<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Mahal? Nggak masalah&#8230;.</title>
	<atom:link href="http://vlisa.com/2008/09/23/mahal-nggak-masalah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vlisa.com/2008/09/23/mahal-nggak-masalah/</link>
	<description>it's me</description>
	<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 08:43:33 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/09/23/mahal-nggak-masalah/#comment-233228</link>
		<dc:creator>vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 14:24:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/?p=243#comment-233228</guid>
		<description>Hei mas Embun....kalau sekarang nggak bisa bangun pagi barangkali itu tanda2 kemakmuran. tapi aku sependapat dengan falsafah yang dianut teman2 kita kalangan Chinese, bahwa mereka selalu bangun pagi dan kejar rejeki se awal mungkin. kalau kesiangan, rejekinya udah ilang.........

tapi bangun pagi juga bagus untuk kesehatan, menghirup udara yang masih bersih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hei mas Embun&#8230;.kalau sekarang nggak bisa bangun pagi barangkali itu tanda2 kemakmuran. tapi aku sependapat dengan falsafah yang dianut teman2 kita kalangan Chinese, bahwa mereka selalu bangun pagi dan kejar rejeki se awal mungkin. kalau kesiangan, rejekinya udah ilang&#8230;&#8230;&#8230;</p>
<p>tapi bangun pagi juga bagus untuk kesehatan, menghirup udara yang masih bersih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Embun</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/09/23/mahal-nggak-masalah/#comment-233220</link>
		<dc:creator>Embun</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 07:29:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/?p=243#comment-233220</guid>
		<description>SIang ini, gak sengaja lihat metroTV dan ternyata muncul juga sosok yang selama ini cuman nampang fotonya doank. 
Lama ga berkunjung ke blog ini.

Satu hal yang aku ingat dari pasar tradisional adalah, bisa merengek-rengek ke ibu untuk dibelikan &lt;i&gt;godir&lt;/i&gt; (agar-gar jawa) dan selalu mampir di warung kopi untuk beli wedang jahe. Semua itu dilakukkan jam 4-5 pagi.

Dulu kok bisa ya bangun sepagi itu.... lhah sekarang, kalo alarm belum bunyi ya masih molor.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SIang ini, gak sengaja lihat metroTV dan ternyata muncul juga sosok yang selama ini cuman nampang fotonya doank.<br />
Lama ga berkunjung ke blog ini.</p>
<p>Satu hal yang aku ingat dari pasar tradisional adalah, bisa merengek-rengek ke ibu untuk dibelikan <i>godir</i> (agar-gar jawa) dan selalu mampir di warung kopi untuk beli wedang jahe. Semua itu dilakukkan jam 4-5 pagi.</p>
<p>Dulu kok bisa ya bangun sepagi itu&#8230;. lhah sekarang, kalo alarm belum bunyi ya masih molor.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zam</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/09/23/mahal-nggak-masalah/#comment-233087</link>
		<dc:creator>zam</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Sep 2008 03:54:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/?p=243#comment-233087</guid>
		<description>kalo di mol dan pasar modern, sapaannya selalu bisa ditebak, "mari kakak, silakan kakak.." emangnya aku kakamu, po??

untungnya yg nyapa gitu cewek manis, mbak.. hihihihi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalo di mol dan pasar modern, sapaannya selalu bisa ditebak, &#8220;mari kakak, silakan kakak..&#8221; emangnya aku kakamu, po??</p>
<p>untungnya yg nyapa gitu cewek manis, mbak.. hihihihi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/09/23/mahal-nggak-masalah/#comment-233084</link>
		<dc:creator>vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 14:05:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/?p=243#comment-233084</guid>
		<description>Menarik sekali mas Andy pengalamannya....dan yang surprise adalah konsistensinya dalam menjalankan "tugas" belanja itu lho. Saya mengenai pasar Mayestik, karena dulu sempat kontrak paviliun di daerah blok A situ. Di situ ada 2 pasar, pasar Blok A dan Mayestik, hanya saya lebih suka ke Mayestik. Karena kalau ke situ, nggak cuma belanja, tapi juga beli kain, sarapan soto di depan ATM BCA, atau ke bakmi Boy, kadang2 kalau lagi capek mampir pijat ke Bersih Sehat. Pokoknya beragam deh yang bisa kita dapat di situ. Sekarang, saat sudah pindah ke Pamulang, aku kadang masih ke situ, ya untuk klangenan atau memang memerlukan sesuatu. seperti ngejahitin seragam sekolah anakku, cari panci, mampir ke toko kosmetik Budi Mulia. Nyari jajanan. hehehehehe. 

Sekarang sih aku lebih sering ke pasar modern BSD, juga lumayan lengkap. Namun, suasananya belum mampu mengalahkan Mayestik. Kayaknya aku udah jadi pasar Mayestik addicted ya.........</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik sekali mas Andy pengalamannya&#8230;.dan yang surprise adalah konsistensinya dalam menjalankan &#8220;tugas&#8221; belanja itu lho. Saya mengenai pasar Mayestik, karena dulu sempat kontrak paviliun di daerah blok A situ. Di situ ada 2 pasar, pasar Blok A dan Mayestik, hanya saya lebih suka ke Mayestik. Karena kalau ke situ, nggak cuma belanja, tapi juga beli kain, sarapan soto di depan ATM BCA, atau ke bakmi Boy, kadang2 kalau lagi capek mampir pijat ke Bersih Sehat. Pokoknya beragam deh yang bisa kita dapat di situ. Sekarang, saat sudah pindah ke Pamulang, aku kadang masih ke situ, ya untuk klangenan atau memang memerlukan sesuatu. seperti ngejahitin seragam sekolah anakku, cari panci, mampir ke toko kosmetik Budi Mulia. Nyari jajanan. hehehehehe. </p>
<p>Sekarang sih aku lebih sering ke pasar modern BSD, juga lumayan lengkap. Namun, suasananya belum mampu mengalahkan Mayestik. Kayaknya aku udah jadi pasar Mayestik addicted ya&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andy zoeltom</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/09/23/mahal-nggak-masalah/#comment-233082</link>
		<dc:creator>andy zoeltom</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 06:57:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/?p=243#comment-233082</guid>
		<description>Tulisan Mbak Lisa mengingatkan pengalaman saya.
Ketika masih kuliah saya sering belanja di pasar tradisional. Paling tidak Minggu pagi saya belanja sayuran, siang masak, dan langsung dimakan. Kebetulan saya kontrak rumah kecil sendiri, jadi ada peralatan masaknya. Yang dimasak, sayur lodeh, plus tempe goreng. Itu saja. Cuma senang saja melakoninya. Tidak ada beban, tidak ada juga yang memaksa saya harus masak atau beli makan di luaran. Saya tinggal di Jln. Sahardjo, jadi kalau ke pasar, saya pergi ke pasar jembatan merah. Lucunya, ketika ditanya ibu2 penjual sayur ke mana istrinya, saya cuma  jawab dengan tersenyum. Tapi ada juga yang Ibu2 bilang, istrinya lagi melahirkan ya, kok belanja sendiri. 

Itu pengalaman ketika kuliah.

Ketika saya sudah menikah, saya dan istri saya hanya tinggal berdua di Perumahan Taman Duta Cisalak, Bogor. Kami tidak memiliki pembantu. Oleh karena itu saya dan istri saya bagi-bagi tugas. Saya kebagian belanja ke pasar. Jadi setiap Minggu saya belanja di pasar Cisalak, belanja untuk satu minggu. Ketika itu saya suka sekali sop buntut, jadi saya tahu di mana tempat penjual buntut sapi di pasar tersebut. Kadang kalau saya datang, orang2 penjual daging di sana sudah tahu , kalau yang saya cari buntut sapi.  Bukan cuma itu, beberapa ibu penjual sayuran pun saya kenal baik. Membeli sayur sop satu bungkus tiga ratus perak, sudah jadi mode ketika itu. Begitu juga dengan sayur asem. Kadang saya juga harus membeli bumbu dapur. Wah, entah kenapa saya senang2 saja melakukannya. Saya tidak malu melakukan itu semua. Saya perhatikan ada para suami yang mengantarkan istrinya belanja. Sementara sang istri belanja masuk ke pasar, sang suami menunggu sambil membaca koran di mobil. 

Pulang dari pasar, saya juga yang membersihkan daging dan ikan yang dibeli. Setelah selesai baru istri saya yang bertugas memasak, sementara saya duduk santai membaca Kompas Minggu.

Ketika kami pindah ke Harapan Baru, Bekasi Barat, apa yang saya lakukan tak juga berubah. Saya tetap saja mendapat bagian tugas ke pasar. Saya jadi mengenal kondisi pasar di sana. Nah, lima tahu di sana, saya pindah lagi ke Cilengsi, dan saya pun mengenal baik kalangan pasar di sana. Bedanya kalau dulu saya ke pasar sendirian, sekarang kalau saya ke pasar ditemani anak lelaki saya.

Belanja ke pasar tradisional memang seru. Kadang, saya sempat2nya duduk sebentar memperhatikan mereka yang jualan, betapa gigihnya mereka berusaha, demi mencari sesuap nasi. Dari situ saya mendapatkan semangat baru, untuk terus berusaha. Ternyata masih banyak orang yang hidupnya lebih susah dari saya, dan mereka bekerja  keras. Saya pun pulang dari pasar penuh semangat. Tak jarang, kadang ada saja ide yang muncul dari sana.

Salam,

AZ</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Mbak Lisa mengingatkan pengalaman saya.<br />
Ketika masih kuliah saya sering belanja di pasar tradisional. Paling tidak Minggu pagi saya belanja sayuran, siang masak, dan langsung dimakan. Kebetulan saya kontrak rumah kecil sendiri, jadi ada peralatan masaknya. Yang dimasak, sayur lodeh, plus tempe goreng. Itu saja. Cuma senang saja melakoninya. Tidak ada beban, tidak ada juga yang memaksa saya harus masak atau beli makan di luaran. Saya tinggal di Jln. Sahardjo, jadi kalau ke pasar, saya pergi ke pasar jembatan merah. Lucunya, ketika ditanya ibu2 penjual sayur ke mana istrinya, saya cuma  jawab dengan tersenyum. Tapi ada juga yang Ibu2 bilang, istrinya lagi melahirkan ya, kok belanja sendiri. </p>
<p>Itu pengalaman ketika kuliah.</p>
<p>Ketika saya sudah menikah, saya dan istri saya hanya tinggal berdua di Perumahan Taman Duta Cisalak, Bogor. Kami tidak memiliki pembantu. Oleh karena itu saya dan istri saya bagi-bagi tugas. Saya kebagian belanja ke pasar. Jadi setiap Minggu saya belanja di pasar Cisalak, belanja untuk satu minggu. Ketika itu saya suka sekali sop buntut, jadi saya tahu di mana tempat penjual buntut sapi di pasar tersebut. Kadang kalau saya datang, orang2 penjual daging di sana sudah tahu , kalau yang saya cari buntut sapi.  Bukan cuma itu, beberapa ibu penjual sayuran pun saya kenal baik. Membeli sayur sop satu bungkus tiga ratus perak, sudah jadi mode ketika itu. Begitu juga dengan sayur asem. Kadang saya juga harus membeli bumbu dapur. Wah, entah kenapa saya senang2 saja melakukannya. Saya tidak malu melakukan itu semua. Saya perhatikan ada para suami yang mengantarkan istrinya belanja. Sementara sang istri belanja masuk ke pasar, sang suami menunggu sambil membaca koran di mobil. </p>
<p>Pulang dari pasar, saya juga yang membersihkan daging dan ikan yang dibeli. Setelah selesai baru istri saya yang bertugas memasak, sementara saya duduk santai membaca Kompas Minggu.</p>
<p>Ketika kami pindah ke Harapan Baru, Bekasi Barat, apa yang saya lakukan tak juga berubah. Saya tetap saja mendapat bagian tugas ke pasar. Saya jadi mengenal kondisi pasar di sana. Nah, lima tahu di sana, saya pindah lagi ke Cilengsi, dan saya pun mengenal baik kalangan pasar di sana. Bedanya kalau dulu saya ke pasar sendirian, sekarang kalau saya ke pasar ditemani anak lelaki saya.</p>
<p>Belanja ke pasar tradisional memang seru. Kadang, saya sempat2nya duduk sebentar memperhatikan mereka yang jualan, betapa gigihnya mereka berusaha, demi mencari sesuap nasi. Dari situ saya mendapatkan semangat baru, untuk terus berusaha. Ternyata masih banyak orang yang hidupnya lebih susah dari saya, dan mereka bekerja  keras. Saya pun pulang dari pasar penuh semangat. Tak jarang, kadang ada saja ide yang muncul dari sana.</p>
<p>Salam,</p>
<p>AZ</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
