Hot Spot Gratis Juga Perlu Strategi Pemasaran

Ratusan hotspot tak mampu pikat pengguna internet Jatim. Judul tulisan di detiknet Jumat lalu sangat menggelitik. Bayangkan, dalam kurun enam bulan Telkom berhasil memasang hot spot atau jaringan internet nirkabel ini di 38 alun-alun di kota dan kabupaten serta di 300 titik kota Surabaya yang tersebar di mal, sekolah dan tempat-tempat umum. Sebuah usaha yang layak diacungi jempol. Namun, hasil evaluasinya dianggap mengecewakan.

Mengapa? Communication Manager Telkom Jawa Timur Djadi Soegiarto mengatakan dari pertengahan hingga akhir tahun 2007, peningkatan penetrasi internet di Jawa Timur tidak sampai 1 persen.

“Peningkatannya tidak signifikan, padahal gratis,” ujarnya.

Lho? Benarkah penyediaan infrastruktur otomatis meningkatkan pemakain internet? Mestinya dua hal yang berbeda. Penyediaan infrastruktur di satu sisi, semestinya diukur dengan aksesabilitas dan kemampuan teknis lainnya dari peralatan yang dipasang.

Untuk meningkatkan pengguna internet, bukan cuma dengan menyediakan infrastruktur, tapi lebih pada mensosialisasikan manfaat penggunaan internet serta tutorial mengakses internet.

Mencermati ikhwal hot spot ini saya jadi ingat pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika beberapa saat lalu. ”Semua alun-alun di 38 kabupaten/kota telah terpasang, kita hanya menunggu pemanfaatan oleh masyarakat, jika nanti banyak yang memanfaatkan, maka kami minta pihak Telkom memperluas jaringannya,” ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh pada 20 Desember 2007, seperti dikutip sejumlah media.

Dia menjelaskan, dari 73 ribu desa di Indonesia, yang belum tersambung jaringan mencapai 38 ribu desa. Target nasional pada 2008-2009 semua kabupaten/kota di Indonesia akan terpasang hot spot dan tersambung jaringan internet.

Mungkin saja masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa program internet alun alun kurang berhasil, karena baru berjalan sekitar satu bulan. Dan seperti disampaikan oleh Telkom, bahwa sosialisasi pemanfaatan internet ini sendiri masih kurang.

Indikasi awal ini tentu menarik dikaji, apalagi bila ke depan Telkom maupun provider internet lainnya, serta pemerintah ingin menginternetkan masyarakat Indonesia, seperti yang telah dicanangkan di atas.

PERAN MARKETING

Internet, termasuk hot spot, tak beda jauh dengan consumer product, memerlukan konsep pemasaran yang tepat ketika mau dibawa masuk ke pasar. Diawali dengan penetapan strategi STP (Segmentation, Targeting dan Positioning) yang kemudian diterjemahkan dalam 5P (Product, Price, Promotion, Place, Packaging) nya sebagai taktiknya.

Pemasangan sambungan internet nirkabeldi alun-alun ini, menurut Menkominfo adalah merupakan, “Langkah awal untuk membawa masyakarat Indonesia menuju masyarakat informasi.”

Sebuah cita-cita yang baik, hanya memang perlu diterjemahkan dalam tahapan-tahapan yang sesuai dengan sasaran masyarakat yang bakal dituju. Agar pada akhirnya tujuan mulia itu bisa tercapai. Karena memang agak susah jika sasarannya langsung dibuat massal: menjangkau semua lapisan pasar. Apalagi yang ingin diperkenalkan adalah produk yang bermuatan teknologi tinggi, bukan sekedar mengajar masyarakat untuk mencuci tangan, seperti yang diajarkan sebuah produsen sabun.

Saya sempat berbincang dengan sejumlah kawan di Surabaya yang merupakan sasaran “pasar” hot spot gratis tersebut.

Dari sisi P pertama, produk, sambungan internet yang dipasang di alun-alun kurang mampu mengakomodir need pengguna internet karena koneksinya lambat, berkisar 20 Kbps.

Dari sisi P kedua, place atau tempat. “Siapa yang mau bawa laptop dan akses internet di alun-alun. Rasanya ya ndak nyaman (dari panas serta hujan) dan ndak aman,” kata Herry SW, pengamat dan praktisi bidang ICT di Jawa Timur ini. Apalagi, alun-alun Taman Bungkul Surabaya, kabarnya dikenal sebagai tempat yang tidak aman.

Alun-alun selama ini memang dikenal sebagai meeting point masyarakat (tradisional). Lalu, apakah masyarakat tradisional yang notebene biasa memanfaatkan alun-alun antara lain untuk mencari makanan klangenan, yang menjadi target pengguna hotspot. Mereka yang diharapkan menenteng laptop atau gadget lainnya ke alun-alun dan mengarungi Internet?

Pemilihan P/place yang merupakan tempat pertemuan masyarakat sebenarnya sudah benar. Namun, ketika kita bicara memasarkan produk ICT, tentu perlu dicari P atau area pertemuan yang lebih sesuai dengan karakter produk, tempat orang bertemu-berkumpul, aman dan syukur-syukur juga nyaman.

Seperti di Singapore, misalnya. Hot spot dibangun dan diberikan secara gratis untuk pengguna di titik-titik di mana masyarakat bertemu dan berinteraksi secara digital, seperti di cafe, tempat-tempat clubbing, apartemen, hotel, dan sejumlah stasiun MRT yang kategori interchange seperti Cityhall, Changi, dan lainya.

Kemudian P yang lain, promotion. Dalam konteks ini sejauh mana promosi/sosialisasi dan edukasi yang sudah dilakukan atas fasilitas ICT yang sudah dipasang ini. Dari apa itu jaringan internet tanpa kabel, bagaimana memanfaatkannya, peralatan apa yang diperlukan untukmengaksesnya, gratis atau berbayar, sampai dimana saja hotspot tersebut di pasang. Karena, layanan gratis pun belum tentu diminati masyarakat, apabila memang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dituju.

MENJUAL INTERNET SEBAGAI ALAT INFORMASI

Sungguh ideal memang jika nantinya segala lapisan masyarakat di Indonesia bisa memanfaatkan internet tanpa kabel untuk pelbagai kepentingan: ekonomi, pendidikan, sosial, dan lainnya. Dari aspek segmen –- jika kita bicara negara Indonesia -– ini sangat variatif baik secara demografi maupun psikografi. Dari golongan atas, menengah dan bawah. Dari golongan yang sangat mampu, sedang-sedang saja, atau yang masih berpikir besok harus makan apa.

Menjual internet untuk tujuan seperti ini memang perlu dilakukan tahapan. Jika menggunakan istilah marketing, dipilih segmen dan target yang paling memungkinkan (dan hasilnya maksimal). Dalam konteks, segmen ini tidak saja dibidik untuk menjadi pengguna, tapi nantinya mereka bisa menjadi influencer untuk masuk ke segmen dan target yang lainnya.

Misalnya, internet sebagai produk jasa yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian rakyat pedesaan. Atau internet sebagai sarana interaksi sosial, dimana masyarakat bisa secara cepat memperoleh info tentang bahaya endemi flu burung, demam berdarah, bahaya AIDS, narkoba, dan sebagainya.

Jika STP sudah ditetapkan, semisal internet untuk peningkatan ekonomi masyarakat menengah bawah atau UKM. Maka fasilitas hotspot atau akses internet gratis bisa ditempatkan di titik-titik dimana segmen tersebut bertemu berinteraksi, atau beraktifitas termasuk mencari informasi. Selanjutnya, bagaimana mentransformasi aktifitas tradisional menjadi berbasis digital. Disinilah peran promosi dan sosialisasi diperlukan.

Masalahnya sekarang sudahkah Segmentation (S) Targeting (T) dan Positioning (P) dari ’produk’ hotspot tersebut didefinisikan secara tepat? Upaya sosialisasi apa yang telah dilakukan untuk memberitahukan kepada publik (sasaran pasar) tentang keberadaan dan manfaat produk tersebut? Kalau mau lebih sempurna bisa saja ditambah dengan riset seberapa banyak pemilik laptop dan gadget di wilayah itu yang sudah memakai fasilitas wi-fi atau hot spot ready.

22 Responses

  1. 7 January 2008 at 8:33 am

    Memang benar kalo nggak laku. Di alun2 kota saya, dulu ada spanduknya, free hotspot by speedy, tapi sekarang sudah ndak ada lagi. Teman2 saya pikir, sekarang sudah ndak gratis lagi karena ndak ada spanduknya itu.

    Disamping itu kadang2 untuk beberapa laptop yang menggunakan chipset broadcom sebagai engine WLAN-nya nggak bisa join ke hotspotnya.

    ** lagi nunggu XL bikin free hotspot **

    Btw, salam kenal bu dari anak muda yang lagi belajar ICT.

  2. 7 January 2008 at 9:32 am

    harusnya telkom jangan hanya kasih gratis Hot Spot. Tapi juga kasih laptop gratis. Biar penetrasinya tidak mengecewakan. Buat apa kasih hotspot gratis tapi ga ada yang punya laptop? Hehehe…
    Maaf, jika komen ini dianggap ngejunk, silahkan dihapus.
    btw, nice blog.

  3. 7 January 2008 at 9:55 am

    ulasannya sangat bagus. Saya kagum pada penulis ini. Saya juga lagi demen2nya dolanan internet. Tapi sayang yang bisa diakses nyampe rumah2 masih mahal untuk ukuran kantong masyarakat kita. Gimana mau pasang internet bila lengganannya aja masih sampai 200 ribu. Mungkin besuk kalau udah turun / bulan Rp. 20 ribu saya baru mo pasang. Untung saya bisa pakai fasilitras kantor. sedang yang lain?. Gratisnya sayang ngga tepat, masak di alon2 mau bawa leptop. Mending bawa bola sama anak2 bisa ngilangin stres. Tolong Telkom turunin harga langganannya sesuai kantong masyarakat kita. Ngga gratis ngga apa2 asal terjankau. Soalnya masyarakat kita ngga mau gratis (atau gengsi kali yang gratis) Lihat aja pengalaman BKKBN tahun delapanpuluhan yang lalu nggratisin kondom, ngga ada yang mau. tapi saat ini saat kondom dijual bebas dengan berbagai harga. Ternyata laku keras. Nah kalau ada beberapa penyedia jaringan internet yang bersaing sehat dan memberikan layanan murah dan bagus (bukan gratis lagi lo), tentu masyarakat kita akan lebih familier terhadap IT.

  4. 7 January 2008 at 10:07 am

    Ulasan yang menarik. Memang apapun produkna, awalnya harus dibidik dengan STP dulu, kemudian memilih strategi 4P yang tepat. Sedikit tambahan, perlu dilihat juga, apakah di daerah sudah sedemikian banyaknya orang yang memiliki laptop ber wi-fi ataupun gadget ber wi-fi ? apalagi dibawa-bawa ke alun2 ? Jadi memang entry barriernya cukup tinggi. Saya kira daripada bagi-bagi bandwidth via hotspot di daerah, lebih baik bandwidthnya dibagi-bagi ke sekolah-sekolah di daerah 🙂 Tapi anyway Telkom kan perlu flagship program juga, nah hotspot ini kan cukup heboh

  5. 7 January 2008 at 10:56 am

    coba pasangnya di Jakarta ya.

  6. 7 January 2008 at 11:30 am

    jadi inget, pas mudik lebaran kemaren, tiap malem saya dan suami nongkrong di alun2 kota probolinggo, mnfaatin hotspot gratis. yang saya bayangin, mestinya alun2 rame kalo malem, banyak yg main internet. ternyata enggak. ya cuma saya n suami yg nongkrong di situ, online sendiri2, diliatin orang2 lewat 😀

    salam kenal, mbak. saya venus, blogjumping dari ndorokakung 🙂

  7. 7 January 2008 at 11:51 am

    Betul. Marketing itu ujung tombaknya. Kalo infrastruktur lengkap tapi calon customer ga tau ya podo wae.
    Salam kenal mba lisa…Sama seperti mba venus, saya juga blogrunning dari ndorokakung 😀

  8. 7 January 2008 at 12:48 pm

    Bagi orang awam, hotspot itu sampah.
    Masa mau pake fasilitas publik harus beli laptop dulu? Itupun mereka nggak tau apa manfaatnya.

    Jadi memang benar, sosialisasi tentang kegunaan internet jauh lebih dibutuhkan daripada pemberian pedang tapi tidak disertai ilmu pedang.

    Salam kenal Mbak.

  9. 7 January 2008 at 1:47 pm

    bagus analisis nya…
    semua product memang harus dipasarkan kalau emang mau “dijual”
    masalah nya telkom itu mau “jual” ndak hotspot nya.

    mungkin Goal proposalnya emang bilang untuk pemasangan hotspot bukan orang bisa pakai internet kali ya…

    salam..

    ini bagian dari penggemar gelap ndorokakung

  10. 7 January 2008 at 3:05 pm

    Thanks infonya yg menarik. Salam kenal mbak Lisa. Seperti yg lain, sya juga blogjumping dari ndorokakung 🙂

  11. sie-sie
    Reply
    7 January 2008 at 6:07 pm

    Cak Nuh, mestinya sampean baca blog ini. Biar niat baik sampean bener-bener kejadian: menginternetkan masyarakat, bukan cuma pasang hotspot yang salah tempat alias tidak bermanfaat.
    Jeng lisa sampean kirim posting ini ke cak Nuh saja, gimana? Bravo.

  12. EnWui
    Reply
    7 January 2008 at 8:56 pm

    ya dari pertengahan udah ada pertanyaan dalam hati, alun-alun dan FREE hotspot wi-fi, seberapa banyak pengunjung alun-alun yang mempunyai gadget ber wi-fi? dan seberapa banyak pemilik gadget ber wi-fi yang berkunjung ke alun-alun? apalagi dengan notabene koneksi siput? btw ini ulasan yg menarik neh, apa dari telkom gak ada yg punya pikiran spt ini? atau ada tapi gak mau tau?

  13. 7 January 2008 at 10:05 pm

    nunggu leptop dan nokia n81 murah baru make hotspotan .. hehe..
    *ada yang mau tukeran n 70 saya dengan n 81*
    maap mbak lisa ngiklan.. 😀

  14. 8 January 2008 at 1:09 am

    gratis dan kencang, itu baru menarik. :d
    soal adopsi layanan secara meluas, ya tunggu sampai gadget dan laptop menjadi amat sangat murah.
    tapi eh, masa menunggu sih? 😀

  15. 8 January 2008 at 7:58 am

    wahh.. hotspot speedy.. seringkali cuman ada tulisannya.. “free hotspot powered by speedy”, tapi ngga bisa di akses krn saking lambatnya… 🙁

  16. 8 January 2008 at 1:54 pm

    “alun-alun Taman Bungkul Surabaya, kabarnya dikenal sebagai tempat yang tidak aman” [dapat info dari mana??]

    Taman Bungkul aman kok bu, aman, sungguh, bersih, indah, rapi dan aman. [salam hot spot]

  17. Sherko
    Reply
    8 January 2008 at 11:04 pm

    Salam kenal Bu..

    Ulasan yang menarik. Setuju sekali, marketing dan penyerapan teknologi harusnya di pikirkan dulu sebelum memasang lauch sesuatu.

    Saya dengar di Bandung, sudah tercipta banyak hotspot gratisan yang di sediakan pemilik toko, cafe, hotel, mall, factory outlet. Setahu saya, peminat nya banyak sekali, terutama mahasiswa.. Di Mc Donalds BIP Bandung, para mahasiswa ini tanpa sungkan beli segelas coca cola dan nongkrong seharian di lokasi hotspot Mc Donalds demi internet gratisnya. Lihat saja di hotspot punya kampus-kampus di Bandung, pasti rame peminatnya..

    Mahasiswa biasanya adalah “early adopter” technology, mereka ini yang penggila teknlogy dengan budget seadanya.. Hehehe.. Akses 20Kbps tidak mengapa asal gratisan..! Kebiasaan mahasiswa ini beda sama para profesional, atau orang kantoran yang tidak masalah membayar sedikit mahal, asal bisa akses internet dengan cepat dan nyaman.

    Para “early adopter” seperti mahasiswa ini, menurut saya sebaiknya jadi sasaran awal pemasaran hotspot di Surabaya, mereka paham cara penggunaan teknology dan tidak banyak komplain kalau ada gangguan. Nanti kedepannya, merekapun bisa menjadi “agent” yang menyebarkan teknologi dan akses internet ini di kalangan lapisan masyarakat. Maanfaat akses internet di kalangan mahasiswa juga akan lebih signifikan buat perkembangan kecerdasan bangsa secara umum…

    Kurang tahu pasti, apakah kekurangan peminat hotspot di Surabaya dibandung di Bandung, berkaitan dengan jumlah mahasiswa yang suka internetan di Surabaya lebih kurang dari pada di Bandung..
    Atau bisa juga karena mahasiswa di Surabaya berperilaku sama seperti para profesional dan kelas pekerja, yang lebih suka membayar sedikit mahal asal dapat akses internet yang nyaman dan aman, sehingga free hotspot di Surabaya tidak laku..

  18. 10 January 2008 at 12:02 am

    Mbak, Lha wong goals nya mungkin gak jelas : Telkom dalam rangka CSR ataw memang ada bisnis expectation nantinya (ada hubungannya dengan palapa ring 2 nggak ya ?).
    Yang lainnya lagi juga dari kulturnya yg agak beda dengan misalnya di negara “maju” atau yang ICT minded. Clubbing, cafe lovers, etc. kan belum nyampe disitu (mungkin).
    Anyway, ulasannya menarik mbak.Salam kenal

  19. inetgretz
    Reply
    13 January 2008 at 11:45 pm

    info inet g r a t i s gsm dan cdma(bukan fren). still work 100%. call /sms pasti dibales :085642132515 no email, no YM, call/sms biar komunikasi lancar. email tidak akan dibalas. nah lo!!! hanya 100ribu!! dapat 4trik : esia, flexi, xl sama three

  20. qmal
    Reply
    14 January 2008 at 7:08 pm

    …. Saya yakin mereka (Telkom) juga tahu bahwa pasar internet tidak tercipta dengan sendirinya, tapi melalui proses yang harus dicreate, sehingga akan tercipta demand baru….
    Memperkenalkan adalah bagian dari menjual itu sendiri. Aku ingat cerita seorang penjual sepatu keliling,..yang harus memasarkan sepatunya kepada masyarakat yang belum mengenal sepatu. Bagaimana gigihnya si penjual sepatu,..memperkenalkan sepatunya sehingga orang-orang tersebut mengetahui manfaat sepatu,..alhasil orang-orang tersebut bisa pakai sepatu….Dimana pada awalnya dicemooh habis-habis2an,..”ngapain jualan sepatu pada orang yang nggak kenal sepatu”….
    Menjual barang pada market yang sudah jadi memang berbeda dengan market yang belum jadi….Kadang kita harus “nyelam dulu”. By the way Taman bungkul,..saat ini Insya Allah aman koq krn sdh lebih tertata,..apalagi sdh ada petugas satpol yang jaga,….

  21. baluap
    Reply
    21 January 2008 at 1:26 pm

    Kalau melihat program yang dilaksanakan Telkom sebenarnya sudah bagus sih…, cuma sasarannya ada sebagian yang belum kena. Betul juga sih masak orang yang biasanya bawa cangkul disuruh bawa laptop, kan susah, kalaupun mau pasti awalnya dia cuma bengong2 doang…
    Kalau utk kasus yg terjadi di surabaya mestinya ada alasan lain kenapa org gak mau/sedikit yg dtg k t4 tsb, kalau dibilang gak ngerti internet… masak sih…, kalau gak punya duit utk beli laptop…itu relatif, mungkin alasannya krn t4nya jauh kali…
    Ya lain kali Telkom harus banyak berfikir dulu sebelum melaksanakan suatu program tertentu, bukan hanya Telkom, kita juga harus begitu, terutama mas EBESS yang sptnya gak berfikir dulu sblm submit comment, masak sih topiknya A, mas EBESS k Z, trus jelek2in/memfitnah orang lagi, apapun yang dilakukan orang lain dan apalagi tujuannya utk mencerdaskan bangsa, masak harus kita fitnah dengan hal2 spt itu, apalagi anda hanya ngomong dan tidak punya bukti, ini dulu sebenarnya yang harus diperbaiki…
    Tapi utk Menkominfo dan Telkom juga, ini bisa jadi bahan masukan yang baik utk kemajuan bangsa ini… Thanks

  22. ingsun
    Reply
    11 March 2008 at 12:08 am

    Hotspot wifi di surabaya GOMBAL!!!!
    tidak bisa di akses bayar lagi !

Leave A Reply

* All fields are required

*