Bikin Konten Positif, Ketimbang Melototi Konten Negatif

Polemik video porno yang mirip selebriti itu terus saja dibahas, bahkan oleh Menteri Kominfo Tifatul Sembiring. Padahal, banyak pihak ingin polemik itu dihentikan. Ranahnya sudah masuk urusan Kepolisian.

Cari info semudah meng-klik google
Cari info semudah meng-klik google

Namun, Tifatul mungkin merasa berkepentingan, tentu bukan karena adegannya. Tapi, lebih karena kasus ini bisa dijadikan kendaraan untuk mengantarkan RPM Konten Multimedia ke ranah publik lagi.

RPM Konten Multimedia sendiri sebenarnya bukan murni gagasan mantan presiden PKS ini. Aturan ini  digagas  Menkominfo era Prof M.Nuh pada 2006, namun tak pernah di publikasi. Karena memang isinya bisa diduga akan mendapat ”perlawanan” publik, khususnya media dan masyarakat pendukung kebebasan berekspresi. Dan benar adanya, ketika Kemkominfo mempublikasikan RPM tersebut, baik Dewan Pers, Masyarakat Media Sosial, dan para cerdik pandai seakan kompak menolak, rencana aturan tersebut.

Kemkominfo memang kemudian  cooling down, tapi tetap mencari kesempatan untuk memunculkan aturan represif tersebut, ketika ada momentum yang pas. Nah kasus video mirip seleb itu seakan bisa menjadi momentum.

Sekadar membuka pikiran saja. Kasus video mirip seleb tersebut, tak membuktikan apa pun bahwa internet bersalah dalam hal ini. Internet hanyalah medium modern yang memungkinkan untuk mempublikasikan sebuah konten dalam waktu singkat ke seluruh penjuru dunia. Konten negatif seperti video tersebut, ataupun konten positif, mendapat kesempatan yang sama di internet.

Karena konten positif dan negatif berkesempatan sama,  semestinya KemKominfo mendorong semua pihak untuk berlomba membuat konten positif sebanyak-banyaknya di internet. Cara ini mungkin akan lebih mendapat dukungan publik, ketimbang memelototi internet cuma untuk mencari konten negatif dan melaporkannya kepada yang berwenang. Bila 20% saja dari 30 juta pengakses internet di Indonesia membuat 1 konten positif setiap minggu, maka tiap bulan akan ada 24 juta konten positif di internet. Dengan begitu konten positif akan menjadi mayoritas. Dan Indonesia tak akan lagi jadi fakir konten.

Kekhawatiran MenKominfo, bahwa pengakses internet kesasar ke konten-konten negatif, sesungguhnya sangat berlebihan. Ketika seseorang mengakses internet, subyek adalah si pengakses. Jadi kalau kemudian ia masuk ke situs negatif, pasti karena subyek memang menghendaki (mencari) situs negatif tersebut, misalnya melakukan pencarian dengan kata kunci tertentu.

Memang ada beberapa situs negatif menggunakan SEO — yang memasang tag kata-kata yang menjadi tren di internet. Namun bila si subyek tak meng-klik link tersebut, tentu tak akan kesasar. Kalau pun nyasar, ya ’nggak usah dibaca, klik balik saja.

Artinya, tak ada gunanya melawan keberadaan konten negatif di internet, selama si subyek tetap aktif mencari. Jadi kampanye memanfaatkan internet secara positif, akan lebih memberi manfaat kepada publik, ketimbang, mengecam sebuah konten negatif. Karena bila yang mengecam sebuah konten negatif adalah lembaga formal seperti KemKominfo, itu malah berarti promosi bagi konten tersebut. Dan publik justru akan penasaran  mencari konten yang dikecam tersebut.

Jadi tak perlu bersikukuh mendorong  RPM Konten Multimedia. Yang perlu didorong adalah pembuatan konten positif sebanyak mungkin.

Leave A Reply

* All fields are required

*