Bayangkan kalau Kartini ngetwit….

Hasil crawling salingsilang.com terhadap pengguna social media di Indonesia: Facebook, pada Januari 2011 menunjukkan ada 41% dari total pengguna FB dari Indonesia adalah perempuan. Dan lebih dari 70% berada di usia produktif (18 – 54 tahun). 

Masih menurut report yang sama, Indonesia termasuk negara yang paling ‘cerewet’ di media sosial,  seperti unit gawat darurat yang buka 24 jam, tidak pernah sepi. Tengoklah percakapan di lini masa twitter, nyaris tak ada waktu jeda. Lalu apa yang mereka lakukan? Tentunya macam-macam, dari sekedar cari kawan, bergaul, mencari informasi, berbuat sosial untuk sesama dan berbisnis,  mencari nafkah untuk keluarganya.

Jumlah 41% perempuan pengguna FB menunjukkan bahwa perempuan masa kini tak cukup hanya urusan belakang. Mereka memanfaatkan media sosial untuk berjejaring, berbagi informasi, memantau keadaan di luar dan mengikuti perkembangan dunia.

Memang media sosial seperti FB tidak sekedar untuk bergaul. Namun lebih dari itu, media sosial bisa digunakan untuk mencari dukungan, seperti yang dilakukan oleh simpatisan Prita Mulyasari waktu itu. Di media sosial juga banyak grup-grup baik yang sifatnya untuk kegiatan sosial, nambah ilmu dan sebagainya.
Membayangkan kira-kira apa yang akan dilakukan RA Kartini jika  hidup di era 2.0 ini, masa dimana tak ada lagi batasan gender, apalagi informasi, semua mengalir tanpa batas ruang dan waktu. Tentu pikiran dan gerakannya bisa menginspirasi lebih banyak orang dari pelbagai belahan dunia.   Apalagi jika Kartini ngetwit, followernya tentu bisa berjumlah jutaan.

Sekolah wanita yang didirikan Kartini  di  kompleks kantor kabupaten Rembang, bisa jadi popularitasnya akan menyerupai tagar #17an (satu tujuan) yang selalu jadi trending topic setiap kali dilaksanakan. Karena seperti diketahui, media sosial sangat cepat mendukung aktivitas-aktivitas positif. Seperti #17an misalnya, yang setiap tanggal 17 bisa mendorong orang mengungkapkan kecintaannya pada Indonesia, kebhinekaan, nilai-nilai luhur Indonesia.

Bagi saya, yang paling hakiki dari Kartini adalah semangat  belajarnya  mendobrak “dinding” yang menghalanginya untuk mendapatkan ilmu. Juga bagaimana ia menularkan semangat itu kepada kaumnya.  Nah, di era sekarang, boleh dibilang “pembatas’ itu telah runtuh. Internet membuat kita semua. Kaum perempuan punya kesempatan sama luasnya dengan laki-laki.

Kini,  perempuan — siapapun, tak perlu harus anak wedana — bisa menjadi “Kartini” untuk masyarakat yang lebih luas. Mereka tak lagi punya hambatan untuk berkolaborasi lintas gender. Dengan memanfaatkan teknologi dan media sosial, banyak kaum hawa menjadi motor dan beraktivitas  yang mampu menginspirasi banyak orang untuk berbuat sesuatu (yang baik tentunya) untuk masyarakat. Dan kaum lelaki pun tak segan untuk mendukungnya.

Mereka melakukan dengan hati, karena mereka bisa dan mau melakukan. Tujuannya jelas untuk memberi manfaat kepada orang lain, bukan berharap pujian juga sebuah penghargaan. Sekedar contoh, @Akademiberbagi, misalnya, mengorganisir pendidikan dalam kelas untuk berbagai pengetahuan, dari soal media sosial, penulisan kreatif, penyutradaraan sampai komunikasi pemasaran dan public relation. Kegiatan probono yang dirintis oleh seorang ibu ber-akun @pasarsapi alias Ainun Chomsun dan kawan-kawannya ini sekarang sudah melebar ke beberapa kota.

Begitu juga Blood For Life.   FL  lahir akhir  Maret 2009,  oleh sekelompok anak negeri, yang diprakarsai juga oleh seorang ibu @justsilly alias Valencia MR.  BFL ketika terbentuk pertama kali berupa mailing list  terdiri dari 44 email accounts, yang merepresentasikan 44 anggota. Mereka bergabung secara sadar dan sukarela, untuk dihubungi oleh siapapun yang memerlukan darah – yang sudah tidak dapat dipenuhi oleh PMI.  Dan ini murni gerakan sosial.

Contoh di atas hanya sebagian kecil insiatif yang hadir di era tanpa batas ini. Tentunya masih banyak inisitif perempuan Indonesia yang menginspirasi masyarakat. Dan saat ini dengan teknologi informasi yang tersedia, siapapun bisa menjadi “Kartini”. Andakah “Kartini” berikutnya?

1 Response

  1. 18 July 2015 at 3:19 am

    Tuomilehto J, Tuomilehto-Wolf E, Zimmet P, Alberti K, Knowler W.
    Primary prevention of diabetes mellitus.

    Stop by my page arirang.pknu.ac.kr

Leave A Reply

* All fields are required

*