Selasa, 4 Desember lalu, saya berkesempatan mengajar sejumlah perwira menengah di Pusat Penerangan Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.
Materinya seputar bagaimana aplikasi komunikasi korporat di perusahaan ICT semacam XL. Dan tentunya sebagian adalah berdasarkan pengalaman saya mengelola area itu, setidaknya selama sekian tahun (hingga Juni lalu, sebelum saya migrasi ke bagian marketing).
Bagaimana rasanya mengajar di depan bapak-bapak anggota TNI?
Mengasyikkan, seru, penuh jebakan, dan asyik dong, karena saya menjadi yang paling cantik di kelas. Maklum muridnya semua perwira laki-laki.
Kelas yang berlangsung selama tiga jam itu ini ternyata lebih banyak diwarnai diskusi ICT ketimbang soal public relations. Bapak-bapak perwira TNI sangat tertarik pada berita-berita hangat tentang ICT di media massa. Dan, saya tak menyangka arahnya ke sana.
Kelas itu lama-lama berubah kayak press conference saja. Pertanyaannya beragam, dari keputusan KPPU soal Temasek dan denda sekian puluh miliar ke sebuah operator, rencana pemakaian tower bersama, tarif, keamanan jaringan, kepemilikan saham asing, desain network, hingga tentang radiasi BTS. Jujur saja, mungkin tidak semua pertanyaan bisa saya jawab secara memuaskan.
Masalah pemakaian tower bersama operator telekomunikasi memang sedang hangat dibahas oleh pihak-pihak terkait dan beritanya rutin muncul di media massa. XL sendiri memang sudah memanfaatkannya di beberapa lokasi BTS baru, misalnya di Batam.
Sebuah tower bersama memang bukan praktek yang mudah. Di suatu titik, misalnya, lokasinya mesti disesuaikan dengan desain — konfigurasi jaringan yang sudah dimiliki masing-masing operator. Bergeser sekian meter tentu saja akan mempengaruhi mapping yang sudah dibuat, dan harus ada fine tune lagi.
Para perwira itu melontarkan banyak pertanyaan kritis lain. Ada satu pertanyaan cukup kritis yang masih saya ingat sampai sekarang, yaitu apakah operator selular bisa hidup bertahan dengan situasi persaingan seperti yang terjadi saat ini? Kalau bisa, berapa lama?
Terus terang, pertanyaan itu membuat saya berpikir keras. Bagi saya, semua program marketing, promotion, dan sales yang dilakukan oleh operator sudah memperhitungkan return of investment. Hitung-hitungan bisnisnya jelas. Kongkretnya, mana ada sih bisnis yang diarahkan ke kerugian.
Bagaimana menurut Anda?


January 7th, 2008 at 2:14 pm
Saya orang awam nih bu, kalau “penerawangan” saya, kayak air mineral saja. Ada banyak merek: aqua, 2tang, ades, vit, dsbnya. Tetap survive. Bagi saya telekomunikasi sudah seperti air aja. Semua butuh.
January 14th, 2008 at 9:53 pm
setuju; menambah rezayazdi, Bu Lisa.
ICT sebagai bagian dari kehidupan dan kebutuhan hidup, maka ia mengikuti “hukum” kehidupan itu. Ia juga adalah hidup itu sendiri. Bisa survive lama sekali, tapi juga bisa mati mendadak, tergantung pada, diantaranya, pada STP –> 5P (kasus hotspot gratis alun-alun di Jatim), seperti yang sudah Ibu posting. MetroStar, ditempat kami sudah hilang dari peredaran, karena kehadiran GSM, apalagi kemudian cdma, tetapi konon ia bisa/masih hidup di tempat lain?
Oh ya, saya bilang: “diantaranya” STP, karena saya kira masih ada faktor lain, misalnya faktor keberuntungan (yang saya lihat banyak diyakini bangsa China; juga yang lain). Sudah berusaha kayak apapun, kalo peruntungannya alias nasib jelek, bisa jadi dia gak bisa ‘hidup’.
‘tul ngga, Bu??
January 28th, 2008 at 11:07 pm
bisnis yang diarahkan untk menuju kerugian mah banyak bu lisa, namanya bisnis cuci uang. prakteknya sudah sering dilakukan konglomerat kita. contohnya waktu dulu mereka rame-rame bikin bank dan menggunakan fasilitas dana masyarakat yang terhimpun untuk dipinjam groupnya sendiri. lalu duit rupiah itu dituker ke dolar dan rupiahnya rame-rame diancurin melalui spin-off berita tentang betapa tidak amannya Indonesia menjelang pergantian pimpinan nasional. lalu banknya di titip untuk di”urus” sama bank sentral. yang parah banget umumnya dapat status BBO dan dibubarkan. yang masih lumayan malah dikasih duit yang namanya BLBI. Perusahaan banknya boleh rugi, bubar sekalian kalau perlu, tapi pemilik dan pengurusnya tiong-tiong bawa dolar yang boleh dia tuker dengan rate 11.000 - 15.000 perak. mau contoh laen? lihat aja sejarah berdirinya XL mu itu.