester 1 tahun 2011, penjualan mobil Xenia ada di posisi 3 . Selain harganya ekonomis, Xenia juga irit bahan bakar, tak heran jika menjadi salah satu mobil pilihan masyarakat. Lalu, akankah kasus “Xenia maut”, mempengaruhi penjualannya? Ini belum tentu. Yang pasti ‘branding’ Xenia Maut tentu merugikan brand reputation-nya. Setidaknya, Xenia Maut berasosiasi negatif, dan data-data pencarian di atas mengambarkan demikian.
Tentu sebagai salah satu ‘leading’ brand di industri otomotif, Xenia harus melakukan upaya-upaya Public Relation untuk memperbaiki ’reputasi’nya. Merunut bahwa munculnya penyebutan Xenia Maut adalah dari media mainstream, Xenia perlu segera melakukan relasi ke media secara lebih intens. Setelah itu untuk ‘menekan’ berkembangnya kata Xenia Maut, Xenia harus menambah konten-konten positif yang tentunya relevan dengan atribut mereknya.
Upaya menghilangkan kata “Xenia Maut” di belantara internet adalah sesuatu yang mustahil. Pilihan yang mungkin – tapi tidak mudah—adalah menambah konten, misalnya, tetap dengan kata kunci “Xenia Maut” tapi “Maut” di sini bukan berarti kecelakaan. Kata maut, juga berarti dahsyat, luar biasa memikat dan sebagainya. Contohnya, lirikan maut artis anu….., atau goyang maut penyayi anu.
Nah mengubah fraksa maut menjadi positif menjadi relevan di sini. Disangkutkan dengan fitur yang ada dalam mobil Xenia misalnya. Bila kemudian kata “maut” yang ini bisa cukup populer, maka ketika ketemu kata “Xenia Maut” di situs pencarian, ketika di klik tidak selalu masuk ke informasi seputar kecelakaan maut di Tugu Tani.
Bagaimana menurut Anda?




January 29th, 2012 at 9:37 am
hi Ve, menarik bahasannya tentang Xenia ini. Pertanyaan saya, jika sebuah korporat atau merek yang terkena musibah seperti ini, bisakah, melacak siapakah media yang memulai penyebutan maut dikaitkan dengan merek ini. Sehingga dari situ memungkinkan untuk, katakanlah, menuntut media tersebut? Thank you.
January 31st, 2012 at 11:17 am
Hi Nunik, senang sudah dikunjungi. Kalau melacak siapa yg memulai penyebutan tersebut sih bisa aja, dan jk terbukti menuntutpun bisa. Tapi memang ini langkah yg tidak populer, dan mostly korporat atau brand akan berpikir seribu kali untuk melakukannya. Lebih baik cari upaya yang lebih kreatif untuk recovery. Begitu menurut saya.