<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Menanti Edukasi Pelanggan</title>
	<atom:link href="http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/</link>
	<description>it's me</description>
	<pubDate>Fri, 18 May 2012 08:22:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
		<item>
		<title>By: Matthew C. Kriner</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-241594</link>
		<dc:creator>Matthew C. Kriner</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Mar 2011 11:04:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-241594</guid>
		<description>Banking is generally a highly regulated industry, and government restrictions on financial activities by banks have varied over time and location. The current set of global bank capital standards are called Basel II. In some countries such as Germany, banks have historically owned major stakes in industrial corporations while in other countries such as the United States banks are prohibited from owning non-financial companies. In Japan, banks are usually the nexus of a cross-share holding entity known as the keiretsu. In Iceland banks had very light regulation prior to the 2008 collapse.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Banking is generally a highly regulated industry, and government restrictions on financial activities by banks have varied over time and location. The current set of global bank capital standards are called Basel II. In some countries such as Germany, banks have historically owned major stakes in industrial corporations while in other countries such as the United States banks are prohibited from owning non-financial companies. In Japan, banks are usually the nexus of a cross-share holding entity known as the keiretsu. In Iceland banks had very light regulation prior to the 2008 collapse.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: reza yazdi</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-72776</link>
		<dc:creator>reza yazdi</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 25 Apr 2008 01:35:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-72776</guid>
		<description>Bu Lisa,

Mohon ada pihak XL yang memperhatikan.
Tulisan di blog saya :
http://reza.yazdi.or.id/berhenti-berlangganan-rbt-nada-tunggu-nada-sambung-xl/
Dari saat menulis sampai saat ini sudah lebih dari 2000 yg membaca.
Komentar-komentar nya sekarang semakin hari semakin pedas.
Tolong diperhatikan oleh XL.


Fyi. Tulisan tersebut sengaja saya SEO (on page), agar di beberapa keyword, saat digoogling ada di halaman pertama.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bu Lisa,</p>
<p>Mohon ada pihak XL yang memperhatikan.<br />
Tulisan di blog saya :<br />
<a href="http://reza.yazdi.or.id/berhenti-berlangganan-rbt-nada-tunggu-nada-sambung-xl/" rel="nofollow">http://reza.yazdi.or.id/berhenti-berlangganan-rbt-nada-tunggu-nada-sambung-xl/</a><br />
Dari saat menulis sampai saat ini sudah lebih dari 2000 yg membaca.<br />
Komentar-komentar nya sekarang semakin hari semakin pedas.<br />
Tolong diperhatikan oleh XL.</p>
<p>Fyi. Tulisan tersebut sengaja saya SEO (on page), agar di beberapa keyword, saat digoogling ada di halaman pertama.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: EnWui</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-628</link>
		<dc:creator>EnWui</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Apr 2008 07:41:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-628</guid>
		<description>komentar dari forumponsel :


http://www.forumponsel.com/forum/showflat.php?Number=1463095&#38;page=0&#38;sb=5&#38;fpart=1#Post1463178</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>komentar dari forumponsel :</p>
<p><a href="http://www.forumponsel.com/forum/showflat.php?Number=1463095&amp;page=0&amp;sb=5&amp;fpart=1#Post1463178" rel="nofollow">http://www.forumponsel.com/forum/showflat.php?Number=1463095&amp;page=0&amp;sb=5&amp;fpart=1#Post1463178</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Agus Purwadi</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-595</link>
		<dc:creator>Agus Purwadi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 08:40:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-595</guid>
		<description>Kutipan dari tulisan diatas:
-------------------------------
TAK CUKUP HANYA HARGA
Secara sederhana, yang dibeli pelanggan dari produsen (operator telekomunikasi) adalah sebuah produk atau layanan, tentunya yang berkualitas. Dalam layanan yang berkualitas tersebut ada dua komponen besar: harga dan manfaat.


Saya mungkin salah satunya yang menggaris bawahi tulisan diatas.. tidak cukup dengan harga yg murah dan bahkan makin murah.. Saya tidak sepakat dengan harga yg terlalu murah, seharusnya Regulator dalam hal ini BRTI dan pemerintah segera memberikan batasan atas dan bawah tarif seluler yang berlaku di Indonesia agar operator tidak mengakali pelanggan dengan masa promo dan sebagainya.. harga yang dinginkan adalah harga realistis untuk pelanggan dan menghilangkan pengertian "dijual mahal aja yg beli berebut kenapa dijual murah.."

Sektor Telekomunikasi adalah bisnis yang sangat profit... Saat ini terkesan operator memanfaatkan kesempatan untuk meraih profit dan menambah jumlah pelanggan sebanyak-banyaknya..

Kebetulan saya menggunakan 3 kartu paska bayar jadi tidak pernah tersentuh dengan yg namanya promo karena itu hanya berlaku bagi pelanggan pra bayar saja.. hehehehe..

Salam hangat dari Jogjakarta..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kutipan dari tulisan diatas:<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
TAK CUKUP HANYA HARGA<br />
Secara sederhana, yang dibeli pelanggan dari produsen (operator telekomunikasi) adalah sebuah produk atau layanan, tentunya yang berkualitas. Dalam layanan yang berkualitas tersebut ada dua komponen besar: harga dan manfaat.</p>
<p>Saya mungkin salah satunya yang menggaris bawahi tulisan diatas.. tidak cukup dengan harga yg murah dan bahkan makin murah.. Saya tidak sepakat dengan harga yg terlalu murah, seharusnya Regulator dalam hal ini BRTI dan pemerintah segera memberikan batasan atas dan bawah tarif seluler yang berlaku di Indonesia agar operator tidak mengakali pelanggan dengan masa promo dan sebagainya.. harga yang dinginkan adalah harga realistis untuk pelanggan dan menghilangkan pengertian &#8220;dijual mahal aja yg beli berebut kenapa dijual murah..&#8221;</p>
<p>Sektor Telekomunikasi adalah bisnis yang sangat profit&#8230; Saat ini terkesan operator memanfaatkan kesempatan untuk meraih profit dan menambah jumlah pelanggan sebanyak-banyaknya..</p>
<p>Kebetulan saya menggunakan 3 kartu paska bayar jadi tidak pernah tersentuh dengan yg namanya promo karena itu hanya berlaku bagi pelanggan pra bayar saja.. hehehehe..</p>
<p>Salam hangat dari Jogjakarta..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: counterpulsa.com</title>
		<link>http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-571</link>
		<dc:creator>counterpulsa.com</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Mar 2008 03:20:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://vlisa.com/2008/03/31/menanti-edukasi-pelanggan/#comment-571</guid>
		<description>[...] Sumber http://vlisa.com [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Sumber <a href="http://vlisa.com" rel="nofollow">http://vlisa.com</a> [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

