Mantra itu bernama Lifestyle.

Sekian tahun lalu, orang yang ke kantor  naik sepeda, akan dianggap dari kalangan kurang mampu. Betapa tidak, karena yang lain naik mobil, sepeda motor. Bahkan,  banyak juga  pelajar yang malu, kalau ke sekolah naik sepeda. Buat mereka, lebih baik naik angkutan umum, atau nebeng kawan, ketimbang harus menanggung malu, dengan menenteng sepeda ke sekolah.

Bersepeda, bagian dari gaya hidup
Bersepeda, bagian dari gaya hidup

Jaman berganti dan pola pandang masyarakatpun berubah. Sekarang, naik sepeda ke kantor ataupun ke sekolah sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan masyarakat  yang tergabung dalam gerakan Bike to work pun sudah puluhan jumlahnya. Bahkan sepeda onthel yang dulu dianggap sepeda aki-aki, kini pun naik daun. Banyak kaum muda yang tergila-gila dengan sepeda kuno ini. Sejatinya bersepeda tak cuma soal gaya, tapi juga sehat.

Kata kuncinya adalah lifestyle. Sepeda citranya terangkat kembali dan menjadi kendaraan yang dibanggakan pemiliknya karena barang ini sudah menjadi bagian dari lifestyle,  yaitu gaya hidup sehat. Ya healthy lifestyle sedang jadi impian banyak orang, seperti halnya green lifestyle, yakni  gaya hidup yang ramah lingkungan.

Sekian puluh tahun lalu, Anita Roddick sang pendiri Body Shop bersusah payah membangun pasar bagi produk perawatan tubuh dan kecantikan yang ramah lingkungan. Tak cuma berjuang meyakinkan pasar, tapi juga berjuang ”melawan” para penggiat lingkungan yang meragukan keramahan lingkungan produk Body Shop.

Kini, ramah lingkungan atau produk sehat justru jadi mantra ajaib bagi sebuah produk untuk bisa diterima pasar, terutama di metropolitan. Walau untuk mendapatkan produk-produk tersebut, konsumen harus membayar lebih mahal. Dan itu karena sehat dan ramah lingkungan sudah menjadi bagian dari lifestyle, seperti halnya produk fashion.

Lihat saja, deretan consumer products yang diposisikan sebagai healthy product ataupun produk hijau.  Dari

Green  sudah jadi slogan populer
Green sudah jadi slogan populer

produk makanan, minuman, kudapan, perawatan tubuh,  bensin, dan bahkan sampai perangkat telekomunikasi – BTS pun ramah lingkungan sudah ada. Sebut saja beras, sayuran organic, kosmetik yang berbahan non chemical, dan masih banyak lagi.

Hidup sehat dan menjalani hidup yang ramah lingkungan memang sebuah gerakan yang sangat baik dan dianjurkan.  Dan ini memang tengah menjadi gerakan dunia. Terutama jika dikaitkan dengan paya-upaya kita untuk mengurangi dampak lingkungan akibat pemanasan global/Global Warming.

Tapi, masalahnya sebagai konsumen, kita kerap hanya tergiur dengan unsur gaya hidupnya, tanpa memahami makna sesungguhnya dari gerakan sehat dan ramah lingkungan itu sendiri.   Dan psikologi masyarakat  inilah yang kemudian banyak juga dimanfatkan produsen, dengan melabeli produknya dengan istilah  ”green product”, aman bagi lingkungan, rendah kalori, dan sebagainya. Apakah semua produk yang ada  benar-benar ramah lingkungan atau menyehatkan, belum ada survei yang membuktikan.

Yang pasti,  untuk mendapatkan label  hidup sehat dan ramah lingkungan,  sejatinya bisa kita lakukan sendiri. Misalnya, tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan sumberair secukupnya. Atau jika ingin hidup sehat, ya kita bisa mengatur pola makan yang sehat, empat sehat lima sempurna, seperti anjuran  hidup sehat yang kerap kita dengar saat masih kecil. Bagaimana menurut kawan?

Leave A Reply

* All fields are required

*