<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Menyiapkan Sebuah Konferensi Pers</title>
	<atom:link href="http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/</link>
	<description>it's me</description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 23:48:24 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-234435</link>
		<dc:creator>vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 09:39:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-234435</guid>
		<description>@ Susan. Sorry, aku agak awam industri makanan. Namun, setahuku setiap makannan dan minuman pasati sudah mendapat label dari Lembaga POM kan bahwa makanan tersebut layak edar dan tiak mengandung zat2 yang berbahaya.  menurut aku yang bisa dilakukan adalah:
1. Mengajak wartawan mengunjungi pabrik pembuatan oreo (iklannya kan sudah ada). melihat proses produksi dari dekat. (undang wartawan2 media berpengaruh secara nasional). 
2. Setelah itu adakan press conference secara informal di lokasi tersebut.
Yang pasti di kedua program ini undang juga wakil dari lembaga POM untuk hadir dan memberikan opininya tentang makanan dan minuman yang layak dapat label POM.
Dengan 2 upaya tersebut tanpa harus membantah dan mengklarifikasi, secara alami kedua hal tersebut akan tercapai. Dan nilai tambahnya media jadi lebih mengenal oreo. Nah, setelah itu lakukan program dengan media secara lebih regular sekedar update, etc. 
Mudah2an ini cukup ya....Salam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Susan. Sorry, aku agak awam industri makanan. Namun, setahuku setiap makannan dan minuman pasati sudah mendapat label dari Lembaga POM kan bahwa makanan tersebut layak edar dan tiak mengandung zat2 yang berbahaya.  menurut aku yang bisa dilakukan adalah:<br />
1. Mengajak wartawan mengunjungi pabrik pembuatan oreo (iklannya kan sudah ada). melihat proses produksi dari dekat. (undang wartawan2 media berpengaruh secara nasional).<br />
2. Setelah itu adakan press conference secara informal di lokasi tersebut.<br />
Yang pasti di kedua program ini undang juga wakil dari lembaga POM untuk hadir dan memberikan opininya tentang makanan dan minuman yang layak dapat label POM.<br />
Dengan 2 upaya tersebut tanpa harus membantah dan mengklarifikasi, secara alami kedua hal tersebut akan tercapai. Dan nilai tambahnya media jadi lebih mengenal oreo. Nah, setelah itu lakukan program dengan media secara lebih regular sekedar update, etc.<br />
Mudah2an ini cukup ya&#8230;.Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: susan</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-234429</link>
		<dc:creator>susan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 15:18:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-234429</guid>
		<description>mbak, jika kita mengangkat kasus oreo yang diisukan melamin, menurut Mbak apa yg seharusnya disampaikan pihak Kraft dalam konferensi pers?membantah isu, mengklarifikasi isu, atau bagaimana?dalam situasi seperti itu, apa yang media inginkan dalam pers conference? 
mohon bimbingannya
terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mbak, jika kita mengangkat kasus oreo yang diisukan melamin, menurut Mbak apa yg seharusnya disampaikan pihak Kraft dalam konferensi pers?membantah isu, mengklarifikasi isu, atau bagaimana?dalam situasi seperti itu, apa yang media inginkan dalam pers conference?<br />
mohon bimbingannya<br />
terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-233269</link>
		<dc:creator>Vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 05:50:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-233269</guid>
		<description>Dear Geschia, kalau untuk press conference, tentu kita akan mengundang media yang sesuai dengan sasaran perusahaan (korporasi maupun produk, jika konferensi pers itu ditujukan untuk merilis produk baru). Artinya kita memang mesti memilih. Karena sekarang jumlah media banyak banget, selain mainstream media, online, banyak juga penulis blog yang suka hadir di acara-acara semacam itu.

Biasanya kepada yang datang, diberikan souvenir. Kalau untuk berita utama, terutama di media-media besar, biasa mereka sudah memiliki kriteria tersendiri tentang berita2 yang bisa mereka angkat menjadi cover story.jadi membayar atau tidak, tidak ada kaitannya dengan dijadikan berita utama atau tidak. Kalau itu dilakukan, salah2 akan merusak hubungan dengan media tersebut. Salam,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Geschia, kalau untuk press conference, tentu kita akan mengundang media yang sesuai dengan sasaran perusahaan (korporasi maupun produk, jika konferensi pers itu ditujukan untuk merilis produk baru). Artinya kita memang mesti memilih. Karena sekarang jumlah media banyak banget, selain mainstream media, online, banyak juga penulis blog yang suka hadir di acara-acara semacam itu.</p>
<p>Biasanya kepada yang datang, diberikan souvenir. Kalau untuk berita utama, terutama di media-media besar, biasa mereka sudah memiliki kriteria tersendiri tentang berita2 yang bisa mereka angkat menjadi cover story.jadi membayar atau tidak, tidak ada kaitannya dengan dijadikan berita utama atau tidak. Kalau itu dilakukan, salah2 akan merusak hubungan dengan media tersebut. Salam,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: geschia</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-233251</link>
		<dc:creator>geschia</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 07:33:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-233251</guid>
		<description>mbak, kalo kita mau mengadakan konferensi pers, kita mengundang media. bisa ga kita memilih dan membayar kolom media agar berita tentang kita dijadikan berita utama? makasih mbak...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mbak, kalo kita mau mengadakan konferensi pers, kita mengundang media. bisa ga kita memilih dan membayar kolom media agar berita tentang kita dijadikan berita utama? makasih mbak&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-231047</link>
		<dc:creator>vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 05:05:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-231047</guid>
		<description>Ya prinsipnya  sama saja dengan ngundang blogger atau wartawan. &#62;&#62;&#62;&#62;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya prinsipnya  sama saja dengan ngundang blogger atau wartawan. &gt;&gt;&gt;&gt;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ben</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230975</link>
		<dc:creator>Ben</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 10:34:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230975</guid>
		<description>Kalau menyiapkan konferensi yg ngundang blogger gimana? :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau menyiapkan konferensi yg ngundang blogger gimana? <img src='http://vlisa.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230671</link>
		<dc:creator>Vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Jul 2008 04:41:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230671</guid>
		<description>&lt;p&gt;Hei. Yang Melly lakukan sudah benar dengan  memberikan pointers dan update issue2 yang ada di industri dimana perusahaan tempat Melly bekerja. Hal-hal yang bisa dilakukan selanjutnya adalah:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1. Di company, biasanya spokesperson kan nggak cuma 1. Head of PR atau apapun namanya juga mestinya bisa menjadi spokesperson mewakili perusahaan/bos menjawab pertanyaan pers. Dalam hal bos masih trauma, maka supaya media tidak kehilangan berita dari perusahaan dan regularitas pemberitaan tentang company tetap terjaga, maka 2nd spokesperson ini mestinya yang menggantikan peran yang selama ini dijalankan oleh bos melly dalam menjawab pertanyaan media. Dengan persetujuan bos Melly tentunya. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2. Untuk menghilangkan trauma bos, misalnya bisa dilakukan interview khusus dengan media tertentu (dimana Melly maupun company memiliki relasi yang cukup bagus). One on one interview, tentang sebuah topik yang dipersiapkan, dimana hasil penulisannya lebih positif, diharapkan akan menyembuhkan trauma bos Melly. &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3. Biasakan, wawancara dengam media manapun, terekam. Toh sekarang voice recording banyak tersedia, baik di ponsel muapun gadget lainnya, tak harus tape recorder yang jadul. Sehingga ketika terjadi kesalahan interprestasi  dengan pers,  akan gampang klarifikasinya.&lt;br /&gt;
Tks,  Lisa&lt;/p&gt;
</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hei. Yang Melly lakukan sudah benar dengan  memberikan pointers dan update issue2 yang ada di industri dimana perusahaan tempat Melly bekerja. Hal-hal yang bisa dilakukan selanjutnya adalah:</p>
<p>1. Di company, biasanya spokesperson kan nggak cuma 1. Head of PR atau apapun namanya juga mestinya bisa menjadi spokesperson mewakili perusahaan/bos menjawab pertanyaan pers. Dalam hal bos masih trauma, maka supaya media tidak kehilangan berita dari perusahaan dan regularitas pemberitaan tentang company tetap terjaga, maka 2nd spokesperson ini mestinya yang menggantikan peran yang selama ini dijalankan oleh bos melly dalam menjawab pertanyaan media. Dengan persetujuan bos Melly tentunya. </p>
<p>2. Untuk menghilangkan trauma bos, misalnya bisa dilakukan interview khusus dengan media tertentu (dimana Melly maupun company memiliki relasi yang cukup bagus). One on one interview, tentang sebuah topik yang dipersiapkan, dimana hasil penulisannya lebih positif, diharapkan akan menyembuhkan trauma bos Melly. </p>
<p>3. Biasakan, wawancara dengam media manapun, terekam. Toh sekarang voice recording banyak tersedia, baik di ponsel muapun gadget lainnya, tak harus tape recorder yang jadul. Sehingga ketika terjadi kesalahan interprestasi  dengan pers,  akan gampang klarifikasinya.<br />
Tks,  Lisa</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: melly</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230549</link>
		<dc:creator>melly</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 03:02:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230549</guid>
		<description>Mbak, topiknya menarik. Boleh nanya yang agak spesifik nggak? Gini, belakangan bos ku  takut ngomong ke media. Soalnya beberapa kali tulisan yang muncul atas wawancara dengan dia, agak negatif, dan melenceng dari apa yang dia sampaikan. Untuk beberapa issue, aku sudah coba kasih pointers ke bos ku, just in case dia ditanya wartawan. Tapi, masih trauma tuh..........Giman ya mbak...........Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak, topiknya menarik. Boleh nanya yang agak spesifik nggak? Gini, belakangan bos ku  takut ngomong ke media. Soalnya beberapa kali tulisan yang muncul atas wawancara dengan dia, agak negatif, dan melenceng dari apa yang dia sampaikan. Untuk beberapa issue, aku sudah coba kasih pointers ke bos ku, just in case dia ditanya wartawan. Tapi, masih trauma tuh&#8230;&#8230;&#8230;.Giman ya mbak&#8230;&#8230;&#8230;..Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230312</link>
		<dc:creator>Vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 14:44:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230312</guid>
		<description>Alo juga Tony, salam kenal kembali. Ada perbedaan mendasar antara promo dan PR. Promo pekerjaannya lebih fokus untuk mendukung pencapain penjualan secara langsung. deal-2 yang dilakukan promo lebih bersifat komersial dan berbayar. PR, terutama marketing PR memang juga dilakukan untuk mendukung program sales, namun secara tidak langsung, semisal melalui publisitas media. Dan untuk menghasilkan itu, diperlukan kemampuan menciptakan content yang menarik untuk media, serta kemampuan relationship yang bagus. Mengerti tentang produk dan program marketing saja tidak cukup. Untuk bisa menjalani pekerjaan PR, diperlukan kemampuan menerjemahkan pesan korporasi menjadi pesan yang punya news value. Maka, banyak yang menyebutnya bahwa PR is an art. Dan disitulah seninya. Mudah2an cukup ya, good luck untuk pindah jalur ke PR. salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alo juga Tony, salam kenal kembali. Ada perbedaan mendasar antara promo dan PR. Promo pekerjaannya lebih fokus untuk mendukung pencapain penjualan secara langsung. deal-2 yang dilakukan promo lebih bersifat komersial dan berbayar. PR, terutama marketing PR memang juga dilakukan untuk mendukung program sales, namun secara tidak langsung, semisal melalui publisitas media. Dan untuk menghasilkan itu, diperlukan kemampuan menciptakan content yang menarik untuk media, serta kemampuan relationship yang bagus. Mengerti tentang produk dan program marketing saja tidak cukup. Untuk bisa menjalani pekerjaan PR, diperlukan kemampuan menerjemahkan pesan korporasi menjadi pesan yang punya news value. Maka, banyak yang menyebutnya bahwa PR is an art. Dan disitulah seninya. Mudah2an cukup ya, good luck untuk pindah jalur ke PR. salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: lisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230310</link>
		<dc:creator>lisa</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 14:09:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/07/menyiapkan-sebuah-konferensi-pers/#comment-230310</guid>
		<description>Dear Dani,  kebetulan saya juga pernah jadi wartawan. Dan saya tahu  masalah amplop memang selalu menjadi soal sensitif, sejak dulu sampai sekarang tentunya. 

Yang jelas, kalau masalah amplop, sebenarnya tergantung kebijakan dari perusahaan masing-masing. Mau memutuskan memberi atau tidak. Namun, yang penting adalah,  konsistensinya dalam  menjalankan kebijakan tersebut. 

1.Karena, apapun sebenarnya pekerjaan ini menyangkut RELATIONSHIP dan PARTNERSHIP. Dan itu sebenarnya tidak bisa diubah begitu saja menjadi TRANSAKSIONAL. Karena keduanya memiliki value yang berbeda, dan tentu hasilnya pun juga akan berbeda. 

2.PR bekerja dan melakukan  relationship atas nama perusahaan. Bisa jadi pelakunya tidak selamanya berada di situ, tapi perusahaan tersebut akan terus ada, dan terus "menjalani" hubungan dengan wartawan/media yang ada.  Hubungannya, selain  person to person,  juga person to institusi serta institusi to institusi. Dan ketiganya harus dijaga secara seimbang. Maknanya, PR mesti memahami dan menghormati policy di setiap media yang menjadi relasinya, termasuk misalnya, tentang larangan menerima amplop oleh sejumlah media. Karena, sebuah relationship akan membuahkan hasil yang baik, jika dilakukan secara konsisten, saling memahami. 

3. Yang jelas, setahu saya, tidak semua wartawan suka diberi amplop. Terlepas medianya punya policy yang melarangnya menerima amplop atau tidak.

4. Setahu saya juga, wartawan ketika datang di sebuah jumpa pers pun (mesti sudah dikasih amplop) tidak bisa menjanjikan apakah hasil konferensi pers itu bisa dimuat sebagai berita ataupun tidak. Setiap media memiliki kriteria layak berita. Karenanya sangat penting memberikan news value pada key message. Sehingga ketika press conference itu dimuat di media, karena memang memiliki news value, bukan karena wartawannya menerima amplop.

Mudah2an menjawab pertanyaan Dani ya. Salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Dani,  kebetulan saya juga pernah jadi wartawan. Dan saya tahu  masalah amplop memang selalu menjadi soal sensitif, sejak dulu sampai sekarang tentunya. </p>
<p>Yang jelas, kalau masalah amplop, sebenarnya tergantung kebijakan dari perusahaan masing-masing. Mau memutuskan memberi atau tidak. Namun, yang penting adalah,  konsistensinya dalam  menjalankan kebijakan tersebut. </p>
<p>1.Karena, apapun sebenarnya pekerjaan ini menyangkut RELATIONSHIP dan PARTNERSHIP. Dan itu sebenarnya tidak bisa diubah begitu saja menjadi TRANSAKSIONAL. Karena keduanya memiliki value yang berbeda, dan tentu hasilnya pun juga akan berbeda. </p>
<p>2.PR bekerja dan melakukan  relationship atas nama perusahaan. Bisa jadi pelakunya tidak selamanya berada di situ, tapi perusahaan tersebut akan terus ada, dan terus &#8220;menjalani&#8221; hubungan dengan wartawan/media yang ada.  Hubungannya, selain  person to person,  juga person to institusi serta institusi to institusi. Dan ketiganya harus dijaga secara seimbang. Maknanya, PR mesti memahami dan menghormati policy di setiap media yang menjadi relasinya, termasuk misalnya, tentang larangan menerima amplop oleh sejumlah media. Karena, sebuah relationship akan membuahkan hasil yang baik, jika dilakukan secara konsisten, saling memahami. </p>
<p>3. Yang jelas, setahu saya, tidak semua wartawan suka diberi amplop. Terlepas medianya punya policy yang melarangnya menerima amplop atau tidak.</p>
<p>4. Setahu saya juga, wartawan ketika datang di sebuah jumpa pers pun (mesti sudah dikasih amplop) tidak bisa menjanjikan apakah hasil konferensi pers itu bisa dimuat sebagai berita ataupun tidak. Setiap media memiliki kriteria layak berita. Karenanya sangat penting memberikan news value pada key message. Sehingga ketika press conference itu dimuat di media, karena memang memiliki news value, bukan karena wartawannya menerima amplop.</p>
<p>Mudah2an menjawab pertanyaan Dani ya. Salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
