<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Jogja di kala liburan</title>
	<atom:link href="http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/</link>
	<description>it's me</description>
	<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 01:13:15 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: indraz</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/#comment-233078</link>
		<dc:creator>indraz</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Sep 2008 04:30:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/#comment-233078</guid>
		<description>Membangun pariwisata memang harus terintegrasi. Tidak bisa berjalan sendirian. Cerita Mbak Vlisa tentang pengalaman penggunaan hotel menjadi satu cerita dari sisi konsumen yang menarik.
Promosi dan potensi daerah yang baik akan membangun ekspektasi konsumen. Ketika konsumen memutuskan untuk mencoba membuktikan harapan dan ekspektasinya, pertaruhan terjadi. Bisa jadi konsumen puas karena ekspektasinya terpenuhi, atau sebaliknya, malah jadi mutung karena merasa kecewa. Disini peran hotel dalam melayani tamu, keberadaan seorang sopir becak, pedagang bakpia dan kaos lokal DAGADU pun, bisa menjadi penentu puas atau mutungnya konsumen.

Itu adalah cerita dari Jogja, ada yang mempunyai cerita dari SOLO? Apa yang anda tahu mengenai Solo? 

Kami di Solo sedang berusaha mengejar ketertinggalan kami dari Jogja. 

Salam,
SOLO "the Spirit of Java"</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Membangun pariwisata memang harus terintegrasi. Tidak bisa berjalan sendirian. Cerita Mbak Vlisa tentang pengalaman penggunaan hotel menjadi satu cerita dari sisi konsumen yang menarik.<br />
Promosi dan potensi daerah yang baik akan membangun ekspektasi konsumen. Ketika konsumen memutuskan untuk mencoba membuktikan harapan dan ekspektasinya, pertaruhan terjadi. Bisa jadi konsumen puas karena ekspektasinya terpenuhi, atau sebaliknya, malah jadi mutung karena merasa kecewa. Disini peran hotel dalam melayani tamu, keberadaan seorang sopir becak, pedagang bakpia dan kaos lokal DAGADU pun, bisa menjadi penentu puas atau mutungnya konsumen.</p>
<p>Itu adalah cerita dari Jogja, ada yang mempunyai cerita dari SOLO? Apa yang anda tahu mengenai Solo? </p>
<p>Kami di Solo sedang berusaha mengejar ketertinggalan kami dari Jogja. </p>
<p>Salam,<br />
SOLO &#8220;the Spirit of Java&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Vlisa</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/#comment-230158</link>
		<dc:creator>Vlisa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 04:02:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/#comment-230158</guid>
		<description>Yang saya lihat di beberapa kota masih postif. Semisal di Bandung, Surabaya dan Bali. Di hotel, di tempat belanja,  dan tempat makan, ukuran sederhana untuk melihat pertumbuhan ekonomi masih ramai. Namun, saya tidak tahu, apakah spending nya masih tetap atau cenderung turun. Karena, contoh lain, sebagai perbandingan. Saat Indonesia Cellular Show beberapa minggu lalu di JCC, atau Mega Bazar beberapa bulan lalu di tempat yang sama, terjadi penurunan. Jumlah pengunjung tetap membludag, namun sales turun. Tidak setinggi tahun lalu. 

Karena, saya setuju dengan pendapat sampeyan, agar bagaimana POSITIVE JOURNALISM terus dikembangkan, untuk membangun kecerian  kembali negeri ini, dan optimiste masyarakat. At least bisa kita mulai dari kita, kawan-kawan kita.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang saya lihat di beberapa kota masih postif. Semisal di Bandung, Surabaya dan Bali. Di hotel, di tempat belanja,  dan tempat makan, ukuran sederhana untuk melihat pertumbuhan ekonomi masih ramai. Namun, saya tidak tahu, apakah spending nya masih tetap atau cenderung turun. Karena, contoh lain, sebagai perbandingan. Saat Indonesia Cellular Show beberapa minggu lalu di JCC, atau Mega Bazar beberapa bulan lalu di tempat yang sama, terjadi penurunan. Jumlah pengunjung tetap membludag, namun sales turun. Tidak setinggi tahun lalu. </p>
<p>Karena, saya setuju dengan pendapat sampeyan, agar bagaimana POSITIVE JOURNALISM terus dikembangkan, untuk membangun kecerian  kembali negeri ini, dan optimiste masyarakat. At least bisa kita mulai dari kita, kawan-kawan kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Blog Strategi + Manajemen</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/#comment-229948</link>
		<dc:creator>Blog Strategi + Manajemen</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 23:36:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/07/02/jogja-dikala-liburan/#comment-229948</guid>
		<description>Beberapa indikator kesehatan ekonomi negeri (selain angka-angka statiskik yang "kering" itu) adalah sbb:
1. Kalau DAGADU masih antri, berarti ekonomi masih baik
2. Kalau para tukang becak di sepanjang Malioboro senyam senyum, berarti ekonomi masih terus menggeliat.
3. Kalau bakpia pathuk masih terus kemebul, ya ekonomi berarti terus melesat. 

Dan melihat cerita sampeyan, rasa-rasanya tiga hal diatas terus terjadi dengan mulus. 

Fenomena itu mestinya yang harus terus di blow up oleh media.....bukan melulu berita "kenestapaan". Martin Seligman, pakar psikologi yang kesohor itu, pernah bilang.....kalau media terus menggedor Anda dengan berita-berita kelam, maka 'mindset of the whole society' akan rapuh dan lesu. 

Saya rasa tema tentang POSITIVE JOURNALISM kembali menemukan relevansinya yang kuat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa indikator kesehatan ekonomi negeri (selain angka-angka statiskik yang &#8220;kering&#8221; itu) adalah sbb:<br />
1. Kalau DAGADU masih antri, berarti ekonomi masih baik<br />
2. Kalau para tukang becak di sepanjang Malioboro senyam senyum, berarti ekonomi masih terus menggeliat.<br />
3. Kalau bakpia pathuk masih terus kemebul, ya ekonomi berarti terus melesat. </p>
<p>Dan melihat cerita sampeyan, rasa-rasanya tiga hal diatas terus terjadi dengan mulus. </p>
<p>Fenomena itu mestinya yang harus terus di blow up oleh media&#8230;..bukan melulu berita &#8220;kenestapaan&#8221;. Martin Seligman, pakar psikologi yang kesohor itu, pernah bilang&#8230;..kalau media terus menggedor Anda dengan berita-berita kelam, maka &#8216;mindset of the whole society&#8217; akan rapuh dan lesu. </p>
<p>Saya rasa tema tentang POSITIVE JOURNALISM kembali menemukan relevansinya yang kuat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
